Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 32

SEJARAH 32 PENGABDIAN SANG “ANGEL OF MERCY” Kepahlawanan tidak hanya muncul di antara mereka yang berlaga di medan tempur belaka, namun bisa muncul di dalam diri siapapun tanpa memandang gender, status, ataupun pangkat, dan dapat terjadi dimanapun. D alam menilai kepahlawanan seseorang dapat dilihat pada semangat pengabdian dan dedikasinya yang sering kali melampaui batasan tugas dan kewajibannya, serta kegigihan dan keberaniannya dalam menghadapi berbagai macam tekanan atau kesulitan. Semangat inilah yang ditunjukkan oleh sekelompok wanita tangguh anggota Korps Perawat AL Amerika Serikat (US Navy Nurse Corps/USNNC) saat berkecamuknya peperangan dahsyat mempertahankan Filipina pada masa Perang Dunia ke II. USNNC merupakan Korps atau kesatuan khusus yang dibentuk AL Amerika atas persetujuan Kongres tahun 1908 untuk ditugaskan di kapal-kapal perang atau rumah-rumah sakit AL. Selain itu, personel USNNC juga ditugaskan di pangkalan atau basis AL Amerika di seluruh dunia, salah satunya di Filipina. Pada masa Perang Dunia ke II, tepatnya tanggal 30 Juli 1942, USNNC diintegrasikan dengan divisi sukarela wanita di AL Amerika, yaitu Waves (Women Accepted for V o l u n t e e r Emergency Service) untuk ditempatkan di Korps Rumah Sakit. Divisi ini dikhususkan untuk personel wanita, sementara personel pria ditempatkan sebagai te- naga medis di kesatuan-kesatuan pasukan tempur dan terlibat langsung dalam setiap pertempuran. JEPANG MENYERBU FILIPINA Dalam upayanya merebut daerah selatan yang kaya sumber daya alam, Jepang setelah melumpuhkan kekuatan utama AL Amerika Serikat di Pasifik, Pearl Harbor, mulai menggerakkan militernya ke wilayah selatan, seperti Malaya, Hindia Belanda, Papua, dan Indochina. Namun untuk menaklukkan wilayah selatan, Jepang terlebih dahulu harus mampu menundukkan kekuatan utama Sekutu, terutama Amerika dan Inggris, di Asia Tenggara. Amerika memiliki pangkalan militer yang kuat di Filipina. Untuk itulah, Jepang bertekad kuat merebut dan menguasai Filipina demi memperlancar gerakannya ke wilayah selatan. Untuk menaklukkan Filipina, Jepang menugaskan Letjen Masaharu Homma, Komandan AD ke16, yang dibantu Armada ke 3 AL Kekaisaran. Sementara itu, militer Amerika dan pemerintah Filipina yang telah mengetahui serangan Jepang atas pangkalan AL terbesar Amerika di Pasifik, Pearl Harbor, Hawaii, segera melakukan mobilisasi umum serta membangun fortifikasi di sejumlah daerah strategis. Amerika dan Filipina juga telah menyiapkan sebuah benteng yang kuat di Pulau Corregidor, pulau karang kecil di barat daya Manila dan di seberang semenanjung Bataan, sebagai perimeter pertahanan Vice Admiral Thomas C. Kinkaid menyambut kedatangan 11 perawat AL Amerika (Angels of Bataan) setelah dibebaskan pasukan Para Amerika 23 Februari 1945 dari Kamp Internir Los Banos. (atas), Rear Admiral Randall Jacobs, Kepala Personel AL Amerika menyematkan medali Legion of Merit kepada Lieutenant (j.g) Ann A. Bernatitus pada bulan Oktober 1942 di Washington D.C. (kiri).