Selanjutnya bicara tentang why, Rhenald menghubungkan sebab-akibat. Sebaiknya para pemimpin membuat semacam poling, mengukur rating berdasarkan survei dari tindakannya lalu dikoreksi orang lain dan lawan-lawannya. Terakhir, mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Dari sini Rhenald bicara soal persepsi dan perspektif. Selama pemimpin miskin perpekstif, maka pemimpin itu akan mudah menolak. Namun jika kaya perspektif, maka dia akan mencoba menahan diri, karena mampu melihat sudut pandang dari jauh. satu atap, membangun tata kelola, merampingkan anggaran, e-government, merubah sistem dan jaminan kesehatan dan kesehahteraan masyarakat. Hadirnya pemberitaan tersebut menjadi episode berbahaya manakala buih-buih Arousal berada di titik bahaya.
Arousal adalah gejala psikologis yang membuat manusia bergairah, tertantang, dan melangkah maju. Manusia membutuhkan aurosal sampai tahap tertentu, dan terjadi ketegangan atau stress. Namun stress tersebut terdiri dari dua jenis, stress yang berakibat baik, dan stress yang berakibat buruk. Apabila manusia sampai tahapan tertentu, arousal bisa mendorong kinerja yang dihasilkan melalui good stress, namun jika sudah melampaui relatifnya, akan berkebalikan, aurosal akan beralih ke arah negatif, karena yang bekerja adalah hormon-hormon bad stress.
Namun apakah non-finito adalah cemooh yang tidak dianggap melakukan perubahan? Bagi Rhenald, itu salah besar. Apa pun teorinya, sebuah karya perubahan besar meninggalkan sebuah jejak dan pesan meski tidak tuntas. Adanya sebuah keadaan constraint( keterpaksaan) yang kini amat menggejala, yaitu ketidakpastian selalu dihadapi oleh pemimpin. Mau tidak mau, siap tidak siap. Pemimpin perubahan akan mengalami ketidakpastian yang menghambat jalur perubahan dia untuk keluar dari zona nyaman.
Rhenald menyarankan dua hal, pertama hadapi ketidakpastian tersebut. Jangan menunggu hingga rencana lengkap baru bergerak. Lalu kedua, pahami keempat hal ini dalam konteks ekonomi baru, yakni Where Are Things? When Do Things Happen? Why Do Things Happen? And What Is True, What Is False?
Apa maksudnya? Pertama cara memandang tempat kita secara fisik. Tengoklah konsep telah berubah menjadi cyber space. Boundary atau batas-batas yang telah dirobohkan menjadi boundaryless. Ketika batas-batas sudah tidak relevan lagi, maka Anda harus membentuk komunitas baru yang benar-benar baru. Lalu soal waktu, waktu yang singkat harus dipersiapkan secara berkala dan disiplin.
Dalam buku ini, Rhenald mengajarkan betapa tidak seharusnya masyarakat mencemooh atau menghujat para pemimpin perubahan yang tidak rampung menuntaskan visi misinya, bukan hal yang mudah memang. Apalagi pengalamannya yang banyak mendampingi pemimpin daerah melalui Rumah Perubahaan yang digagas olehnya. Banyak pemimpin yang bercerita tentang gesekan dan intervensi dari lawan politik dan situasi‘ ketidakpastian’. Di epilog, dia mencotohkan betapa banyaknya pemimpin perubahan yang tidak bernasib baik, seperti Galileo Galilei, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Nelson Mandela dan masih banyak lagi.
Jatuh bangun dalam memimpin sudah pasti harus menjadi santapan pokok para pemimpin, sebagai warga yang baik hendaknya masyarakat banyak melihat dari perpektif dan kacamata yang lebih luas. Kalau kata Bung Karno JASMERAH“ Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Setiap pemimpin yang meninggalkan jejak perubahan meski belum tuntas karena terhambat deadline atau desakan intervensi adalah pemimpin yang mampu mengubah constraint menjadi perubahan.
Namun sayangnya, dalam buku ini Rhenald tidak bisa menyajikan beberapa contoh dan gaya pemimpin yang berhasil mendecak kagum para pembacanya. Kacamata Rhenald seringkali memberikan contoh pemimpin yang memunyai ikatan kedekatan dengannya. Seperti Awang Faruk Ishak, Gubernur Kaltim yang terus disorot karena melakukan pembatasan eksploitasi Kalimantan. Meski begitu, Rhenald berusaha menyuguhkan contoh pemimpin yang tidak terlihat oleh sorot mata kemera media, dan memberikan perspektif baru tentang pemimpin perubahan.
Ia dengan tegas mengatakan, pemimpin perubahan adalah pemimpin yang bisa memperbaiki hidup, bangsa dan keturunan. Bukan hanya menggunakan jabatan untuk mengimpresi, pamer kekuasaan, apalagi mewariskan kerusakan. Seorang change leader, tidak pernah takut dan menyerah akan banyaknya resiko. Ia akan terus berjuang mewujudkan karya dan impian, meski harus mengahadapi ketidakpastian( non-finito), kekurangan biaya, kekurangan dukungan masyarakat, ketidakpastian perekonomian, dan kehabisan waktu.( IFR)
VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016 43