RESENSI BUKU
MENCARI PEMIMPIN YANG TIDAK TUNTAS
JUDUL Change Leadership Non-Finito PENULIS Rhenald Kasali PENERBIT Mizan dan Rumah Perubahan TAHUN TERBIT Desember 2015 JUMLAH HALAMAN 376 halaman HARGA Rp 109.000,-
Melihat judul di atas, mungkin seringkali kita menemukan sosok pemimpin yang tidak tuntas. Mengerjakan visi-misinya atau meneruskan visi misi terdahulu yang tidak selesai. Menuntaskan hasil kerja memang menjadi tekanan tersendiri. Itulah legacy yang seakan-akan harus ditinggal oleh setiap pemimpin. Terlebih lagi para pemimpin perubahan.
Namun, melakukan perubahan bukanlah hal yang mudah. Ada banyak resiko yang harus dibayar. Berbahaya, bahkan tidak jarang mengancam jiwa. Seperti karya hebat patung karya Michelangelo, misalnya, atau yang biasa dikenal dengan nama The Naked Slave. Dalam manajemen perubahan karya seni itu dikenal dengan filosofi Non-Finito atau karya seni yang tidak tuntas.
Apakah para ahli mengkritik Michelangelo? Sama sekali tidak. Bahkan mereka dengan bangga memajang karya tersebut di museum, meski karya tersebut belum tuntas, masyarakat dari berbagai negara berduyunduyun datang ke museum.
Lalu apa hubungannya dengan pemimpin? Dalam buku ini Rhenald mengatakan, pemimpin besar adalah pemimpin yang mampu keluar dari zona nyaman dan melakukan perubahan meski non-finito.
Sebut saja beberapa pemimpin seperti Jamil Mahuad( Presiden Ekuador), yang saat pencalonan dirinya, keadaan ekonomi Ekuador mulai membaik, tapi saat dia menjadi presiden suasana berubah. Harga minyak dunia turun drastis, inflasi melonjak hingga 60 persen, bencana kekeringan dimana-mana. Lalu Mahuad memanggil para pakar ekonomi untuk bangkit dari keterpurukan, semuanya memberikan masukan
teknis yang menakjuban. Tetapi masukan teknis itu terlalu rasional, sementara krisis adalah sebuah gejala sesaat yang penuh emosIonal. Dari kesulitan itu, dia mengambil langkah beda. Ia mengajak‘ kelompok kaya’ untuk menandatangani badan-badan dunia untuk mendapatkan bantuan. Kelas menengah harus membayar pajak lebih besar, menunda konsumsi, membiasakan hidup lebih tertib, memangkas subsidi energi, dan sebagainya.
Akibatnya, harga ikut-ikut naik dan mengakibatkan 9 dari 40 bank di negeri itu gulung tikar. Belum setahun, rakyat sudah berubah haluan, popularitas Mahuad merosot dari 70 menjadi di bawah 20 persen. Ketidakpastian dan gejolak ekonomi mengancam. Januari 2000, Mahuad didemo dan dikudeta, ia melarikan diri ke luar negeri. Waktunya sudah habis.
Menurut catatannya, harusnya dia tidak melakukan pendekatan teknis. Sebaik apapun formula ekonomi tersebut, ada hal yang seringkali dilupakan oleh pemimpin. Kelas menengah menghasut rakyat, mengatasnamakan rakyat untuk melawan, sematamata mereka tidak mau membayar kenikmatannya.
Di Indonesia juga, misalnya, terkadang kita takjub dengan pemimpin yang dulu dibesar-besarkan namanya, mendapatkan banyak penghargaan tiba-tiba tersandung kasus korupsi. Seperti Untung Wiyono, Bupati Sragen dan I Gede Winasa, Bupati Jembrana. Keduanya mendapatkan penghargaan Leadership MDGs Award 2009 karena berhasil membuat pelayanan
42 VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016