angkak bukanlah obat melainkan jamu atau obat tradisional.“ Saya tidak tahu pasti, bagaimana proses pembuatannya, obat alami boleh saja diberikan asal pasien doyan silakan saja,” jelasnya.
“ Kalau seorang penderita DBD mengonsumsi steroid, maka leukositnya akan berkurang. Sementara saat DBD, leukosit dibutuhkan untuk memakan virus dan menjaga daya tahan tubuh,” imbuhnya.
Bagaimana dengan antibiotik? Nah, tahukah Anda, menurut dr. Sri, antibiotik sebenarnya berlatar belakang untuk menangkal bakteri / anti bakteri. Sementara DBD disebabkan oleh virus yang dibawa melalui nyamuk Aedes Aegypti.“ Jadi menurut saya tidak tepat penanganannya, obatnya harus tepat untuk virus bukan untuk bakteri. Kalaupun DBD disertai dengan penyakit yang disebabkan bakteri, seperti tifus, misalnya, itu harus dilihat dulu kadar imun pasien dan penyakitnya. Tapi itu sebenarnya sangat jarang sekali DBD disertai dengan bakteri,” ujarnya.
Bagaimana jika seseorang sedang mengonsumsi obat-obatan tersebut lantas terserang DBD?
“ Sebaiknya pasien tersebut segera mengonsultasikan kepada dokter, bagaimana sebaiknya memulihkan DBD tanpa efek samping dari obat-obat yang tidak boleh dikonsumsi,” jelasnya.
Obat alami, amankah?
Terkait obat-obatan alami seperti angkak, jambu biji, dan hati kerbau yang konon bisa dengan cepat menaikan jumlah trombosit pada penderita DBD. Ternyata menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, hal tersebut belum ada hasil penelitian yang mengatakan secara pasti.“ Segala sesuatunya itu harus ada penelitian atau uji klinis yang tepat dan akurat, sejauh ini sumber alami tersebut hanya dipercaya untuk menambah vitamin atau kekebalan tubuh pasien,” jelasnya.
Sebenarnya, buah-buahan atau makanan bergizi lainnya sama saja, semuanya baik dikonsumsi untuk penderita DBD, karena yang mereka butuhkan sebenarnya hanya cukup mengonsumsi cairan, dan makanan bergizi.“ Jambu biji, mungkin dikonsumsi karena dipercaya mengandung vitamin C paling tinggi di antara buah yang lain. Vitamin C bagus untuk membantu memulihkan kondisi tubuh yang sedang sakit,” paparnya.
Bagaimana dengan angkak? Dr. Sri dengan tegas mengatakan
Apapun jenis obat alaminya, Sri menyarankan sebaiknya pilih yang manis karena dapat memberi tenaga ekstra untuk pasien.“ Seperti larutan elektrolit yang banyak mengandung natrium dan gula, itu sangat bagus sekali untuk pasien DBD,” imbuhnya.
Fakta menarik Aedes Aegypti
Tahukah Anda, ternyata jenis nyamuk yang mengigit manusia dan membawa virus dengue melalui air liurnya adalah jenis aedes aegypti betina. Nyamuk betina dewasa membutuhkan energi untuk bertelur sehingga mereka akan mengisap darah manusia berkali-kali hingga kenyang dan telur matang. Setiap satu nyamuk aedes aegypti betina, menghasilkan ribuan telur yang disimpan di dalam genangan air dan dinding tempat penampungan air.“ Telur tersebut bisa bertahan 3-6 bulan menempel pada dinding bak mandi, siklus ini terjadi seminggu sekali. Untuk itu, sebaiknya para Ibu rutin menguras bak mandi paling tidak seminggu sekali dengan cara menggosok sampai bersih setiap sudut dinding tempat penampungan air,” jelasnya.
Setelah telur itu menetas, maka akan ada ribuan calon nyamuk yang siap menggigit kita semua. Nah, berikut ini sifat nyamuk aedes aegypti betina yang harus Anda ketahui:
• Bersifat antropophilic( senang pada bau manusia), karena senang dengan bau manusia tersebut, biasanya mereka bersarang di balik gantungan baju yang sudah dipakai dan menimbulkan bau keringat. Sebaiknya, jangan biarkan baju yang kotor menumpuk digantung belakang pintu kamar.
• Umur nyamuk betina mencapai 2-3 bulan.
• Tiap 2 hari mengisap darah manusia untuk bertelur.
• Perkembangan telur menjadi nyamuk memerlukan 7-10 hari.
• Terbang pada siang dan pagi hari.
• Terbangnya tidak tinggi. Hanya lingkup RW( Rukun Warga) di satu lingkungan yang sama. Nah, karena terbangnya di satu lingkup yang sama, saat rumah Anda sudah dijaga betul-betul dari ancaman nyamuk aedes aegypti, namun belum tentu tetangga sebelah Anda juga menjaga kebersihan. Untuk itu, membersihkan lingkungan dari jentik nyamuk aedes ini merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya masalah personal.( IFR)
54 VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016