Majalah Cakrawala Edisi 425 Tahun 2015 25 | Page 74
budaya
74
Fenomena
Batu Akik,
Klenik atau Soal Lain?
Oleh: Kapten Laut (E) Ajid Sutisno
Batu akik kini makin tren dalam masyarakat, bahkan dapat menciptakan peluang usaha
baru, karena batu aksesori ini digemari masyarakat baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa.
Batu akik yang dibeli bisa dijual kembali kepada relasinya dan kenalan melalui media
internet. Hasilnya pun lumayan, karena harga satu batu akik bisa puluhan ribu rupiah
hingga jutaan rupiah.
B
atu akik merupakan benda bertuah yang paling
banyak dimiliki oleh masyarakat Jawa. Pengertian
batu akik sendiri adalah jenis-jenis batu yang
nilai kekerasannya berada di bawah batu permata atau
tidak tergolong sebagai batu permata. Batu-batu ini
dimuliakan orang karena khasiat dan tuah yang ada,
tetapi disukai karena memiliki pesona fisik dan warna
yang bagus (relatif bagi setiap orang) dan dianggap
memiliki kegaiban.
Tuah yang diharapkan dari suatu batu akik adalah
dapat memberikan aura positif bagi si pemakai. Jenis
kegaiban (tuah) yang sering dipercaya orang diberikan
oleh batu akik adalah tuah untuk pengasihan, pelaris
dagangan, keselamatan, kekuatan (pukulan), pengobatan
dan kesehatan, ketenangan hati.
Ada beberapa jenis batu akik yang memiliki kegaiban
biasa saja, tetapi ada juga yang kegaiban nya sangat
tinggi, seperti anti cukur, anti bacok, dan sebagainya. Di
sini tidak akan membahas sisi gaib dari batu akik, karena
kegaiban nya tidak dapat dikategorikan secara seragam,
harus dilihat batunya satu per satu.
Selain sisi gaibnya, masing-masing batu memiliki
energi sendiri-sendiri dan memberikan pengaruh positif
atau negatif yang tergantung kecocokannya dengan si
pemakai. Dalam memilih batu akik, biasanya pemilihan
warna merupakan yang utama. Batunya sendiri adalah
sebagai sarana menyalurkan energi yang kekuatannya
sebagai penyimpan energi itu antara satu batu akik
dengan batu akik lainnya berbeda-beda tergantung pada
masing-masing jenis batunya, keaslian batunya, warnanya,
bentuknya, ukuran besar kecilnya, cara memakainya, dsb.
Tren batu akik kini menjadi ladang mata pencaharian
baru bagi sebagian orang. Kilauan batu akik ini diyakini
para perajin dan pengolah batu mampu mendulang
rupiah. Tapi kilauan batu akik itu tak selalu berbanding
lurus dengan fakta yang terjadi di daerah-daerah
penambangan.
Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur, mengatakan
penambangan batu giok atau akik ini menambah daftar
tantangan yang dihadapi sumberdaya alam Aceh atas
pengerusakan lingkungan hidup. Bahkan bencana
ekologi, seperti banjir dan longsor merupakan kejadian
yang terus mengulang hingga awal tahun 2015.
Di Aceh, dan beberapa daerah lainnya, tren batu
akik dinilai menjadi salah satu sumber pendapatan baru
warga. Tapi sayangnya, para warga lupa menghitung
untung-rugi atau dampak lingkungan yang ditimbulkan
pasca pengambilan bongkahan batu-batu sebagai bahan
baku untuk diolah menjadi perhiasan.
Meski karakteristik penambangan batu akik ini
masih menggunakan cara-cara tradisional, tapi menurut
UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, harusnya tidak bisa
diabaikan begitu saja sebagai payung hukum yang
memberikan perlindungan bagi keseimbangan ekosistem.