Media BPP April 2016 Vol 1 No 1 | Page 48

OPINI

IMPLEMENTASI NILAI KEBANGSAAN, DASAR REVOLUSI MENTAL

Di tengah hingar bingar politik, sosial budaya dan pemikiran serba pragmatis saat ini sangatlah sulit menempatkan isu

M. Sofyan Bekerja kebangsaan sebagai di BPP Kemendagri pedoman utama dalam proses pembangunan bangsa. Padahal masalah kebangsaan merupakan masalah inti dari permasalahan bangsa ini. Dalam risalah politik Bung Karno“ Mencapai Indonesia Merdeka”, dikatakan, membangun Indonesia merdeka tidak hanya melepaskan diri dari belenggu penjajahan asing, tetapi juga lepas dari segenap sistem penindasan yang mungkin dijalankan oleh bangsa Indonesia sendiri setelah negara ini merdeka. Inilah konsep kemerdekaan yang diimpikan oleh Bung Karno jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, sebuah konsep kemerdekaan yang meniadakan penindasan manusia atas manusia. Hal ini yang seharusnya terus diperjuangkan agar bangsa ini memiliki martabat di negeri sendiri dan memiliki wibawa di kancah dunia.
Saat ini Indonesia tengah menghadapi perubahan zaman di mana generasi bangsa dibesarkan di antara kecanggihan dunia maya dan media sosial, di mana interaksi sosial generasi bangsa didominasi oleh gawai dan tidak pernah merasakan semangat gotong royong secara fisik. Hal tersebut merupakan tantangan besar bagi bangsa Indonesia di tengah semakin menguatnya ego kelompok dan sektoral, sementara semangat dan pemahaman kebangsaan para generasi penerus cenderung pragmatis dan begitu cair. Permasalahan tersebut sepatutnya menjadi perhatian besar, karena jika terus dibiarkan, pelemahan kebangsaan akan terus membudaya di kalangan generasi penerus bangsa.
Untuk menetralisir pelemahan kebangsaan tersebut maka diperlukan semangat kebersamaan dan gotong rotong yang berlandaskan cinta Tanah Air. Proses gotong royong pun hanya bisa dibangun berdasarkan proses komunikasi yang lancar dan penuh kekeluargaan. Hal inilah yang harus menjadi prioritas saat ini jika menginginkan arsitektur kebangsaan yang kuat dan kokoh.
Permasalahan bangsa tentu tidak dapat hanya dibebankan kepada institusi negara atau pemerintah semata dan penguatan kebangsaan tidak akan membawa pengaruh besar apabila tidak disertai dengan kebangkitan kesadaran politik masyarakat dan kesadaran tanggung jawab dari para elit pemimpin di berbagai tataran akan tugas dan tanggung jawabnya.
Menanamkan pendidikan karakter
Presiden Soekarno menegaskan perlunya nation and character building sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa. Hal tersebut didasari oleh pemikiran karakter suatu bangsa yang kuat berperan besar dalam mencapai tingkat keberhasilan dan kemajuan bangsa. Bahkan seorang filsuf Yunani Aristoteles mengingatkan, sebuah masyarakat yang budayanya sudah tidak lagi memerhatikan pentingnya

Dalam rangka menumbuhkan karakter, sudah seharusnya bangsa ini sadar dan kembali meningkatkan pentingnya mengajarkan sejarah bangsa bagi para peserta didik.

46 VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016