Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 412 Tahun 2013 | Page 35
sasaran utama lapangan terbang
peninggalan Perang Dunia Kedua
dan
berhasil
menguasainya.
Tujuan
Permesta
menguasai
Morotai yang dilanjutkan ke
Jailolo adalah sebagai pangkalan
terdepan untuk melancarkan serangan udara ke obyek-obyek
strategis di Jawa. Kondisi tersebut
dikarenakan sebagian unsur-unsur
APRI di wilayah timur tengah
dikerahkan ke Sumatera untuk
memadamkan
pemberontakan
PRRI (Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia). Ketiadaan
unsur tempur udara AURI di
wilayah timur memberi keuntungan
strategis bagi Permesta. Setelah
berhasil mengalahkan PRRI, APRI
dapat memfokuskan perhatiannya
ke wilayah Sulawesi dan Maluku
sekaligus menaklukkan Permesta.
Operasi Merdeka
Setelah upaya diplomatis
dan persuasif dari pemerintah pusat
untuk meredam gejolak tersebut
menemui jalan buntu dan adanya
pernyataan pimpinan Permesta
yang menyatakan bahwa wilayah
Indonesia timur dalam keadaan
bahaya, akhirnya dikirimlah unsurunsur APRI ke Sulawesi guna
memadamkan
pemberontakan
dan mengembalikan kewibawaan
pemerintah di sana.
Untuk menundukkan Permesta, APRI menggelar operasi
militer gabungan dengan sandi
Operasi Merdeka. Operasi ini
dipimpin oleh Letkol Inf. Roekminto
Hendraningrat, lalu sebagai Wakil
Komandan I Letkol KKo H.H.W.
Huhnholz dan Wakil Komandan
II Mayor Udara Leo Wattimena.
Kemudian Operasi Merdeka yang
digelar APRI terdiri atas beberapa
operasi militer, yaitu Operasi Sapta
Marga I, Sapta Marga II, Sapta
Marga III, Sapta Marga IV, Mena
I dan Mena II. Meskipun dalam
gelar Operasi Merdeka, APRI telah
mengerahkan kekuatan gabungan
(AD, AL, AU dan Polri), namun
untuk menaklukkan kekuatan militer
Permesta bukanlah perkara mudah.
Permesta telah mengonsolidasi
kesatuan-kesatuan tentara dan
polisi yang ada di wilayahnya,
lalu memobilisasi para mantan
prajurit AD Hindia Belanda: KNIL
dan masyarakat umum yang
memenuhi persyaratan sebagai
tentara. Selain itu, Permesta juga menjalin kontak diplomatik
dengan pihak asing, sehingga
berhasil memperoleh bantuan
militer seperti pesawat tempur,
persenjataan dan personel militer
asing. CIA ditengarai berada di
balik pemberian bantuan militer
asing kepada Permesta.
Berkat bantuan tersebut,
sayap udara Permesta yaitu
AUREV (Angkatan Udara Revolusioner) memiliki skuadron udara
yang cukup tangguh dan disegani,
karena diperkuat sejumlah pesawat pemburu North American
P-51 Mustang dan pembom
menengah Douglas B-26 Invader
serta diawaki pilot-pilot asing yang
berpengalaman, diantaranya Allan
L. Pope, Connie Sigfriest, Cecil
Cartwright dan Tony Moreno.
Konon, mereka dibayar US
$10.000 sebulan oleh Permesta.
Pembom B-26 Invader AUREV
telah dimodifikasi laras mitraliurnya
yaitu semula enam laras menjadi
delapan laras. Kepala Staf AUREV
dijabat oleh Komodor Udara Petit
Moeharto dan sebagai Komandan
Skuadron Pemburu adalah Kapten
Udara Hadi Soepandi. Tak sia-sia
Permesta menyewa para soldiers
of fortune tersebut. Terbukti sebagai
“Elang Dirgantara” AUREV, B-26
yang dikemudikan Allan Pope
berhasil menenggelamkan salah
satu korvet ALRI yaitu RI Hang
Toeah di perairan Balikpapan pada
tanggal 28 April 1958. Akibatnya,
setelah terbakar hebat, RI Hang
Toeah tenggelam dengan korban
empat belas pelaut hilang, empat
gugur, dan puluhan terluka.
RI Pulau Rusa (PR-210) tampak dari anjungan RI Sawega.
Serangan Udara B-26
Allan Pope
Peristiwa tragis
yang
menimpa
RI
Hang Toeah menjadi
pelajaran yang berharga bagi Letkol KKo
H.H.W. Huhnholz saat
memimpin Amphibious
Task Group-21
U?JHT?H[[H?[???B??[\??\?\?HY[?HRB?[?Z?Y\?X?][??ZB?\?H\?Y\?K?U?L?B?\?\?H]\?[??\?][??\?????S?KQ?H[??[?[H??Y?YH?\?K??\[[???]\?Z?[???Z?[Y?\??\[???X[???H?]?Y?K?[H?\[[???]?B???Z?]?[HY\?H
L?Z[??L????B??