Majalah Cakrawala Edisi 425 Tahun 2015 25 | Page 76

budaya 76 Sujarwanto mengatakan bahwa importir-importir batu dari berbagai negara, seperti Taiwan, Tiongkok, Jepang, Korea, dan lain sebagainya sudah masuk langsung ke pelosok-pelosok Indonesia untuk membeli batubatu untuk kemudian diolah negara mereka sendiri. Menurutnya tentang potensi batu ini, Pemerintah Daerah seharusnya memberi perhatian yang lebih besar sehingga apa yang ditawarkan daerah bukan lagi batu-batu mentah tapi yang sudah diolah sehingga memiliki nilai tambah dalam perdagangan. Kembali ke soal klenik batu akik, tak semua penggemar batu akik percaya akan hal-hal klenik. Mengenai orang-orang yang suka akik karena unsur kleniknya dikatakan Sujarwanto, “Memang ada sebagian orang yang suka batu akik karena kepercayaan kleniknya. Untuk hal ini merupakan tugas pemuka-pemuka agama untuk terus menyuarakan apa yang harusnya menjadi pedoman dalam berkegiatan, termasuk kegemaran akan batu akik”. Hobi sekaligus bisnis batu akik ini merebab di media sosial. Banyak akun facebook, twitter dan lainnya yang membincangkan batu akik. Di samping membincangkan, banyak diantaranya malah berbisnis dengan menawarkan koleksi batu akik yang dimiliki, baik berbentuk bahan belum jadi, sudah jadi batu akik hingga sudah diikat dengan cincin. Di antara banyak komunitas yang menyebut kata Pekanbaru yaitu Komunitas Akik dan Batu Mulia Pekanbaru, Jual Beli Batu Akik Pekanbaru dan banyak lainnya. ‘’Sungai Dareh Kumbang Jati. Dilihat, diraba ditrawang, selanjutnya nilai sendiri bos,’’ post salah anggota komunitas akik dan batu mulia Pekanbaru itu. Melihat fenomena batu akik ini, dinilai dosen Fisip Unri Zulkarnain MSi memang sedang mengalami trend tinggi. “Kini kembali ke zaman batu. Kalau zaman batu untuk kehidupan sehari-hari. Kini semua batu jadi batu akik. Jadi gaya seharihari, cincin, gelang, kalung, anting, tasbih sampai pajangan rumah. Malah ada anekdot, kalau ingin menjadi pejabat harus memakai batu akik. Hanya monyet yang tidak pakai batu akik. Tapi ini bisa musiman yang lambat laun akan turun sendiri seperti saat orang sedang maniak hobi burung. Bisa jadi akibat gejolak ekonomi, harga kebutuhan tinggi, kebutuhan hidup tidak lagi mencukupi atau paspassan, menghilangkan stres, lari ke batu akik. Tapi yang fanatik, hobi atau kolektor, tentu tetap bertahan sampai kapanpun,’’ kata Zul. Tapi ada pandangan berbeda. Sosiolog Fisip Unri, Dr Yoserizal menyebut kalau fenomena ini akan bertahan lama sebab sudah terjadi pergeseran baru penyebab kesukaan masyarakat akan batu akik. Kalau dulu katanya lebih didominasi mistis, saat ini lebih kepada seni, keunikan hingga aspek bisnis. ‘’Malah kedepannya bisa menambah devisa negara. Di ne