Suara Golkar edisi Januari 2013 | Page 39

untuk menjadi poros pertumbuhan di Asia. Modal utama yang sangat nampak di pelupuk mata adalah bonus demografi. Demografi di negara seperti India dan Indonesia didominasi oleh angkatan kerja produktif yang siap kerja. Sehingga bila investasi datang, telah siap mengisi posisiposisi yang diperlukan. Ini berbeda dengan negara-negara barat yang sudah mengalami aging population, dimana angkatan tua mendominasi postur kependudukan mereka. Walaupun begitu, peluang bonus demografi ini bukan tanpa batas waktu. Pada tahun 2030 diperkirakan demografi Indonesia akan mulai mengalami aging population, sehingga momentum pertumbuhan dan pembangunan ekonomi bisa terlewat. Idealnya, pada tahun tersebut Indonesia sudah menjadi negara maju, berdevisa tinggi, dan kemakmuran sudah tinggi serta merata. Maka, tidak ada pilihan lain; Indonesia harus segera memilih jalan pembangunan sekarang. Momentum ini tidak boleh terlewatkan. Istilah ‘pembangunan’ sudah sering didengungkan sejak masa orde baru. Walaupun begitu, pembangunan yang dilakukan oleh orde baru masih merupakan pembangunan yang artifisial dan rapuh, belum mengikuti gaya pembangunan ekonomi ala Cina. Pembangunan orde baru menjadikan hutang luar negeri sebagai pondasi ekonomi. Berbeda dengan Cina yang mengandalkan investasi luar negeri sebagai pondasi ekonomi mereka. Dua pendekatan ini, yang diambil oleh Indonesia masa orde baru dan Cina pasca Mao menghasilkan output ekonomi yang berbeda. Cina menghasilkan pertumbuhan dan pembangunan yang luar biasa. Dalam jangka panjang, investasi juga akan mengubah orientasi ekonomi-politik dalam negeri yang bebas korupsi dan efisien. Karena bila tidak bebas korupsi, maka investasi akan lari ke negara lain. Sebaliknya, hutang luar negeri sangat rawan terhadap praktek korupsi. Negara pendonor tidak terlalu peduli untuk apa uang tersebut digunakan. Sehingga hutang luar negeri menjadi disinsentif bagi tumbuhnya perilaku politik bersih di masa depan. Walaupun begitu, beberapa kebijakan di masa orde baru layak diterapkan kembali, salah satunya penerapan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang hilang sejak masa reformasi. Pembangunan ekonomi yang kuat membutuhkan kebijakan yang dilakukan terus menerus, tidak terbatas pada satu, atau dua periode saja. Keunggulan ekonomi Cina juga berasal dari konsistensi kebijakan yang terus dilakukan oleh presiden-presidennya. Berbeda dengan Cina yang bersistem partai tunggal, Indonesia bisa menerapkan hal tersebut melalui kesepakatan di Parlemen. dengan demokrasi dan kebebasan politik, Indonesia harus siap melaksanakan jalan pembangunan demi kesejahteraan rakyat. Kita juga harus sudah meninggalkan paradigma lama, yang menyatakan bahwa pembangunan lebih baik dilakukan dengan cara dan sistem otoriter. Tidak. Data empiris membuktikan bahwa meningkatnya indeks demokrasi akan sangat membantu demokrasi yang berkualitas. Tulisan David Epstein di American Journal (2006) menyatakan bahwa pada kurun waktu 1972-2003 indeks demokratis bisa memberikan sumbangan positif maupun negatif pada PDB suatu negara. Dalam demokrasi yang sudah berkualitas, institusi-institusi pemerintah yang bertugas menangani permasalahan sosial akan siap menghadapi gejolak-gejolak ekonomi dan dampak negatifnya terhadap masyarakat. Pengambilan kebijakan yang otoriter dan sentralistik akan sangat bergantung pada beberapa individu saja dan cenderung kurang memperhatikan aspek-aspek lain. Demokrasi memberi ruang yang lebih luas, sehingga pengambilan kebijakan melihat semua sisi dalam masyarakat: kepentingan dunia usaha, lapisan kalangan bawah, aspek jangka Pembangunan Di Era Demokrasi panjang, media, partai politik, dan Kekuatan orde baru kelak menjadi seterusnya. Demokrasi memberikan kelemahannya sendiri. Kekuatan jalur yang lebih aman bagi jalan untuk memerintah secara mutlak pembangunan. menimbulkan penyelewengan kekuasaan yang berakibat korupsi. Kita sudah ramai-ramai mengoreksi itu semua pada 1998 dengan mengusung agenda reformasi. Kini 39