Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 37

terhadap sesama, saling menjaga tenggang rasa (“tepo saliro”). Dengan demikian yang disebut cantik dari luar itu tertuang di dalam tutur kata dan bahasanya dengan cara mengungkapkan sesuai dengan bahasa kalbu atau hati. Contohnya, apabila ada hal yang tidak berkenan di hati, janganlah diperlihatkan baik dalam tingkah laku maupun di dalam ucapan, cukup disimpan dalam hati dan dalam waktu yang tepat dapat diungkapkan dengan bahasa yang santun, bahkan dapat menyentuh hati. Yang kedua adalah Cantik dari dalam, yaitu harus memiliki sifat atau perilaku yang baik, tidak mudah iri, dengki terhadap siapa pun. Misalnya, tetangganya memiliki mobil baru, atau TV baru, dalam hati kecilnya sudah panas, ingin bersaing juga beli karena gengsi. Di sisi lain sikap berselingkuh, merupakan perbuatan yang sangat tercela dan bahkan akan menimbulkan berbagi rasa cinta dengan yang lain hanya tergiur oleh hawa nafsu, karena tidak mampu mengendalikan diri dalam kenikmatan sesaat. Oleh karena itu cantik dari dalam dan dari luar semuanya adalah sangat penting sebagai modal di dalam membina rumah tangga di dalam menggapai keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warrahmah yang senantiasa didambakan oleh setiap insan. Hal ini cukup beralasan, karena cantik perangai perempuan yang sekaligus sebagai Ibu Rumah Tangga, dalam mengasuh anak, semuanya adalah sebuah amanah yang nantinya harus dipertanggungjawabkan keberadaannya di hadapan Allah SWT. Menjadi ibu harus dapat membimbing putra-putrinya ke jalan yang baik dan benar, agar menjadi anak yang saleh dan salehah berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Dengan demikian seorang ibu harus memiliki kepribadian yang baik dan mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa, karena keberhasilan dalam membimbing putra-putrinya sangat bergantung kepada Ibunya. Oleh karena itu, cukup beralasan jika ada yang menyebut dasar awal di dalam komunikasi kedekatan orangtua kepada anaknya disebut dengan menggunakan “Bahasa Ibu”, bahkan karena kemuliaanya di dalam mengasuh putra-putrinya dengan tulus ikhlas, hingga Allah mengangkat derajat kaum perempuan dengan menegaskan bahwa “surga” itu terletak di bawah telapak kaki para Ibu. Betapa mulianya Ibu. Di sisi lain, ketika sahabat Nabi bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. Ya Rasulullah, siapa orang yang harus saya hormati, agungkan karna jasanya? Jawab Rasulullah, Ibumu. Lalu? Ibumu. Lalu? Ibumu. Baru Bapakmu. Berdasarkan percakapan tersebut dapat digambarkan, betapa Ibu disebut tiga kali, yang berarti Ibulah yang memiliki keistimewaan luar biasa. Oleh karena itu, jangan sampai sebagai putra putri yang soleh dan solehah, berani kepada orangtua terutama Ibu. Orang Jawa mengatakan “kualat” jika sampai durhaka. Bukankah telah banyak kisah legenda yang menceritakan putra yang durhaka kepada Ibunya, lantas menjadi sengsara hidupnya. Misalnya kisah “Si Malin Kundang”, Tangkupan Perahu dan seterusnya. Jika kita simak dan perhatikan bersama, ibu-ibu jaman dahulu yang telah berhasil membesarkan putra-putrinya menjadi warga negara Indonesia yang terhormat dan negarawan, seperti Bung Karno, Bung Hatta dan para pemimpin negara lainnya, tentu berkat jerih payah sang Ibu yang tanpa mengenal lelah telah mengandung, melahirkan, mengasuh dan membesarkan putra-putrinya dengan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih dan tak mengenal lelah. WANITA SEBAGAI ISTRI DAN MITRA KANG KINASIH Wanita disebut sebagai istri apabila terampil dalam mengelola rumah tangga. Wanita pada jaman dahulu dituntut untuk; Pertama, belajar, mengatur, menghias serta memelihara rumah tangga dan berdandan. Kedua, pandai memasak masakan yang enak dan disukai suami. Ketiga, dapat membuat jamu dengan segala macam ramuannya dan yang lebih penting lagi di dalam menerapkan di dalam kehidupan berumah tangga adalah bahwa sang istri mampu membaca tabiat suaminya. Misalnya, jika sang suami tidak suka masakan pedas, ya istri yang mengerti tentu tidak akan memasak masakan yang pedas, bahkan mau mengalah, jika kepingin pedas akan membuat sambal sendiri. Di sisi lain, jika sang suami akan bepergian dalam menunaikan tugas, maka sang istri harus dengan rela, senang, berwajah yang cerah, muka manis dan didoakan agar di dalam bertugas senantiasa dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa. Demikian juga jika sang suami telah datang dari bepergian, hendaknya sang istri menyambut kedatangannya dengan sukacita. Perempuan sebagai sang istri disebut mitra kang kinasih, karena rasa cintanya terhadap suami sama cinta dan kasih sayangnya terhadap dirinya sendiri. Dalam hal ini seorang perempuan harus dapat menutupi rahasia su ?????)5?????????????????????????)?????????????????????????)????????????????????????)?????????????????????????????)=?????????????????????????????) ??????????????Q????????((??((0