Majalah Cakrawala Edisi 425 Tahun 2015 25 | Página 57
tertimpa suatu krisis atau masalah besar berskala nasional yang
datangnya tanpa diduga. Kalau itu sudah terjadi, mungkin
tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Di era keterbukaan ini jika
krisis tersebut terjadi, tidak dapat dihindarkan lagi, wartawan
akan datang berbondong-bondong ke kantor. Sebagaimana
umumnya manusia memiliki beragam watak dan sifat,
wartawan yang datang pun beragam latar belakang, beragam
watak dan kelakuan yang kadang bukan membantu, tapi malah
menambah keruh masalah, sehingga semakin tidak terkendali.
Wartawan yang datang ada yang dilandasi empati dan
simpati, dan ada juga yang datang dengan sinisme dan dikuasai
emosi. Selain itu ada yang datang dengan data dan informasi
yang tidak langsung yang sifatnya hanya merupakan humor,
desas-desus penuh spekulasi sangat merugikan instansi.
Karena sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999
tentang Pers, wartawan berhak datang untuk mencari berita,
meski hal ini tidak lepas dari tujuan pokok, yaitu mewujudkan
kepentingan bisnisnya. Di sinilah perlunya kemampuan,
keterampilan dan seni untuk me-manage dan mengatur
pertemuan dengan pers. Perlu diingat, pers wajib dilayani
tetapi tidak wajib selalu dipertemukan dengan pimpinan
utama. Pemimpin bisa saja mendelegasikannya kepada orang
lain atau kepada Kahumasnya.
Perlu di garis bawahi pula, dalam membina hubungan
dengan pers, kita tidak boleh membeda-bedakan pelayanan
terhadap wartawan diukur atas besar kecilnya lembaga
perusahaan pers, termasuk perangai pribadi wartawannya.
Namun, layanilah secara proporsional sesuai visi dan misi
penerbitan itu sendiri. Ada penerbitan mengemban misi
jurnalistik ilmiah, ada jurnalistik ekonomi, ada jurnalistik
militer, ada jurnalistik hukum, dan ada juga jurnalistik yang
hanya menonjolkan kriminalisme, seks, skandal dan sensasi
dalam pemberitaannya. Sudah barang tentu kita harus pandai
memilih, wartawan mana yang lebih layak dibina hubungan
kerja samanya guna menciptakan opini positif di mata publik
sesuai visi dan misi organisasi kita.
Karena itu, tugas dan fungsi Humas/Dinas Penerangan
adalah sebagai instrumen yang berfungsi menyampaikan
informasi tentang keberhasilan dalam pembinaan dan kinerja
organisasi, agar bisa dilihat secara luas sehingga diharapkan
dapat menaikkan citra positif di mata publik. Satu-satunya
cara agar tujuan tersebut bisa terealisir adalah menggandeng
dan terus menjaga hubungan baik dengan pihak media (media
relations). Untuk itu, media relations adalah wajib hukumnya
bagi Kahumas termasuk juga bagi seorang pemimpin,
karena keuntungan yang diperoleh bisa berdampak pada
meningkatnya brand image organisasi/institusi, yang berujung
pada meningkatnya citra positif di mata publik. Celah untuk
dapat membentuk citra positif adalah dengan menerapkan
strategi public relationship dengan media massa agar kinerja
maupun personel yang ditampilkankan dapat dipublikasikan
dan diketahui masyarakat. Dengan melibatkan media, bisa
lebih dikenal masyarakat. Karena di tengah arus informasi
yang cepat berubah, sebuah institusi bisa berkompetisi dan
bersaing lebih baik dengan menjalin hubungan baik dengan
media.
Image building sebuah lembaga merupakan hal mutlak
yang harus selalu dilakukan. Untuk mencapai terbentuknya
citra positif, dibutuhkan pemahaman seorang pemimpin
didukung kejelian strategi dari Kahumas yang handal dalam
menjinakkan media. Memang dibutuhkan kesabaran dan
keuletan. Tetapi hasil yang ditimbulkan sangat luar biasa besar
manfaatnya bagi nama baik dan kepercayaan publik terhadap
kinerja organisasi.
Agar kemitraan antara media dengan Kahumas dan
pemimpin dapat terjalin hubungan yang harmonis dan saling
membutuhkan satu sama lain, tanpa melupakan integritas
profesi masing-masing, maka kedua belah pihak harus
memiliki konsep yang jelas sehingga hubungan yang terjalin
dapat selaras dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing
pihak. Konsep tersebut dilaksanakan dengan memperlakukan
pers sebagai mitra kerja dengan cara memanfaatkan pers
untuk menyebarluaskan informasi kepada publik, sehingga
terbentuk citra positif dapat diperoleh organisasi.
Memahami Cara Kerja Media Massa
Media massa bekerja 24 jam nonstop. Tugas wartawan/
pers adalah mencari dan mengumpulkan informasi kemudian
menuliskannya menjadi sebuah berita. Informasi yang ditulis
menjadi berita bukan sekedar informasi dan data semata,
tetapi informasi dan data yang dapat dijual. Artinya informasi
yang akan ditulis menjadi berita harus memiliki nilai berita,
aktual, dan memberi manfaat yang tinggi bagi pembacanya/
pemirsanya. Guna mendapatkan berita yang bernilai jual,
apa saja akan dilakukan pers sejauh itu sesuai dengan kode
etik jurnalistik dan bermanfaat serta disukai pembaca/
pemirsa, dan itu semua adalah untuk keberlangsungan hidup
perusahaan media itu sendiri, yakni keuntungan finansial!
Fenomena sekarang yang disenangi wartawan adalah
peristiwa yang memiliki kelayakan berita, yakni:
a. Aktualitas. Artinya kejadian yang sedang terjadi atau
baru saja terjadi yang akan menjadi pembicaraan hangat dan
menjadi isu yang layak untuk dipublikasikan.
b. Prominance. Artinya ketokohan atau orang-orang yang
menjadi tokoh yang akan menjadi sumber berita menarik.
c. Kontroversial. Sesuatu yang kontroversial dan menjadi
gunjingan banyak orang pasti memiliki nilai berita, karenanya
pers akan selalu memuat peristiwa atau sikap-sikap yang
kontroversial.
d. Dramatik. Yaitu peristiwa yang menunjukkan adanya
daya humanisme yang tinggi, atau sesuatu yang mengharukan.
e. Tragis. Artinya peristiwa yang menyentuh perasaan
kemanusiaan dan mampu membuat ketersitaan perhatian
publik.
Cakrawala Edisi 425 Tahun 2015
57