Media BPP April 2016 Vol 1 No 1 | Page 16

perkembangan akreditasi jurnal dengan sistem online yang akan segera diberlakukan dalam waktu dekat. Perkembangan tersebut kemudian memaksa JBP harus berpindah haluan ke dalam versi online( e-journal).
“ Perkembangan pun terlihat ketika jumlah artikel yang masuk dalam kurun waktu dua bulan terakhir yang mencapai sekira 60-an artikel, ini menjadi tantangan tersendiri, selain harus sudah saatnya mengarah kepada Jurnal Internasional bereputasi, JBP juga sebisa mungkin harus terindeks minimal di google scholar dan DOAJ,” kata Ilham.
Ilham menambahkan, sebagai satusatunya jurnal milik Kemendagri, JBP saat ini bisa dikatakan sebagai kepala untuk semua jurnal yang dikelola oleh BPP di daerah, dengan demikian berkewajiban untuk membimbing dan memberikan pengetahuan terkait pengelolaan jurnal milik BPP di daerah.
Kedatangan tersebut juga dalam rangka untuk mempelajari bagaimana pengelolaan OJS yang baik dan benar, ia berharap pengelola Mev Journal yang saat ini selalu menjadi kiblat jurnal-jurnal di Indonesia tidak terkecuali JBP, bisa memberikan asistensi terkait pengelolaan jurnal yang baik serta gagasan untuk membantu pengelola Jurnal BPP di daerah.
JBP selama tiga bulan terakhir mengalami perkembangan yang cukup signifikan seiring dengan perkembangan akreditasi jurnal dengan sistem online yang akan segera diberlakukan dalam waktu dekat.
“ Dari segi tampilan website JBP( www. binaprajajournal. com) sudah sangat baik, bahkan lebih atraktif dan kreatif, seperti adanya penambahan slide dan beberapa slot, serta online board yang cukup mewakili, dan itu akan menjadi nilai tambah ketika didaftarkan di DOAJ nanti,” kata Tinton.
Tinton menuturkan, e-JBP hanya perlu melengkapi beberapa persyaratan agar bisa terindeks di DOAJ, seperti perlu mendaftarkannya di LIPI untuk mendapat e-ISSN sekaligus melakukan proses Digital
Object Identifier( DOI) sebagai sarana untuk melakukan verifikasi tulisan ilmiah.
“ DOI adalah sebuah cara untuk memberi identitas( digital) bagi sebuah proyek, yang dalam hal ini adalah tulisan ilmiah. Sebagai pengidentifikasi, sebuah DOI bersifat persisten begitu dipakai untuk mengidentifikasi sebuah dokumen, ia akan melekat pada dokumen tersebut, meski dokumennya diubah, berpindah lokasi, dan sebagainya. Semacam KTP,” tutur
Tinton.
DOI memiliki format yang sederhana dan terbagi menjadi dua bagian yaitu prefix dan suffix. Bagian prefix menunjukan sebuah otoritas( lembaga) yang berwenang meng-assign DOI, sedangkan bagian suffix menunjukkan identifier yang diberikan untuk obyek dokumen tertentu.
Sementara itu, Tinton cukup mengapresiasi terkait e-JBP yang sudah ada saat ini, menurutnya JBP sudah sangat memungkinkan untuk dapat terindeks di DOAJ dan Google Scholar, dan diharapkan dapat menjadi Jurnal Internasional pada waktu yang akan datang.
“ Hal tersebut merupakan langkah awal untuk didaftarkan di DOAJ, langkahnya memang terkesan rumit tetapi sebenarnya sangat simpel, pengelola JBP hanya perlu sedikit tenaga untuk menuju kepada hal demikian,” kata Tinton.( MSR)
14 VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016