Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 34

SEJARAH 34 tengah-tengah gempuran hebat pasukan Jepang, berbekal obatobatan seadanya berupaya sebisa mungkin menyelamatkan ratusan orang yang terluka. Sementara itu, seorang perawat AL yakni Lettu Ann Agnes Bernatitus berhasil meloloskan diri dari kepungan Jepang menuju ke Bataan dan selanjutnya bertugas di RS darurat di sana. Ann Bernatitus menjadi satu-satunya perawat AL yang bertugas di Bataan. Setelah Manila jatuh ke tangan Jepang tanggal 2 Januari, kesebelas perawat AL menjadi tawanan perang dan diinternir di Universitas Santo Tomas, Manila. Selama diinternir, mereka mengubah Santo Tomas menjadi sebuah rumah sakit yang menerima pasien dari manapun, termasuk dari pihak Jepang. Demi keamanan pribadi, Kapten Laura Cobb menginstruksikan kepada seluruh anggotanya agar menyembunyikan identitas militernya dan mengenakan atribut perawat sipil. Tindakannya ini berhasil menghindarkan ia dan perawat-perawat Amerika dari intimidasi dan proses interogasi pihak Jepang. Sementara itu, di Bataan, Lettu Ann Bernatitus berjuang menyelamatkan korban pertempuran yang terus bertambah, tanpa mempedulikan keselamatan dirinya sendiri. Bahkan, saat berlangsung bombardir meriam Jepang, Ann yang tengah berupaya mengevakuasi seorang korban luka nyaris terkena hantaman peluru. Penderitaan mereka yang bertahan di Corregidor tidak sebatas itu, kelangkaan obatobatan, bahan makanan, dan air bersih menjadi ancaman yang tak kalah serius, utamanya faktor kesterilan ruang dan peralatan operasi. Ann bersama beberapa perawat dari AD harus berjuang menangani pasien dan operasi bedah hampir 24 jam sehari, tanpa istirahat. Setelah bertahan selama 3 bulan, akhirnya Bataan menyerah tanggal 9 April 1942. Lettu Ann Bernatitus bersama sekelompok perawat AD dan prajurit meloloskan diri ke Pulau Corregidor dengan menggunakan sebuah kapal feri kecil yang berjarak 3 mil dari semenanjung Bataan. Lettu Ann melanjutkan tugasnya di RS darurat di Pulau Corregidor yang terletak di dalam lorong Malinta Tunnel. Namun, sebagaimana Bataan, Corregidor pun tak mampu bertahan menghadapi gempuran pasukan Jepang hingga akhirnya menyerah tanggal 6 Mei 1942. Sebelumnya, tanggal 3 Mei, Lettu Ann Bernatitus bersama 11 perawat AD, seorang warga sipil wanita, enam perwira AD, dan enam perwira AL, mendapat perintah meninggalkan Corregidor dengan menggunakan kapal selam USS Spearfish untuk kemudian mengungsi ke Australia. ANGELS OF BATAAN DAN ANGEL OF MERCY Keberanian, kegigihan, dan ketabahan sebelas perawat AL serta pengabdian Lettu Ann Bernatitus mengundang decak kagum pemerintah dan rakyat Amerika. Mereka adalah pahlawan-pahlawan yang rela mengabdikan dirinya demi kemanusiaan dan ikhlas bertaruh nyawa untuk menyelamatkan sesama manusia. Tak dapat dibayangkan bagaimana nasib mereka yang terluka atau sakit jika para perawat AL tersebut masingmasing menyelamatkan diri, tanpa menghiraukan kewajibannya. Bagi prajurit-prajurit yang terluka atau sakit, para tawanan perang, serta warga masyarakat sekitar kamp interniran, mereka adalah para malaikat penyelamat. Oleh sebab itu, hingga akhir peperangan kesebelas perawat pimpinan Kapten Laura Cobb dijuluki “Angels of Bataan” (Para Malaikat dari Bataan), sedangkan Lettu Ann Agnes Bernatitus mendapat julukan “Angel of Mercy” (Malaikat Pengasih). Sebagai penghormatan atas pengabdian dan keberanian mereka, AD dan AL Amerika