Suara Golkar edisi Januari 2013 | Page 38

JALAN PEMBANGUNAN; BERKACA PADA NEGERI TIRAI BAMBU Rofi Uddarojat (Pegiat Akademi Merdeka Indonesia) H ikayat Bangsa Cina adalah cerita panjang perihal umat manusia. Bangsa ini berubah dari sebuah imperium besar di Asia Timur, bergolak menjadi republik, terguncang akibat lompatan komunis Mao, kemudian menjadi bangsa besar yang mempraktekkan sebuah sistem baru di abad 21; ekonomi terbuka. Dengan sistem tersebut, pertumbuhan ekonominya mencatatkan rekor luar biasa dalam sejarah dunia. Dalam waktu singkat sejak tahun 1978-2004, PDB Cina naik dari 147,3 Milyar menjadi 1,7 triliun dollar AS, dengan angka pertumbuhan rata-rata mencapai 9,7 persen. Yang lebih mencengangkan, dalam kurun periode di atas orang 38 miskin Cina berkurang dari 250 juta menjadi 26 juta saja. Traktat-traktat perjanjian perdagangan bebas terus dibuat sehingga barang-barang Cina membanjiri pasar-pasar seluruh negara di dunia. Tidak mengherankan jika di dinding-dinding kota Beijing banyak terukir kutipan menggelitik, “God creates universe, the rest is made in Cina”. Apa yang membuat Cina berubah? Tak bisa disangkal setelah revolusi komunisme Mao yang berdarah-darah itu, pemimpin Cina pasca Mao berpikir apa yang bisa membuat bangsa mereka benar-benar maju. Deng Xiaoping yang kala itu menggantikan Mao berpikir taktis saja, bila ada suatu sistem yang terbukti berhasil di belahan dunia lain, mengapa tidak diikuti? Pragmatisme. Kemudian muncul lah perkataan kucing putih-kucing hitam yang tersohor itu, sebagai awal mula munculnya pembangunan ekonomi Cina. Sejak saat itu Cina menjadi bangsa pembangunan. Seluruh kebijakan dalam dan luar negerinya ditujukan kepada pembangunan ekonomi. Di dalam negeri dibangun titiktit Z