Campus Guide Jakarta - Edisi Perdana Febuary 2015 | Page 58
MINYAK AVOKAD,
MINYAK MURAH DAN
SEHAT SEBAGAI
ALTERNATIF DARI
MINYAK ZAITUN
Oleh: Yuliniar Lutfaida
56
CAMPUS GUIDE | FEBRUARI 2015
Foto : Dok. Istimewa
INNOVATION
B
uah avokad merupakan
buah yang sering
dijumpai dan
dikonsumsi. Rasa yang
lezat membuat buah
ini cocok untuk dipadankan dengan
berbagai bahan lain dalam berbagai
bentuk olahan, mulai dari jus, berbagai
es buah, salad, hingga sushi. Walaupun
demikian, masyarakat masih belum
memahami betul apa manfaat dari buah
bernama ilmiah Persea americana ini.
Umumnya, masyarakat hanya paham
bahwa avokad mengandung banyak sekali
lemak sehingga diyakini dapat membuat
gemuk apabila dikonsumsi berlebihan.
Selain itu, buah berdaging lebut ini juga
sering menjadi kambing hitam apabila
muncul jerawat di kulit. Namun, apa benar
begitu?
Benar adanya bahwa avokad memiliki
kandungan lemak yang tinggi. Namun,
ternyata lemak yang terkandung dalam
avokad merupakan lemak tak jenuh yang
justru baik untuk kesehatan. Potensi inilah
yang dilihat secara jeli oleh Theresia Dewi
Inggriani, Thomas Ryanaldo, dan Yohanes
Christanto, tiga mahasiswa jurusan Teknik
Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB)
untuk membuat minyak avokad sebagai
alternatif dari minyak zaitun.
Berawal dari mata kuliah berjudul
Pengolahan Minyak dan Lemak Nabati
yang digawangi oleh Dr. Tirto Prakoso,
ketiga mahasiswa ini pun mengembangkan
ide pembuatan minyak avokad.
Belakangan, minyak avokad ini pun sudah
diikutkan dalam pameran Food Ingredients
Asia 2014 di Jakarta International Expo
pada 15-17 Oktober lalu.
Proses pembuatan minyak avokad
tidak terlalu sulit. Minyak didapat dari
daging buah avokad yang dikeringkan.
Proses pengeringan dilakukan untuk
menghilangkan kadar air dari daging
buahnya. Kemudian, daging buah yang
dikeringkan tersebut diolah dengan teknik
cold press untuk didapatkan minyaknya.
Cold pressing adalah metode perolehan
minyak dengan proses mekanikal, yakni
dengan menekan bahan pada suhu
ruangan.
Selain dengan teknik cold press,
minyak dapat disarikan dengan
teknik solvent extraction. Metode ini
menekankan pada proses kimiawi
menggunakan heksana (hexane), yakni
pelarut yang sering digunakan untuk
mengekstrak minyak dari bahan pangan.