Campus Guide Jakarta - Edisi Perdana Febuary 2015 | Seite 57
Safety Nasogastric Tube hasil modifikasi Sigit unggul dalam
beberapa hal. Alat ini dapat mencegah kesalahan pemasangan
selang secara real-time karena langsung terlihat di plastik klip
indikator. Oleh karena itu apabila selang salah masuk pun, selang
belum masuk terlalu dalam sehingga tidak melukai paru-paru.
Selain itu, alat sederhana ini tidak memerlukan alat
bantuan tambahan seperti monitor dan sensor sehingga tidak
memerlukan banyak perubahan dalam cara pemasangan dan
juga lebih murah. Berkat berbagai kelebihan selang lambung
inilah Sigit akhirnya keluar sebagai Juara 1 LKIM UI dan karyanya
didaftarkan untuk mendapatkan hak paten.
Sigit mengakui bahwa ia berharap karyanya dapat diproduksi
secara massal sehingga dapat berkontribusi bagi masyarakat.
Di wilayah terpencil Indonesia di mana tak ada teknologi yang
mumpuni untuk mendeteksi kesalahan pemasangan selang
lambung, alat buatan Sigit dapat menjadi solusi.
Namun, ia berharap bahwa kelak produk ini dapat diterima
tidak hanya di Indonesia, namun juga Asia Tenggara bahkan
Jepang dan Tiongkok sekalipun. Kini Sigit masih menunggu
proses pembuatan hak paten sambil mencari perusahaan
penghasil alat medis yang mau memproduksi Safety Nasogastric
Tube buatannya.
Foto : Dok. Istimewa
terjadi kesalahan masuk selang akibat salah pilih saluran di
percabangan faring. Di percabangan inilah sering terjadi
“salah pilih”. Selang yang seharusnya melalui esofagus menuju
lambung malah masuk ke saluran pernapasan.
Sigit yang merupakan mahasiswa “baru” FIK UI memiliki
pengalaman serupa ketika ia dulu praktikum di salah satu rumah
sakit di Palu. Sigit yang sebelumnya mengenyam pendidikan di
Akademi Keperawatan Palu ini mendengar kabar bahwa salah
satu pasien rumah sakit tersebut menjadi korban kesalahan
pemasangan selang lambung. Setelah diketahui bahwa selang
masuk ke paru-paru, kondisi korban menurun hingga pada
akhirnya ia meninggal.
Kesalahan pemasangan selang lambung ini, menurut Sigit,
sering terjadi dan hal ini dapat berakibat fatal bagi pasien. “Hal ini
dapat melukai paru-paru dan kalau itu terjadi, tubuh pasien dapat
mengalami cidera dan trauma, imunitas menurun, sehingga dapat
merambat menjadi infeksi hingga kematian,” ungkap Sigit.
Masalahnya, di Indonesia belum ada alat untuk mendeteksi
apakah pemasangan selang lambung telah dilakukan dengan
tepat atau tidak. “Selama ini hanya memakai intuisi saja. Lihat
keadaan pasien, kalau tidak ada respons berupa rasa sakit,
berarti pemasangan dilakukan dengan benar,” Sigit menjelaskan.
Namun, pada pasien yang tidak sadar ketika dilakukan
pemasangan, misalnya pasien koma, tidak akan ada respons
apabila selang salah masuk sehingga kesalahan berlanjut pada
penyaluran makanan ke paru-paru.
Peristiwa naas yang disaksikan Sigit terus terngiang-ngiang
di memori bahkan hingga kini, ketika ia mendapat beasiswa studi
S1 di FIK UI. “Ketika saya melihat poster pengumuman Lomba
Karya Inovasi Mahasiswa (LKIM) UI saya langsung tertarik untuk
ikut dengan ide modifikasi selang lambung ini,” tuturnya. Untuk
mewujudkan gagasan tersebut, Sigit pun men