WE&GE Edisi 1/Desember 2014 WE&GE Edisi 1/Desember 2014 | Page 10

Pada suatu hari ibu memanggang kue, yogurt cake ala Turki, pakai yogurt walau resepnya bukan resep orang Turki. Resep dari The Kitchn. Ternyata dari satu resep jadi dua loyang kue. Akhirnya ditumpuklah itu kue tak lupa dioles selai tengahnya. Kue pun membesar.

Anak-anak tak tampak tergila-gila pada kue itu. Mereka mau tapi tidak terlalu suka. Kue masih banyak. Siapa yang akan menghabiskan?

İbu memotong kue dan menyuruh baba untuk membawanya ke kantor. Baba hari itu tugas di Sosial Tesisi. Sisa kue disimpan di lemari es. Siapa tahu besok anak-anak mau makan kue.

Begitu baba pulang dari kantor, ibu langsung bertanya, "Bagaimana kuenya? Enak?"

"Teman-teman kira aku beli kue itu dari toko kue." Jawab baba.

"Hah? Berarti enak dong, ya?" Tanya ibu lagi.

"Ya, enak." Jawab Baba.

Wah. Berbunga-bungalah hati ibu. İa tak mengira kuenya dikira kue buatan toko. Eh, kue buatan toko itu enak, kan?

İbu memanggang lagi. Kali ini ibu memanggang muffin. Muffin stroberi. Niatnya hanya ingin menghabiskan selai stroberi yang tidak laku itu. Ternyata, setelah muffin matang, anak-anak tidak meliriknya. Mereka tidak antusias.

İbu pun risau. Siapa yang akan menghabiskan muffin sebanyak itu? İbu pun tak terlalu menyukainya. Muffin buatannya kali ini terlalu manis. İa agak menyesal telah melibatkan selai stroberi dalam pembuatan muffin itu.

Setelah menimbang-nimbang, ibu pun memutuskan untuk menyuruh baba membawanya ke toko atau ke Sosial Tesisi. İbu membungkus 11 muffin di kotak plastik.

CERITAKU

Kedai Muffin Ibu

Ayşe Açıkalın