GAYA HIDUP
AWAS JANGAN SALAH KONSUMSI OBAT DBD!
DBD atau Demam Berdarah Dengue memang tidak ada habisnya jika dibincangkan. Si makhluk kecil bernama Nyamuk Aedes Aegypti ini memang jago sekali membuat siapapun cemas akan kesehatannya, terutama kesehatan si kecil. Data dari Kementerian Kesehatan pun mencatat, pada Februari 2015 sudah ada 126 ribu kasus DBD dengan total kematian 1.200 orang, dan yang paling banyak terjangkit adalah anakanak. Angka ini tentu menjadi kewaspadaan bagi orang tua untuk melawan DBD.
DBD dalam angka
Ketua Umum IDAI( Ikatan Dokter Anak Indonesia), Prof. DR. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A( K) mengatakan, DBD merupakan ancaman kesehatan besar yang pertumbuhannya cepat di Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan yang lebih gawat lagi sebagian besar masyarakat dan orangtua tidak mengetahui gejala / tanda dan cara penanganan awal yang tepat, sehingga berdampak pada tingginya mortalitas / kematian, khususnya pada anak.“ Asia Tenggara dengan jumlah penduduk lebih dari 600 juta merupakan daerah endemik DBD, dan Indonesia termasuk kategori A( endemik tinggi), yang menjadi alasan utama rawat inap dan salah satu penyebab utama kematian pada anak,” imbuhnya.
Pada 2014, misalnya, terdapat 71.668 kasus DBD dengan 641 kasus kematian. Data tersebut tersebar pada 8 provinsi yang insiden rate-nya berada di atas target pemerintah yakni 51 kasus / 100.000 penduduk. Delapan provinsi itu meliputi Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Utara.“ Nyamuk ini menggigit siapa saja, mereka tidak kenal masyarakat urban atau pedalaman, semua berpotensi tergigit,” katanya.
Pengetahuan masyarakat masih rendah
Dalam acara peluncuran gerakan“ Bersama Melawan Demam Berdarah” yang diadakan oleh IDAI dan GSK Consumer
Healthcare Indonesia memaparkan, 97 persen dari 1.000 orang responden berusia 15-64 tahun yang tersebar di beberapa kota Indonesia hanya bisa menyebutkan tiga gejala dari demam berdarah yang umumnya menjawab panas dan ruam. Selain itu, sebanyak 65 persen responden tidak mengetahui obat apa yang patut dikonsumsi saat terkena demam berdarah, dikarenakan ada beberapa obat yang berpotensi meningkatkan resiko gangguan lambung dan pendarahan bagi anak yang terkena DBD.
Fakta yang gawat lagi, 38 persen pasien dengan demam yang berusia 0-12 tahun mengonsumsi obat AINS ketika mengidap demam. Padahal AINS( Anti Inflamasi Non Steroid) merupakan obat analgesic yang mengurangi rasa sakit, peradangan seperti ibuprofen dan naproxen yang berpengaruh pada lambung.
“ Hanya 10 persen orang Indonesia yang mengetahui obatobatan AINS harus dihindari,” jelasnya.
Saat DBD, hindari obat ini!
Badan Kesehatan Dunia( WHO) dan Kementerian Kesehatan mengatakan, parasetamol adalah satu-satunya obat yang disarankan untuk mengobati demam yang terkait dengan DBD. Prof. DR. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp. A( K) mengatakan obat yang harus dihindari adalah ibuprofen, asetosal, dan asam mefenamat.“ Ketiga jenis obat tersebut akan merangsang asam lambung meninggi, sehingga sangat tidak cocok untuk penderita maag,” imbuhnya.
Selain itu, beberapa jenis obat seperti steroid, atau yang biasa dikenal sebagai obat dewa karena dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit ringan seperti pegalpegal, nyeri, asma, gatal-gatal justru jika dikonsumsi saat DBD akan menyebabkan penurunan sel darah putih atau leukosit. Padahal, jika terjadi DBD, bukan hanya trombosit saja yang harus diperhatikan, tetapi penderita juga harus memerhatikan leukosit dan hematrokit( kekentalan darah).
VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016 53