Majalah Cakrawala Edisi 425 Tahun 2015 25 | Page 56

opini 56 STRATEGI MEMBINA HUBUNGAN DENGAN MEDIA MASSA Oleh: Letkol Laut (KH) Drs. Toni Syaiful D alam era informasi dan tranparansi saat ini, tidak bisa dipungkiri menjadi seorang pemimpin (pejabat atau komandan) otomatis menjadi seorang figur publik. Bagi media massa, sang pemimpin tersebut akan menjadi sumber berita yang dicari-cari dan ditunggu-tunggu untuk kepentingan pemberitaan. Meskipun sangat banyak pemimpin dan bahkan Kepala Dinas Penerangan atau Kepala Humas (Kahumas) yang dalam pelaksanaan tugas sehari-hari mampu melayani wartawan untuk memberikan keterangan pers, akan tetapi tidak sedikit yang belum memahami benar apa sesungguhnya kemauan media massa. Tidak heran ada pemimpin yang menginginkan Kahumasnya membatasi diri dan hanya sedikit bicara kepada pers. Ungkapan seperti, “Ah, sudahlah, jangan terlalu dekat dengan wartawan, nanti ngomongnya sedikit, tulisannya panjang, ngaco lagi!”, (Zainal Abidin Partao; 2006). Ternyata di sisi lain, wartawan pun memiliki pandangan dan penilaian yang sama terhadap pemimpin tersebut. Mereka juga bisa saja memiliki rasa kecewa dengan gaya sang pemimpin tadi. Kenapa?, karena membanding-bandingkan gaya kepemimpinan seseorang adalah sifat manusia. Wartawan pun memiliki kebiasaan yang sama, membanding-bandingkan seorang pemimpin dalam suatu instansi dengan pimpinan atau kepala instansi lain. Wartawan juga manusia biasa. Ia bisa saja menumpahkan emosi dan kekecewaannya ke dalam tulisan. Wartawan sangat sensitif, apalagi jika menjelang tenggat waktu (deadline). Hanya deadline yang mereka takuti. Tidak wartawan, tidak pemimpin redaksi, tidak redaktur pelaksana, tidak kordinator liputan. Mereka menjadi mudah tersinggung bila menjelang deadline. Terlebih bila sumber berita tidak akomodatif, maka tulisannya akan cenderung pedas. Oleh karena itu, kalau hal ini tidak pintar-pintar dalam memanage hubungan dengan media massa, dapat mempengaruhi opini yang beredar lewat tulisan yang mungkin bernada subjektif. Faktor baik buruk dan smooth tidaknya hubungan pimpinan dengan wartawan bisa mempengaruhi bentuk opini yang beredar di masyarakat. Karena media massa adalah alat terampuh dalam membentuk opini publik yang dapat merugikan atau sebaliknya menguntungkan organisasi. Keduanya akan berdampak terhadap reputasi organisasi yang bersangkutan. Fakta membuktikan, banyak tokoh dapat melambung namanya bahkan hingga menjadi presiden, karena media. Tidak sedikit pula yang jatuh, juga karena media. Keterampilan me-manage hubungan seorang pimpinan instansi dengan pers di era reformasi, komunikasi dan informasi saat ini sangatlah penting,serta wajib sudah terbangun dengan akrab. Baik dengan wartawan maupun pemimpin redaksi, sebaiknya terbina jalinan komunikasi dengan harmonis. Jangan sebaliknya, h