Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 414 Tahun 2013 | Page 89
1.
berita dibutuhkan pengorbanan,
mau jalan kaki jauh tujuh hingga
delapan kilo meter demi cari WiFi
untuk kirim berita ke tanah air,
bahkan tengah malam saya harus
jalan kaki. Semua terasa indah
bila sudah ketemu karena saya
di samping bisa kirim berita bisa
kontak anak dan istri dengan FB
an (scaipy).
Biasanya dalam pencarian
WIFI saya ditemani wartawan
Jawa Pos Suryo Eko yang
kebetulan tugasnya sama untuk
mengirim berita. Dialah saksi
hidup bagaimana susahnya dalam
proses pengiriman berita. Namun
ada juga cara lainnya dengan
membeli kartu/pulsa sehingga
dengan modem yang kita bawa
dari tanah air kita bisa kirim, hanya
saja tidak bisa semudah itu beli
kartu perdana internet seperti di
Indonesia. Saat pembelian kartu
perdana harus
mengisi data
lengkap, foto kopi paspor dan
harus di pusat pembelanjaan.
Satu hal lagi kesan yang
tidak bisa diukur dengan sebuah
materi/kesejahteraan, saya bisa
melaksanakan
ibadah
umroh
dua kali. Disinilah sebuah nikmat
Allah SWT yang tidak dapat di
ukur dengan apapun karena
sebuah kepuasan hati terciptakan
di sini. Saat pelaksanaan umroh
gelombang pertama termasuk
saya, setelah pulang ke kapal
satu persatu personel terjangkit
sakit perut/murus perut melilit
hampir semua karena keracunan
makanan dari agen setempat.
Lagi-lagi saya bermodal
nekat pingin umroh yg kedua,
dalam keadaan sakit perut luar
biasa dan murus berkepanjangan,
saya nekat minta suntik dokter
dulu dan berangkat lagi dengan
doa mudah-mudahan selama
menjalani umroh kedua tidak
murus lagi. Alhamdulillah doa
terkabul dan murus lagi setelah
sampai kapal. Sampai-sampai
dokter berkata seandainya tahu
kalau saya mau berangkat lagi
tidak mau menyuntiknya. Karena
saya murusnya sudah kelewat
batas
hingga kapal tolak
beberapa hari masih murus.
Sesampainya di tanah air
sebuah kepuasan telah melaksanakan tugas dengan baik,
ini dapat terlihat dari upacara
penyambutan baik di Jakarta
maupun di Surabaya yang
sangat istimewa, tidak seperti
tahun-tahun sebelumnya.
Sebuah
penghargaan
diberikan kepada saya oleh
Wakasal (saat itu) Laksamana
Madya TNI Marsetio, M.M., satu
tiket untuk mengikuti susulan
pendidikan calon perwira yang
saat itu sudah berlangsung
satu minggu di Kobangdikal,
namun karena ada persyaratan
yang tidak terpenuhi sehingga
akhirnya tidak jadi. Saya sudah
merasa tersanjung dan tetap
bangga dengan penghargaan
itu. Menurut Asisten Personalia
Pangarmatim Kolonel Laut
(P) Eko Murwanto tentu saja
penghargaan dari pemimpin
TNI AL lainnya akan diberikan
dengan catatan tetap semangat
bekerja, loyalitas dan ikhlas
dalam
melaksanakan
tugas.©Pelda
Mes
Ahmad
Darowi
Keterangan gambar:
1. Taruna-taruna Indonesia.
2.
3.
4
5
2. Kunjungan Laksamana Madya
Marsetio, M.M. di Baltimore.
3. Open Ships di Baltimore.
4. Tarian Badinding oleh Kadet
AAL’59.
5. Saat Sa’i pelaksanaan Umroh.
Cak ????????????Q????????((??((