Ekonomi
Kisruh Kenaikan Harga LPG,
BUKTI LEMAHNYA
KOORDINASI PEMERINTAH
Foto: www.loveindonesia.com
JAKARTA, SUARA GOLKAR—Sering
pemerintah mengklaim keadaan
perekonomian dan kesejahteraan
rakyat makin membaik, diiringi dengan
penyampaikan naiknya APBN yang
mencapai Rp1.840 triliun pada APBN
2014. Namun, kenaikan ini tidak
menimbulkan dampak di lapangan.
Kemiskinan bukannya berkurang,
malah jumlah orang miskin bertambah.
Data BPS pada Maret-September 2013
menunjukkan bahwa jumlah orang
miskin bertambah 480 ribu orang.
“Tak hanya itu, saat ini, rasio
gini (tingkat kesenjangan) kita naik
menjadi 0,41 dari 0,36 pada tahun
2007. Kenaikan tingkat kesenjangan
52
itu menunjukkan makin besarnya
kesenjangan antara si kaya dan
si miskin. Peningkatan tingkat
kesenjangan itu menunjukkan cita-cita
kemakmuran yang diharapkan melalui
APBN itu makin tidak tercapai,” ujar
Wakil Ketua Komisi XI dari Fraksi Partai
Golkar Harry Azhar Azis kepada Suara
Golkar di Jakarta.
“Angka koefisien kita memang
meningkat. Pada 2007 sekitar 0,36.
Sekarang 0,41. Makin mendekati
angka 1. Artinya kekayaan negara
dikuasai satu orang atau satu kelompok
saja. Sebaliknya jika mendekati angka
0 berarti kekayaan negara terbagi
rata ke seluruh rakyat. Ini berarti
kesenjangan semakin besar. Artinya
dengan pola APBN kita, membuat
kemakmuran yang menjadi cita-cita
seluruh rakyat itu tercederai. Dana
APBN kita hanya dinikmati sekelompok
orang kaya menjadi semakin kaya,”
Harry menerangkan.
Lalu mengapa dampak anggaran
yang begitu besar itu seolah-olah