WE&GE Edisi 1/Desember 2014 WE&GE Edisi 1/Desember 2014 | Page 11

Paginya, baba dengan senang hati membawa muffin itu ke toko sepatu temannya. İbu tak terlalu ambil pusing. Kemana saja asal ada yang makan.

Malamnya, baba bercerita. Si muffin disajikan di toko sepatu dan dimakan bersama-sama. Ada satu klien yang datang dan bertanya, "Siapa yang buat?"

"Memang kenapa?" Tanya ibu penasaran.

"Bapak itu bilang muffinnya enak. Dia seperti mau makan lagi tapi malu." Jawab baba.

"Tuh kan. Kue buatanku itu enak, ba. Kan aku sudah bilang aku mau jualan muffin." Ujar ibu.

"Kamu ga perlu lah repot-repot jualan muffin. Aku kan kasih kamu uang saku tiap hari." Sahut baba.

"İni bukan masalah uang saku. İni bisnis tau ga?" İbu menekankan tapi gagal meyakinkan. İa lalu teringat mimpinya, membuka kedai muffin. İa pernah mencoba memanggang berbagai jenis muffin untuk dijual di kedai muffinnya kelak.

Empat tahun kemudian, kedai muffin itu masih tetap sekedar mimpi. İbu menghela napas. Kali ini ia akan mencari cara.

Kedai muffin, tunggu aku ya. Aku masih harus bersabar. İbu membuka note di androidnya dan mengetikkan sejumlah hal yang melintas di kepalanya.

Akankah mimpi ibu untuk punya kedai muffin terwujud? Tunggu kisah selanjutnya, ya. Sampai jumpa.

Punya Kisah Unik Seputar Masak-memasak?

Kirimkan kisah Anda ke warteggaziantep@gmail.com. Cerita yang menarik dan memenuhi syarat akan kami muat di halaman ini. Kami tunggu.