Majalah Cakrawala Edisi 425 Tahun 2015 25 | страница 54
info
54
IKAN
NUSANTARA
Oleh: Soen’an Hadi Poernomo
Dalam
Negeri
Kepulauan yang
berciri Nusantara, posisi
ikan memiliki arti yang sangat
penting. Namun Produk Domestik
Bruto sektor ini relatif masih kecil, yakni sekitar
255,3 triliun rupiah, dibanding PDB Nasional 8.241.9
triliun rupiah, atau sekitar 3,1 persen. Kalau dihitung
dengan kegiatan yang terkait di sektor lainnya, dalam
istilah statistik disebut sebagai ‘PDB Satelit’, adalah
sekitar 4,16 persen. Produksi perikanan tangkap tahun
lalu mencapai sekitar 5,9 juta ton. Kondisi ini sulit
diharapkan berkembang, karena beberapa wilayah
penangkapan ikan sudah mengalami lebih tangkap, atau
over fishing. Dengan demikian maka justru diperlukan
pengendalian, untuk mempertahankan kelestarian
sumberdaya perairan. Belum lagi dihadapkan pada
persoalan IUU, atau Illegal, Un-regulated dan Unreported Fishing, yang sangat merugikan negara dan
menyebabkan banyak distorsi data.
B
udi daya perikanan atau akuakultur merupakan
bidang yang sangat menjanjikan, karena
pemanfaatan potensi lahan masih tergolong
sangat rendah. Dari data 2009-2012, potensi lahan
budidaya perikanan laut, tambak, perairan umum dan
lainnya sekitar 17.744.303 ha, baru dimanfaatkan sekitar
1.125.548 ha, atau 6,34 persen. Produksi perikanan
budidaya saat ini sekitar 6,3 juta ton, nomor dua terbesar
di dunia, setelah Cina.
Ikan Tropis
Negeri Kepulauan yang berada di bentangan
katulistiwa ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan.
Matahari terbit sekitar pukul 05.00 pagi dan tenggelam
sekitar pukul 18.00 sore hari. Tidak seperti
kawasan subtropics, apalagi di sekitar kutub,
dikala musim dingin yang beku, melihat matahari
nun jauh di arah selatan atau utara, dan di musim
panas yang terik, memiliki malam yang relatif hanya
sekejab.
Kehangatan sepanjang tahun yang ada di Indonesia
memberikan hikmah bisa melakukan kegiatan budidaya
perikanan tanpa halangan perubahan musim, kapanpun,
di manapun. Tidak adanya musim dingin, menyebabkan
laut dan perairan Nusantara ini nyaman dinikmati oleh
segala jenis ikan. Tidak heran apabila perairan Indonesia
merupakan kawasan biodivercity yang terbesar di dunia.
Aneka ikan, tiram, terumbu karang, rumput laut, dan
biota lainnya, hidup di laut, danau dan sungai kita.
Sumber ikan hias terbesar adalah dari perairan ini.
Dibalik keuntungan perairan tropis tersebut, terdapat
juga kelemahan yang menyertainya. Dengan komunitas
ikan yang berbagai jenis dalam setiap kawasan,
menyebabkan kurang menguntungkan dalam aspek
efisiensi dan efektivitas bisnis serta industrialisasi. Sekali
jaring diangkat, berbagai macam ikan ada di dalamnya,
padahal industrialisasi memerlukan keragaman jenis dan
ukuran. Memang beberapa jenis ada yang bergerombol
dalam ukuran yang relatif sama, sebagaimana ikan
lemuru di Selat Bali. Oleh karenanya, sejak dulu
pabrik pengalengan ikan yang telah berdiri adalah di
Muncar, Banyuwangi, kota kecil di Selat Bali, terutama
memproduksi ikan kaleng lemuru, sejenis sardine.
Ikan di kawasan bersuhu dingin, telah terseleksi oleh
alam, hanya ikan yang tahan pada lingkungan bersuhu
rendah, mampu bertahan hidup. Oleh karenanya,
maka jenis-jenisnya menjadi terbatas, namun jumlah
gerombolan ikan setiap jenisnya berjumlah banyak. Ikan
cod, herring, sardine, dan sebagainya, bila tertangkap
jarring merupakan kumpulan yang masif dan berukuran