Majalah Cakrawala Edisi 425 Tahun 2015 25 | Page 75

Pengaruh Positif dan Negatif Energi Batu Akik Jenis batu yang warnanya padat (tidak tembus pandang) lebih baik dalam menyerap dan menyimpan energi aura. Bagi pemakainya, pengaruh yang dirasakan biasanya adalah: • Pengaruh Positif: lebih mantap dalam bersikap dan berpendirian (tidak mudah goyah) • Pengaruh Negatif: terlalu kukuh pada pendirian, pikiran cepat penat. • Pengaruh Positif: kondisi tubuh lebih stabil, bertenaga. • Pengaruh Negatif: sering merasa penat atau pegal. Jenis batu yang berwarna bening (transparan tembus pandang) lebih baik dalam melepaskan, menyalurkan energi dan aura. Bagi pemakainya, pengaruh yang dirasakan biasanya adalah: • Pengaruh Positif: lebih ceria, segar. • Pengaruh Negatif: sering lengah, kurang berhati-hati. • Pengaruh Positif: mudah mendapatkan ide baru. • Pengaruh Negatif: kurang konsentrasi berpikir, mudah lupa. Batu yang berukuran cukup besar (relatif bagi tiap orang) biasanya lebih baik dalam menyimpan dan menyalurkan energi dibandingkan batu yang berukuran lebih kecil. Batu alam asli biasanya menyimpan dan menyalurkan energi yang lebih sejuk dibandingkan batu masakan atau batu imitasi yang biasanya menyimpan dan menyalurkan energi yang berhawa lebih panas dan dapat menyebabkan panas dalam dan mudah lelah berpikir dan stres. Batu tua (biasanya lebih mengkilat) menyimpan dan menyalurkan energi yang berhawa lebih panas, dibandingkan batu muda. Jenis batu yang bulat, lonjong atau setengah gepeng lebih baik dalam menyerap dan menyimpan energi dan aura. Jenis batu yang bentuknya meruncing seperti asahan berlian lebih baik dalam melepaskan energi dan aura. Saat ini, kegemaran akan batu akik m e n j a d i fenomena sosial di Indonesia. Di banyak tempat bisa ditemui penjualpenjual batu cincin yang menyediakan berbagai jenis batu akik. Ada banyak alasan seseorang membeli batu cincin berbagai ukuran itu, mulai dari alasan keindahan hingga alasan klenik. Sujarwanto Rahmat M. Arifin, salah seorang komisioner Komisi Penyiaran Indonesia, yang menaruh perhatian pada batu akik sejak 4 tahun lalu punya pandangan sendiri tentang fenomena kegemaran masyarakat akan batu akik. awalnya Sujarwanto mengira bahwa fenomena batu cincin ini sama halnya dengan fenomena batu Ponari. Ponari konon mendapat batu setelah disambar petir dan batu itu disebut bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kemudian banyak orang berduyunduyun datang ke ponari untuk minta disembuhkan dengan batunya itu. “Pada mulanya saya mengira bahwa fenomena kegemaran batu akik ini juga berkaitan dengan masalah klenik,” ucap Sujarwanto. Merujuk pada bidang Sosiologi, Sujarwanto melihat bahwa fenomena sosial seperti yang terjadi pada kasus batu Ponari dapat disebut sebagai gejala Anomie. Anomie merupakan sebuah kondisi kekosongan atau kebingungan norma yang berakibat pada tindak-tindak yang “menyimpang”. Namun setelah mengamati fenomena batu akik selama beberapa lama, Sujarwanto melihat bahwa hal tersebut sesungguhnya merupakan geliat ekonomi rakyat hasil perubahan kondisi masyarakat yang tadinya hanya memikirkan kebutuhan primer menjadi juga peduli dengan hobinya. Dikatakan Sujarwanto, “ini merupakan fenomena sosial ekonomi masyarakat di mana dampak kegemaran masyarakat akan batu akik berdampak pada bertambahnya perhatian pada potensi ekonomi dari batu a k i k tersebut”. Cakrawala Edisi 425 Tahun 2015 75