Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 412 Tahun 2013 | Page 36
SEJARAH
36
Letkol Kko H.H.W. Huhnholz,
Komandan ATG-21.
Baumasepe, kapal-kapal penyapu
ranjau kelas Raum yakni RI Pulau
Raas (PR-203), RI Pulau Rinja
(PR-207), RI Pulau Rempang
(PR-208), RI Pulau Rengat (PR209), dan RI Pulau Rusa (PR210). Sebagai langkah antisipatif,
Letkol Huhnholz memerintahkan
anggotanya untuk memasang
sebanyak mungkin senjata berat
di atas kapal-kapal ALRI, seperti
mitraliur berat kaliber 12,7 mm dan
meriam Bofors 40 mm. Kemudian
pasukan
juga
diperintahkan
berlatih keras menghadapi latihan
peran bahaya serangan udara,
kebakaran, dan evakuasi. Saat
berlatih bahaya serangan udara,
peluru anti pesawat sesungguhnya
dipergunakan.
Kemudian untuk menjaga
kerahasiaan pergerakan, ATG-21
menggerakkan unsur-unsurnya dari Surabaya ke Ambon tidak secara
bersamaan dan dilaksanakan pada
malam hari. Namun mengingat
Ambon sering mendapat serangan
udara AUREV, maka saat siang
kapal-kapal ATG-21 diperintahkan
bergerak ke laut lepas dan
kembali ke pelabuhan malamnya.
Pada tanggal 17 Mei 1958 pukul
22.00 di atas RI Sawega, Letkol
Huhnholz, Letkol Herman Pieters
dan Mayor Leo Wattimena
mengadakan koordinasi terakhir
dan memutuskan hari “H” ke adalah RI Sawega. Adapun
Morotai dilaksanakan pada alasan Pope mengincar RI
tanggal 20 Mei pukul 05.30. Sawega, karena ia melihat di kapal
Pada tanggal 18 Mei pukul tersebut tampak penuh pasukan
04.00 unsur-unsur ATG-21 dan kendaraan amfibi, sehingga
mulai bergerak meninggalkan dapat dipastikan sebagai kapal
pelabuhan Ambon menuju induk pasukan APRI yang akan
Morotai. Sepanjang perja- menyerbu Morotai.
lanan, seluruh unsur secara
Sementara itu RI Sawega
simultan melaksanakan latih- yang menyadari menjadi sasaran,
an peran bahaya serangan melakukan manuver cikar kiri
udara. Sejalan dengan itu, bertepatan
jatuhnya
sebuah
dilakukan formasi melingkar bom yang meledak 100 meter di
dengan posisi RI Sawega lambung kirinya. Namun malang
dan RI Baumasepe berada di bagi sang “Elang Permesta”,
tengah dalam posisi berbanjar. saat membumbung naik, ATGSementara itu kapal-kapal 21 berhasil menembaknya sepenyapu ranjau berfungsi hingga bagian ekornya terbakar
sebagai kapal tabir.
akibat tanki bahan bakarnya
Apa yang dikhawatirkan kena tembakan. B-26 berusaha
oleh
Letkol
Huhnholz, melarikan diri namun terus dikejar
Komandan ATG-21, terbukti benar. konvoi ATG-21. Pada ketinggian
Pada pukul 06.20 saat konvoi 6.000 kaki, tampak dua awak B-26
ATG-21 mendekati perairan Pulau meloncat keluar. Selanjutnya RI
Nusa Telu, usai berlatih peran Pulau Rengat diperintahkan untuk
bahaya serangan udara, tiba-tiba menangkap kedua awak B-26
petugas pengawas melaporkan yang mendarat di Pulau Hatala.
ada pesawat tak dikenal melintas Akhirnya, pilot sewaan AUREV
dari arah Tanjung Barat dan Teluk Allan L. Pope dan operator radionya
Ambon menuju konvoi. Setelah Letnan Udara (AUREV) Jan Harry
memastikan itu adalah pesawat Rantung berhasil ditangkap. Saat
B-26 musuh, dibunyikanlah sirene ditangkap, kaki Allan Pope terluka
tanda bahaya. ATG-21 dapat akibat terbentur badan pesawat
memastikan
bahwa
pesawat ketika meloncat keluar.
tersebut milik musuh berkat
Tertangkapnya Allan Pope
ciri khas yang dimiliki pesawat- segera dilaporkan ke Jakarta
pesawat Permesta yaitu warna dan berhasil membuka kedok
hitam pekat pada bagian bawahnya keterlibatan CIA dalam Permesta.
dengan inisial “AUREV” berwana Identitas Pope terungkap setelah
putih. Kemudian ketika B-26 di saku bajunya diketemukan
melejit naik
membentuk
sudut
45°
serempak
s e m u a
senjata yang
terpasang
di
atas
kapal-kapal
AT G - 2 1
menyalak.
Dari
arah
laju pesawat
diketahui
b a h w a
sasaran
u t a m a n y a Allan Pope saat persidangan di Jakarta tanggal 28 Desember 1959