Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 414 Tahun 2013 | Page 88

88 perhatian dari masyarakat baik TK, SD, SMP, SMU, Mahasiswa dan masyarakat umum lainnya. Tiga hari rasanya cukup buat persinggahan sebuah kapal yang akan meneruskan perjalanan berikutnya, menerjang Samudra Pasifik yang sangat terkenal ganasnya. TNI AL tentu saja paham dengan cuaca di samudra ini, di samping cuaca yang tidak bersahabat yang disiapkan tentu saja mental dalam menghadapi ombak/angin kencang. Bermodal pengalaman pelayaran 2007 saat menyeberang Samudra Pasifik, saat itu begitu lepas perariran Jayapura kapal langsung di sambut dengan ombak besar hingga 7-8 meter diikuti hujan rintik-rintik dan mendung yang selalu mengiringi jalannya kapal. Pada pelayaran kali ini juga sama besar ombaknya bahkan sepanjang perjalanan menuju Republik Marshall (Kwajalein) ombak besar tiada henti-hentinya hingga jangkar haluan berubah bak sebagai penabuh beduk dangdung terus. Kapal latih Dewaruci sepertinya telah menemukan teman bermain di lautan nan luas, berayun kanan-kiri haluan buritan bagai tarian india, indah bagi yang tidak mabuk laut, tapi tentu tarian indah tersebut akan membuat sakit kepala berkepanjangan dan mual perut bagi yang mabuk laut. Sesampainya di Kwajalein orang pertama yang menyapa saya adalah seorang wanita setengah umur, dia ingat saya, ucapnya selamat datang kawan, dulu Anda pernah kesini! Hati saya terhentak kok masih ingat saya ya orang ini, kemudian saya pun berpikir, memang benar orang ini adalah Pilot pelabuhan satu-satunya di Kwajalein. Setelah merapat Athase Laut Kolonel Laut (KH) Anwar Saadi sangat mengerti kondisi para prajurit KRI Dewaruci, semua langsung diajak makan bersama di ruang makan Base Came US Army Kwajalein. Selain liputan kegiatan olahraga persahabatan saya juga memberikan informasi/publikasi ke tanah air melalui internet di perpustakaan US Army. Tanpa kesulitan saya langsung menuju tempat dunia maya karena sudah mengetahui lebih