Suara Golkar edisi Januari 2013 | Page 52

Ekonomi Kisruh Kenaikan Harga LPG, BUKTI LEMAHNYA KOORDINASI PEMERINTAH Foto: www.loveindonesia.com JAKARTA, SUARA GOLKAR—Sering pemerintah mengklaim keadaan perekonomian dan kesejahteraan rakyat makin membaik, diiringi dengan penyampaikan naiknya APBN yang mencapai Rp1.840 triliun pada APBN 2014. Namun, kenaikan ini tidak menimbulkan dampak di lapangan. Kemiskinan bukannya berkurang, malah jumlah orang miskin bertambah. Data BPS pada Maret-September 2013 menunjukkan bahwa jumlah orang miskin bertambah 480 ribu orang. “Tak hanya itu, saat ini, rasio gini (tingkat kesenjangan) kita naik menjadi 0,41 dari 0,36 pada tahun 2007. Kenaikan tingkat kesenjangan 52 itu menunjukkan makin besarnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Peningkatan tingkat kesenjangan itu menunjukkan cita-cita kemakmuran yang diharapkan melalui APBN itu makin tidak tercapai,” ujar Wakil Ketua Komisi XI dari Fraksi Partai Golkar Harry Azhar Azis kepada Suara Golkar di Jakarta. “Angka koefisien kita memang meningkat. Pada 2007 sekitar 0,36. Sekarang 0,41. Makin mendekati angka 1. Artinya kekayaan negara dikuasai satu orang atau satu kelompok saja. Sebaliknya jika mendekati angka 0 berarti kekayaan negara terbagi rata ke seluruh rakyat. Ini berarti kesenjangan semakin besar. Artinya dengan pola APBN kita, membuat kemakmuran yang menjadi cita-cita seluruh rakyat itu tercederai. Dana APBN kita hanya dinikmati sekelompok orang kaya menjadi semakin kaya,” Harry menerangkan. Lalu mengapa dampak anggaran yang begitu besar itu seolah-olah