Media BPP Februari 2016 Vol 15 No 1 | Page 49

Ground Zero( titik runtuh gedung WTC yang saat itu masih dalam konstruksi). Hanum bertemu dengan pria‘ anti Islam’ yang menolak pembangunan masjid di lokasi Ground Zero. Kerusuhan pun terjadi antara demonstran dan aparat keamanan setempat. Membuat Hanum yang saat itu tengah berada di lokasi harus ikut dalam upaya mengamankan diri.
Hanum akhirnya berlindung di sebuah masjid yang dijadikan isu kerusuhan. Ia bertemu dengan Julia Collins, seorang muallaf yang memiliki nama Azima Hussein. Dari sinilah petualangan Hanum dimulai. Hanum mulai menemukan serpihan jawaban dari tema artikelnya mengenai“ Would the world be better without Islam?”. Di sisi lain, Rangga tak sengaja bertemu dengan Phillipus Brown dan melakukan wawancara cepat tentang mengapa Brown menjadi seorang filantropi. Seorang sekertaris Mr. Brown berkata, Rangga harus memberikan satu pertanyaan menarik
jika ingin bertemu dengan Mr. Brown. Terlontarlah kalimat“ Would the world be better without Islam?”.
Sebuah kejadian yang dialami Rangga dan Hanum secara tak terduga akan mempertemukan Jones, Julia, dan Brown dalam sebuah pertemuan manis yang menggetirkan ketika Brown mengisahkan apa yang melandasinya menjadi seorang filantropi dunia pada acara The Heroes.
Kisah dibalik 9 / 11 tentunya banyak menginspirasi kita semua akan kehidupan Islam di negeri orang. Setting tempat, dan pemain yang kualitas sudah tidak diragukan ini, menjadi inspirasi umat manusia secara langsung dibawakan melalui pesan moral film tersebut. Namun sayangnya di akhir film, terkesan terlalu memaksakan sehingga ending terlihat buruburu. Tapi secara keseluruhan film ini tidak akan membuat rugi setiap orang yang mengeluarkan uang untuk membeli tiket film besutan Rizal Mantovani ini.( IFR)
Surat dari Praha
Genre
: Drama / Musikal
Produser
: Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono, Chicco Jerikho,
Angga Dwimas Sasongko, dan Glenn Fredly
Sutradara
: Angga Dwimas Sasongko
Penulis Naskah: M. Irfan Ramli
Durasi
: 100 Menit
Pemain
: Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Rio Dewanto, Chicco Jerikho
Produksi
: Visinema Pictures
Rilis
: Januari 2015

Pergolakan politik

1965 membuat ribuan pelajar di luar negeri yang mendapatkan beasiswa di era
Soekarno, menuntut mereka harus
menandatangani
pernyataan
sebagai
pendukung
Orde
Baru.
Mereka yang menolak akan dihapus
kewarganegaraanya
sebagai
Warga
Negara Indonesia.
Terombang-ambing, tak tahu harus
bermuara kemana. Para pelajar itu tak
mendapat tempat di tanah kelahirannya.
Bahkan
untuk
mendapatkan
kewarganegaraan dari tempat mereka menuntut ilmu, butuh waktu yang sangat lama.
Adalah Mahdi Jayasari( Tyo Pakusadewo), seorang Sarjana Nuklir dari Praha salah satunya. Jaya yang kini menjadi petugas kebersihan di gedung opera, tetapi sering berlagak sebagai konduktor yang mengarahkan permainan musik itu, tinggal seorang diri ditemani seekor anjng bernama Bagong yang sering Ia ajak bicara dalam bahasa Jawa.
Jaya menjadi eksil karena sepenuh hatinya menolak Orde Baru. Ia dibuang, kewarganegaraannya dicabut, puluhan tahun tidak bisa pulang, tidak bisa bertemu dengan kekasih hatinya Sulastri( Widyawati). Ia hanya bisa member kabar lewat surat-surat yang baru dia tulis 20 tahun kemudian. Yah! 20 tahun kemudian, Sulastri sudah milik seseorang.
Rumah tangga Sulastri hancur. Dahayu Larasati( Julie Estelle) anak Sulastri, menuding Jaya dan surat-surat yang pernah dikirimnya sebagai penyebab ketidakharmonisan keluarganya. Situasi berdampak buruk bagi kehidupan keluarganya. Karena tersudutkan, Jaya merasa terpaksa untuk menjelaskan kejadian sebenarnya yang telah ia ikhlaskan.
Laras tiba di flat Jaya, membawa serta sebuah kotak kayu dengan sepucuk surat dari Ibunya. Pertemuan dengan Jaya membuat Larasati mengetahui persoalan yang sebenarnya. Cerita ini memberikan pesan moral pada penontonnya tentang kekuatan memaafkan dan upaya untuk berdamai dengan masa lalu.
Cerita dalam film ini benarbenar dikemas secara apik dan dapat dinikmati tanpa terjebak dalam upaya pengungkapan kebenaran. Meski mengangkat peristiwa 1965, tidak ada adegan flashback yang klise dalam film ini. Semua dituturkan dalam waktu yang sekarang. Sutradara film ini, Angga berhasil menuturkan fragmen kecil dari tragedi besar di negeri ini yang dialami oleh orang-orang yang tidak tercatat dalam buku sejarah.( IFR)
Februari 2016 | mediaBPP | 49