lihat Lestari dari kejauhan. Tetap sama.
Gadis mungil yang cantik. Ku hampiri ia
dengan senyuman termanisku. Aku yakin
itu, meskipun aku tak benar-benar tahu
bagaimana
wajahku.
senyum
Aku
lelah
membalut
melambaikan
tangan
setinggi mungkin. Berharap Lestari tahu
bahwa itu aku. Padahal keadaan stasiun
sama sekali tidak dapat dikatakan ramai.
“Dek … dek …” ku panggil Lestari
Dia terlihat letih karena perjalanan
yang cukup panjang. Dengan segera dia
lari ke arahku dan mengulurkan kedua
tangannya.
untuk
Yaa,
mendekap
mengisyarakatkan
aku
tubuhnya.
aku
Tapi,
82