Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 38
INFO
38
hati ini memanggilmu
namamu,
karena
separuh
aku
dirimu.
Hal
ini
menandakan betapa
menyatunya
sejoli
sebagai
gambaran
menyatunya sebuah
ASA
dari
lubuk
hati
yang
paling
dalam nan terpintal
dalam
genggaman
sebuah rasa asmara.
Itulah cinta. Sulit
diungkapkan dengan
berbagai untaian kata,
yang bisa memaknai
hanyalah
sebuah
rasa.
yang baik, maka harus mengerti
betul di dalam menempatkan diri,
terutama di dalam berkomunikasi
terhadap siapa, kapan dan di
mana, sehingga mampu mengukur
diri sendiri sekaligus dapat
bercermin pada kemampuan atau
keberadaan diri sendiri. Selain itu
istri sampai-sampai diistilahkan
dengan “garwa” (baca; “garwo”)
yang artinya “sigaraning nyawa”
atau belahan nyawa, atau bisa
juga bermakna “belahan jiwa”.
Hal ini tidak terlalu berlebihan
karena merupakan gambaran
setelah menyatunya dua insan
dalam berumah tangga yang akan
mengarungi samudera kehidupan.
“Dalam
berlayar
mengarungi
samudera kehidupan yang luas,
penuh deburan ombak dahsyatnya
gelombang dan terpaan badai,
namun jika antara Nakhoda dan
Jurumudi seia sekata, bahkan
sekali layar terkembang pantang
surut untuk kembali, niscaya tepian
pantai kebahagiaan yang sangat
diidamkan oleh setiap insan akan
tergapai atas ridha Illahi Robbi ”.
Selain itu, perkembangan musisi
pada akhir-akhir ini pun turut
mengingatkan kepada kita semua,
seperti lagu Ariel Noah yang
berjudul “Separuh Aku”. Suara
Sebagai
seorang
istri,
hendaknya
harus
selalu jujur terhadap
suami, jangan berkhianat, jangan
membantah, mengeraskan hati,
membandel,
berani
kepada
suami, justru harus mau dan
mampu menerima sesuatu dengan
hati terbuka, senantiasa selalu
mensyukuri setiap pemberian
suami yang telah berusaha
membahagiakan keluarga sekecil
apapun usaha sang suami. Hal
ini sesuai ajaran Allah SWT yang
mangatakan bahwa “Jika engkau
pandai mensyukuri akan nikmat
Ku,(kata Allah), niscaya akan Aku
lipatgandakan pahala untukmu,
namun jika engkau tidak mau
mensyukuri akan nikmat Ku (kufur),
maka siksa Ku sangat pedih”. Oleh
karena itu, pandailah senantiasa
mensyukuri nikmat yang telah
dilimpahkan kepada hambaNya,
karena hingga saat ini tidak ada
satu makhluk pun yang mampu
menghitung kenikmatan yang telah
diberikan Allah kepada hambaNya.
Di sisi lain, dalam melayani suami
pun haruslah dengan hati yang
ikhlas disertai dengan rasa cinta
kasih, janganlah bersikap buruk
kepada suami, perlihatkanlah
roman cantikmu dengan muka
yang manis, setia dan hilangkan
sifat
cemberut,
bukankah
Rosulullah mengajarkan kepada
istrinya, senyumlah, berdandanlah,
bersoleklah, bahwa kecantikanmu
itu hanya untuk suamimu.
Di samping itu, seorang
istri harus menjadi penyemangat,
penunjang sang suami di dalam
melaksanakan tugas pekerjaannya
agar sukses dalam karir, sukses
dalam berkarya yang seluruhnya
dikerjakan atas dasar niat ibadah
dan berharap ridho dari Allah
SWT. Jangan sampai suami
didorong dengan tuntutan yang
tidak wajar, yang mengakibatkan
suami untuk berbuat tidak terpuji
dengan memanwaatkan jabatan
wewenang dengan tindak korupsi
yang hanya mengejar duniawi
belaka yang mengakibatkan celaka
tidak hanya di dunia, bahkan akan
dituntut di akhirat kelak. Jangan...
jangan sampai terjadi.
Coba Anda renungkan syair
deretan kata yang syarat makna
ini. Untuk Kaum Hawa. “Engkau
tercipta bukan dari kepala untuk
menjadi atasannya. Bukan pula
engkau tercipta dari kaki untuk
menjadi bawahannya. Namun
engkau tercipta dari sisiku salah
satu tulang rusukku sebelah kiri,
yang senatiasa erat melekat dalam
hati untuk menjadi pendamping
sejati, sehidup semati“. Semoga
refleksi di hari Ibu senantiasa
mengingatkan kepada kita semua,
khususnya kaum Ibu. Dirgahayu
Ibu. Jasamu kan kukenang
sepanjang waktu, bahkan takkan
lapuk karna hujan dan takkan
lekang karna mentari. Sembah
sujud kepada Ibu. Mohon dibukakan
pintu maaf yang seluas-luasnya,
karna aku belum bisa membalas
budi baik dan ketulusanmu
Ibu.
Semoga
berbahagia
kini, esok dan selamanya.©
Drs. Bambang Nurrochim, MAP.