JALAN PEMBANGUNAN;
BERKACA PADA NEGERI TIRAI BAMBU
Rofi Uddarojat (Pegiat Akademi Merdeka Indonesia)
H
ikayat Bangsa Cina
adalah cerita panjang
perihal umat manusia.
Bangsa ini berubah
dari sebuah imperium besar di Asia
Timur, bergolak menjadi republik,
terguncang akibat lompatan komunis
Mao, kemudian menjadi bangsa besar
yang mempraktekkan sebuah sistem
baru di abad 21; ekonomi terbuka.
Dengan sistem tersebut, pertumbuhan
ekonominya mencatatkan rekor luar
biasa dalam sejarah dunia. Dalam
waktu singkat sejak tahun 1978-2004,
PDB Cina naik dari 147,3 Milyar menjadi
1,7 triliun dollar AS, dengan angka
pertumbuhan rata-rata mencapai 9,7
persen. Yang lebih mencengangkan,
dalam kurun periode di atas orang
38
miskin Cina berkurang dari 250 juta
menjadi 26 juta saja. Traktat-traktat
perjanjian perdagangan bebas terus
dibuat sehingga barang-barang
Cina membanjiri pasar-pasar seluruh
negara di dunia. Tidak mengherankan
jika di dinding-dinding kota Beijing
banyak terukir kutipan menggelitik,
“God creates universe, the rest is
made in Cina”.
Apa yang membuat Cina berubah?
Tak bisa disangkal setelah revolusi
komunisme Mao yang berdarah-darah
itu, pemimpin Cina pasca Mao berpikir
apa yang bisa membuat bangsa
mereka benar-benar maju. Deng
Xiaoping yang kala itu menggantikan
Mao berpikir taktis saja, bila ada suatu
sistem yang terbukti berhasil di belahan
dunia lain, mengapa tidak diikuti?
Pragmatisme. Kemudian muncul lah
perkataan kucing putih-kucing hitam
yang tersohor itu, sebagai awal mula
munculnya pembangunan ekonomi
Cina.
Sejak saat itu Cina menjadi bangsa
pembangunan. Seluruh kebijakan
dalam dan luar negerinya ditujukan
kepada pembangunan ekonomi.
Di dalam negeri dibangun titiktit Z