bertambah saja, begitu juga dengan rasa
malasku
untuk
mencari
pekerjaan.
Bertambah. Semangatku yang melonjak
tinggi karena penolakan dari keluargaku
saat aku diterima di perusahaan swasta
yang
tidak
Ayah,
terus
begitu
besar.
Sementara
memintaku
menerima
tawaran pekerjaan sahabatnya yang jauh
lebih
menjanjikan.
Semua
jadi
menggiurkan dalam benakku.
“Okelah kalau kamu setuju, besuk
Ayah temui Kang Dodit.”
45