Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 33
terakhir mereka. Benteng yang
kelak dijuluki sebagai “Gibraltar
dari Timur” tersebut resminya
bernama Fort Mills. Awalnya, Fort
Mills merupakan basis artileri
pantai AD Amerika yang di bangun
saat Perang Dunia Pertama (19141918) dan bertugas melindungi
Teluk Manila. Sebagai kubu pertahanan, antara satu kubu dengan
kubu meriam lainnya dihubungkan
oleh sebuah lorong bawah tanah
yang memanjang dari timur ke
barat dengan panjang 253 m, lebar
7,3 m, dan tinggi 5,5 m, bernama
Malinta Tunnel.
Jepang mengawali invasinya ke Filipina pada 8 Desember
1941, tepat sehari setelah serangan ke Pearl Harbor. Meskipun pasukan Amerika dan Filipina
memberikan perlawanan sengit namun gerak maju pasukan Jepang
tak mampu dibendung. Satu
demi satu pertahanan gabungan
Amerika-Filipina jatuh. Akhirnya,
pasukan Amerika terkurung rapat
di semenanjung Bataan. Ibukota
Filipina, Manila, berhasil diduduki
pasukan Jepang tanggal 2 Januari
1942. Selama masa-masa pengepungan Bataan Corregidor oleh
Jepang, Presiden Filipina Manuel
L. Quezon, Komandan AD Amerika di Timur Jauh (US Army Forces
in the Far East/USAFFE) Jenderal
Douglas MacArthur beserta sebagian besar staf komando tertinggi
Amerika dan Filipina terpaksa bermarkas di Malinta Tunnel. Selain
itu, di lorong bawah tanah tersebut
juga di bangun rumah sakit secara
darurat, dapur umum, dan lokasi
penimbunan amunisi serta logistik.
Dapat dibayangkan betapa sesak
dan kumuhnya kondisi di dalam
Malinta Tunnel saat itu. Sementara itu, pasukan Jepang berulang
kali melancarkan serangan gencar
baik melalui laut, udara maupun
darat untuk menjebol pertahanan
Amerika. Pada situasi kritis tersebut, Jenderal MacArthur menunjukkan kepemimpinan yang luar
biasa dengan menolak semua saran dari staf-stafnya untuk segera
meninggalkan Filipina. Ia memilih
tetap bertempur
bersama pasukannya.
N a m u n
ketegaran MacArthur luluh ketika
menerima
perintah via telegram dari Presiden
Amerika
F.D. Roosevelt
untuk mengungsi
ke Australia dan
mendapat tugas
baru
sebagai
Panglima
Tertinggi
Sekutu
Wilayah Pasifik
Barat
Daya.
A k h i r n y a
dengan
berat
hati MacArthur
t e r p a k s a
menyampaikan
salam perpisahan
kepada
pasukannya
melalui
pidato
singkatnya (yang
kelak
menjadi
sangat terkenal),
yaitu: “I came
out of Bataan
and
I
shall Peta invasi Jepang ke Filipina (1941-1942).
return”. Tanggal
prajurit atau penduduk sipil yang
12 Maret 1942 tengah malam terluka, situasi kala itu bagaikan
MacArthur bersama sejumlah “neraka”, akibat ketiadaan obatpetinggi militer dan staf pemerintah obatan, tenaga medis bahkan
Filipina dievakuasi dari Corregidor rumah sakit. Banyak dokter atau
menggunakan beberapa kapal tenaga medis melarikan diri
cepat torpedo jenis PT Boat. menghindari tentara Jepang yang
Adapun
komando
pasukan terkenal ganas terhadap merediserahkan sepenuhnya kepada ka yang ditaklukkan. Kondisi
Letjen Jonathan M. Wainwright memilukan itulah menggugah
IV. Selama masa pengepungan, rasa
kemanusiaan
sejumlah
Bataan dan Corregidor dibombardir perawat AL Amerika untuk memilih
oleh Jepang.
tetap bertahan di Manila dan
BERTAHAN HINGGA AKHIR
Invasi Jepang ke Filipina
tidak hanya melahirkan penderitaan
mahaberat bagi prajurit-prajurit
Amerika dan Filipina, namun juga
penduduk sipil. Banyak penduduk
yang menjadi korban kebuasan
mesin perang Jepang. Bagi
menolak dievakuasi. Perasaan Itu
mengalahkan rasa takut mereka
baik terhadap ancaman peluru
atau bom yang sewaktu-waktu bisa
membunuhnya maupun kenyataan
harus menghadapi kebengisan
prajurit-prajurit Jepang. Sebelas
perawat AL yang dipimpin Kapten
Laura Mae Cobb bertahan di
Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013
33