sangat
lambat
merespon
menelungkupkan
kembali.
hingga
kedua
Aarrrgghhh
…
ia
tangannya
aku
sedikit
menyesalinya.
“Gimana kabarnya, Mas?”
“well, aku baik-baik aja, dik. Kamu
gimana?”
Seperti
mulai
ketika
biasa
perbincangan
sudah
sampai
ke
kita
dalam
mobil. Berbeda dengan dulu, aku terkesan
kaku
menanggapi
obrolannya.
Entah
karena aku gugup, sudah tidak terbiasa
dengannya,
atau
karena
aku
sudah
83