menginjak rumahku.”
Sakit yang tak mempan diagnosa dokter ini kurasakan sejak setahun yang lalu. Aku tak bisa pulang, aku tak tahu dimana kuburanmu. Namaku yang sudah terbenam lumpur tidak mungkin kubersihkan lagi. Semua yang serba gelap, pekat, sesak dan mencekik ini, hanya disebabkan satu hal. Ketololan.
Malam itu, satu tahun yang lalu. Aku mengajakmu ke sebuah pantai yang sepi di pinggir kota kecil kita. Senja yang terlalu indah untuk kita lewatkan. Aku menanyakan mengapa kau mengirim lagu Fight The Bad Feeling untukku. Kau menjawab bahwa saat itu perasaanmu sangat tidak enak, yang membuat tidurmu kurang nyenyak malam sebelumnya. Karena aku tahu kau bukan ahli firasat, aku tak berkata apa-apa lagi.
Aku mengantarmu pulang jam sembilan. Lalu sesuatu yang buruk terjadi. Kita dicegat oleh segerombolan anak muda mabuk. Mereka merampas semua yang ada pada kita, motorku, dompet, handphone, bahkan kehormatanmu nyaris mereka ambil. Aku melawan, belasan tinju menghujani wajah dan perutku. Saat beberapa detik kesempatan tiba, kuseret kau melarikan diri. Aku lari, kau lari. Aku sembunyi, kau sembunyi. Di tengah jalan aku kehilangan jejakmu.
Aku mencari-carimu sepanjang malam, sambil terus berlari. Hampir subuh kutemukan kau di belakang pasar, meringkuk di parit kering, menangis. Kau yang terlalu ketakutan, mengira aku salah satu pemuda mabuk yang mengejarmu. Kau berlari lagi, sambil berteriak“ pemerkosa... pemerkosa...” di sepanjang jalan. Aku mengejar di belakangmu, berusaha menangkap dan menenangkanmu.
Kau terus berlari, mencoba melintasi dua jajaran rel kereta. Padahal saat itu portal sedang diturunkan. Aku ragu-ragu, terlambat menyadari kemungkinan terburuk yang sedang mengintai di ujung sana. Benar saja. Tak sampai tiga detik tubuhmu terpental, lumat oleh dorongan berton-ton besi yang melaju seperti angin. Potongan tubuhmu berhamburan di subuh yang hening itu. Aku menjerit sekuat kerongkongan. Orang yang kucintai, mati di depan mataku.
Aku dibawa ke kantor polisi. Aku dituduh sebagai lelaki yang akan memperkosa seorang gadis hingga menyebabkan kematiannya. Bapakku dipanggil, ayahmu dipanggil. Polisi melepaskan aku lagi karena bukti tak mencukupi. Tapi tidak demikian halnya dengan bapak dan ayahmu. Aku diusir dari rumah, dan ayahmu merahasiakan pusaramu dariku. Sore harinya, koran-koran lokal memuat namaku.
Senja yang indah dan subuh yang hening, seperti telah berkonspirasi menghianatiku.
Aku tak tahan lagi dengan semua rasa sakit ini. Sakit ini seperti mengoyak-oyakku ketika senja, menyatukan lagi tubuhku ketika malam, mencabik-cabik lagi saat subuh datang, begitu seterusnya. Malam ini, kuputuskan akan mengakhiri semua penderitaan tak berujung ini. Subuh besok, aku akan sudahi sakit ini, dan mengucapkan selamat tinggal pada semua luka.
*****
Esoknya, pagi-pagi benar aku keluar rumah. Headset di telinga memainkan 2PM I Will Give You My Life, lagu yang pernah menjadi semacam candu bagi kita.
Di jalan besar, portal perlahan-lahan diturunkan. Manis seperti rencanaku. Aku terus melangkah dengan mantap. Di belakang portal, orang-orang ramai berteriak. Seorang petugas bertopi merah meniup peluit dengan kesetanan. Aku tak peduli. Aku tetap berdiri, menikmati subuh yang hening ini.
Sedetik kemudian, seekor ular besi raksasa mendatangiku dari kiri, mencaplok tubuhku. Aku terpental. Sempat kudengar orang-orang menjerit dari belakang portal.
Sakit itu masih terasa, tapi ini mungkin yang terakhir.
Aku masih mendengar seseorang menyanyikan lagu itu, samar-samar.
Naega neoreul saranghagiye, nae moksumkkaji geonda. In order to love you, I’ m risking my life. Untuk mencintaimu, aku mempertaruhkan hidupku.
Yogyakarta, 5 April 2016
52 VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016