Suara Golkar edisi Januari 2013 | Page 49

Ekonomi LEMAH PERENCANAAN SULIT SEJAHTERA JAKARTA, SUARA GOLKAR— Ketidakseriusan pemerintah dalam menyejahterakan rakyat ternyata bukan hanya isapan jempol. Hal itu dibuktikan dengan kebijakan soal kenaikan gas elpiji (LPG). Tidak hanya itu, pemerintah juga tidak memiliki perencanaan strategis anggaran daerah. Hal ini menyebabkan upaya menyejahterakan rakyat sulit terwujud. Sebagaimana dilaporkan oleh Kemenkeu, dana daerah yang mengendap hingga akhir 2013 mencapai Rp109 triliun. Angka ini meningkat Rp10 triliun dari akhir 2012 yang tercatat sebesar Rp99,24 triliun. Bahkan melonjak signifikan dari Rp22,18 triliun pada akhir 2002. Artinya, dalam kurun 11 tahun terjadi peningkatan pengendapan anggaran daerah sebesar lima kali lipat. Ini menunjukkan tidak adanya perencanaan anggaran daerah yang dirancang secara optimal bagi kesejahteraan rakyat. Partai Golkar mendesak pemerintah, melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK), untuk segera mempublikasikan daftar pemerintah daerah (pemda) yang mengendapkan anggaran daerah. Seluruh anggaran daerah itu dikucurkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan masuk dalam pos anggaran pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Menurut Harry Azhar Azis, Wakil Ketua Komisi XI DPR dari Partai Golkar, perencanaan dan alokasi pembiayaan setiap daerah seharusnya dilakukan sebelum mata anggaran, pos kegiatan, dan total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tersebut diketok palu. Apalagi, saat ini, dalam skema penyusunan anggaran yang dikembangkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), setiap daerah disilakan mengusulkan total anggaran APBD berikut pos-pos kegiatan yang akan dilaksanakan oleh daerah tersebut. Usulan 49