Campus Guide Jakarta - Edisi Perdana Febuary 2015 | Page 59

Teknik solvent extraction menghasilkan lebih banyak minyak, namun membutuhkan waktu lebih lama dan biaya yang lebih besar. Theresia, salah satu anggota, mengatakan bahwa timnya memilih avokad sebagai bahan pembuatan minyak karena buah ini memiliki banyak kelebihan. Dari segi harga dan ketersediaan, jelas avokad lebih unggul ketimbang zaitun yang tidak dapat tumbuh di Indonesia sehingga harus diimpor. Hal tersebut membuat biaya produksi minyak zaitun lebih mahal. Sementara itu, avokad harganya lebih murah dan banyak tersedia di Indonesia sehingga tidak perlu diimpor dan membuat biaya produksi melambung. Minyak yang dapat diekstrak dari avokad pun lebih banyak ketimbang dari zaitun. Melalui metode cold press saja dapat dihasilkan sekitar 70% minyak dari avokad yang telah dikeringkan. Selain itu, dari segi kandungan gizi, avokad mengandung nutrisi yang sangat baik. Minyak yang dihasilkan mengandung setidaknya 70% asam lemak oleat (omega-9) dan setidaknya 75% lemak tak jenuh tunggal, lebih tinggi dibandingkan dengan minyak kelapa sawit dan minyak rapa (canola oil). Kedua kandungan tersebut sangat baik untuk mengurangi kolesterol jahat dan resistensi insulin sehingga dapat mengurangi risiko penyakit jantung, diabetes, juga stroke. Selain itu, smoke point minyak avokad lebih tinggi dari minyak zaitun, yakni mencapai 255° C. Apabila kita menggunakan temperatur yang amat panas hingga melewati smoke point, lemak pada minyak menjadi rusak sehingga melepaskan radikal bebas dan zat yang disebut akrolein yang membuat masakan terasa gosong dan beraroma tajam. Kandungan lainnya dari minyak avokad ini adalah 20 jenis vitamin dan mineral, serta kandungan antioksidan yang tinggi. Kandungan omega-9 dan antioksidan yang tinggi membuat minyak avokad berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pembuatan kosmetik. Kelebihan lainnya dari minyak avokad, menurut Theresia, yaitu minyak avokad tidak mengubah rasa dan warna ketika digunakan untuk menggoreng. “Minyak ini juga bisa langsung dipakai untuk bumbu salad dan pengganti margarin,” imbuhnya. Theresia mengakui bahwa ia dan timnya ingin sekali memproduksi minyak avokad secara massal. Akan tetapi, mereka terkendala biaya dalam membeli alat-alat pembuat minyak avokad karen