Bangsa ini memiliki berbagai nilai-nilai luhur yang harus kembali ditumbuhkembangkan untuk menjadi karakter anak bangsa yang unggul, nilai luhur tersebut di antaranya religius, sebuah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan selalu hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Selanjutnya adalah kejujuran, sebagai upaya menjadi pribadi yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.
Tidak kalah pentingnya adalah sikap toleran, tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain. Disiplin, tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peratura, kerja keras yang merupakan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, kreatif ide dan rindakan yang menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki
pendidikan atau tidak lagi menempatkan pendidikan sebagai suatu good habits, akan membuat masyarakat menjadi terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan buruk.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman karakter kepada peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan. Martin Luther King mengatakan Intelligence plus character, That is the goal of true education. Kecerdasan yang berkarakter, adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya.
Dalam rangka menumbuhkan karakter, sudah seharusnya bangsa ini sadar dan kembali meningkatkan pentingnya mengajarkan sejarah bangsa bagi para peserta didik, dengan mengutip kata-kata Bung Karno“ JASMERAH”, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebab, sejarah dan kebudayaan bangsa sangatlah penting. Beberapa negara maju seperti Jepang dan Korea pun sangat menjunjung tinggi budaya dan sejarah bangsanya. Karena sesuatu bangsa tidak terlepas dari akar budaya bangsanya.
Lembaga pendidikan diharapkan menjadi pionir dalam membangun revolusi mental, yang salah satu tujuannya adalah mewujudkan revolusi pancasila. Untuk memiliki karakter atau budi pekerti yang baik tentu melalui latihan yang serius dan terus-menerus. Meski manusia memiliki karakter bawaan, hal itu tidak berarti karakter itu tidak dapat diubah. Perubahan karakter dibaratkan sebagai suatu perjuangan yang berat, suatu latihan yang terus-menerus untuk menghidupi nilai-nilai baik.
Nilai luhur yang lain adalah mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat / komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung-jawab.
Karena itu, karakter yang baik lebih patut dipuji dibandingkan bakat yang luar biasa. Bakat adalah anugerah, sedangkan karakter yang baik tidak dianugerahkan. Karakter yang baik lahir dari latihan dan perjuangan yang keras, dan kontinyu. Mengutip perkataan Tolbert Mc Carrol, karakter adalah kualitas otot yang terbentuk melalui latihan setiap hari dan setiap jam. Otot karakter kita akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih, sebaliknya akan menjadi kuat kalau sering dilatih. Ciri penting dari SDM berkualitas adalah pintar( intelligent), cerdas( smart), bijak( wise) dan bijaksana( wisdom), serta berkata dan bertindak baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain di alam semesta.
Pada dasarnya, esensi kebangsaan tidak pernah terpengaruh pada perubahan zaman maupun generasi, karena yang diperlukan adalah konsistensi pemahaman atas konsep kebangsaan yang diyakini suatu bangsa. Dari semua hal tersebut, yang terpenting adalah keteladanan yang tulus dari para elit pemimpin sebagai pembawa pesan-pesan kebangsaan dan bukan keteladanan yang bernuasa pencitraan belaka. Jika setiap anak bangsa mampu melakukan revolusi mental terhadap diri sendiri dan menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya, maka pada saat itulah ukuran kebangsaan rakyat Indonesia bukan lagi tertuju kepada hitungan-hitungan ekonomis dan prestise semu, melainkan pada situasi dan kondisi yang saling percaya, melindungi, menjaga, dan saling percaya.
VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016 47