SASTRA
Di Hening Subuh
Oleh: Kurnia Indasah
Sakit itu selalu datang menyergap setiap senja dan subuh.
Seusai maghrib sakit itu muncul dari balik sajadah, menghantamku yang baru saja bangkit dari sujud. Dia mengobrak-abrik, mengacak-acak, dan mengurasku sampai hampir tanpa sisa. Sakit itu bukannya mereda dengan kubacakan kitab suci. Dia justru mengamuk, menggedor-gedor urat syaraf, memaksaku tersungkur, tersujud kembali hingga adzan isya’.
Menjelang subuh sakit itu mengintip dari balik embun, lalu begitu saja masuk ke dalam raga, hingga tembus sampai ke tulang. Nyeri kurasa mencekik ulu hati, memaksaku mengeluarkan butiran panas dari mata. Satu tetes, dua tetes, tidak cukup. Sakit itu terus mencucuk mataku, menumpahkan semua airnya sampai badanku menggigil. Pagi terasa membekukan seluruh persendianku.
Aku masih ingat segalanya tentangmu. Semuanya. Rambutmu yang mengombak, matamu yang besar, tahi lalatmu yang bertebaran, dan tubuhmu yang tidak sampai 150 senti. Aku ingat semuanya. Juga, suaramu yang ringan seperti kapas, parfum melati yang biasa kau pakai, dan warna jilbab kesukaanmu. Aku hapal semuanya.
Aku dan kau punya hubungan yang unik. Kita adalah sahabat, bukan pasangan. Tapi yang pasti, aku mencintaimu. Dan aku tahu kau juga suka padaku. Tapi kita tak pernah menjalin asmara. Cinta hanya akan membuat sakit, entah pada salah satu atau kedua pihak. Sebuah prinsip yang akan kubantah mati-matian di kemudian hari.
Kita terbiasa bertukar kabar lewat lagu yang kita pesan lewat radio. Jika kau mengirim lagu Matahariku milik Agnes Monica, itu berarti kau sedang sedih. Aku akan langsung menelponmu untuk menanyakan apa kau baik-baik saja. Jika lagu yang kau pesan Dua Cincin, tandanya kau sedang cemburu. Lalu aku akan mengirim sms, mengatakan semuanya baik-baik saja. Dan kalau kebetulan kau request Bongkar dari Iwan Fals, kuartikan kau pamitan untuk demonstrasi.
Sakit ini kembali menghajarku, menjerat pembuluh-pembuluh darah dan meremas selaput otak, setiap senja dan subuh.
Kita adalah pecinta Indonesia, tulen, dan kita pun menjadi penikmat musik Korea. Kau selalu berkata,“ apa salahnya menyukai musik orang, selama kita tidak membenci budaya sendiri?”. Dan selalu kutambahi,“ orang-orang itu boleh suka pada Justin Bieber, Rihanna, One Direction, Usher, tidak ada yang memprotes... mengapa kita tidak boleh suka Korea?”
Kau adalah Cassie 1 dan aku sendiri ELF 2.
Aku sering mengirimimu lagu-lagu romantis seperti What is Love-nya EXO-K, Tonight-nya TVXQ, dan It Has To Be Younya Yesung. Tapi, lagu yang paling kita sukai adalah I Will Give You My Life milik 2PM. Semacam ada kesesuaian yang aneh antara kau dan aku dengan lagu itu.
Malam-malam saat kebetulan kita tidak keluar, selalu aku kirimkan lagu itu. Liriknya seperti sebuah janji untuk sehidup semati, tapi tidak dengan kata-kata cengeng. Semacam ada kepasrahan untuk berkorban demi orang yang kita sayangi. Naega neoreul saranghagiye, nae moksumkkaji geonda. In order to love you, I’ m risking my life. Untuk mencintaimu, aku mempertaruhkan hidupku.
Suatu hari, setahun yang lalu, dengan penuh kemantapan, aku bersiap memesan lagu Super Junior Marry U untukmu, berharap kau akan membalasku dengan My Only One. Tapi hari itu kau mendahului mengirim lagu T-Max berjudul Fight The Bad Feeling. Aku merasa seperti ada yang salah dengan kita. Dan ternyata, itu adalah lagu terakhirmu.
Sakit ini menusukku dari depan dan belakang, seperti merogoh ke dalam jantung, selalu setiap senja dan subuh.
Kau mati tertabrak kereta di depan mataku. Setahun yang lalu. Waktu itu hari beranjak pagi, puluhan kelelawar telah berkemas untuk pulang. Kau lebih dari sekedar mati. Kau hancur berserakan.
“ Kau sudah dewasa, carilah hidup sendiri dan tak usah kembali,” ucap bapakku hari itu.“ Di rumah ini tidak boleh ada pemerkosa!”
Sakit yang menderaku ini bukan hanya karena aku kehilanganmu. Keluargamu membenciku, menorehkan segaris luka. Keluargaku membenciku, menyayatkan luka yang lebih dalam. Fitnah yang tak mampu kubantah itu, kutelan saja bulat-bulat, meletus di ulu hati dan meninggalkan luka yang lain. Dan, cinta yang tak sempat terucap, seperti menggarami semua luka yang sudah panjang.
“ Setelah membunuh anakku, kau datang untuk minta maaf?” bentak ayahmu dengan wajah merah kehitaman.“ Beruntung kau, aku tidak mengirimmu ke penjara.”
“ Saya hanya ingin tahu dimana Syarifah dimakamkan.”
“ Untuk apa? Untuk kau injak-injak pusaranya?” suara ayahmu seperti petir yang meranggaskan kuncup-kuncup terakhir di hatiku.“ Pergi dari sini, seumur hidup aku tak sudi melihatmu
1 Cassiopeia, nama fans TVXQ / DBSK. 2 EverLasting Friend, nama fans Super Junior.
VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016 51