Suara Golkar edisi Januari 2013 | Page 72

Dina Hidayana, S.P M.Sc.* ., MENGENALI CALON PEMILIH: Kunci Sukses Meraih Dukungan M engapa mengenali calon pemilih adalah hal mendasar dan utama dalam berkampanye? Sekalipun tidak sepenuhnya sama dan bisa jadi menjadi analogi yang bisa menimbulkan perdebatan, kampanye yang dilakukan seorang kandidat menjelang pemilu tidak ada bedanya dengan aktivitas menjual. Di sini sudah tentu yang dijual bukan barang atau jasa, melainkan program, kebijakan dan janji-janji perubahan. Tapi seperti halnya tindakan menjual barang atau jasa, pengetahuan yang terbatas atau nihil sama sekali tentang calon pembeli, yang dalam hal ini adalah calon pemilih, akan membuat “jualan” sebagus apa pun tidak akan “terbeli”. Karena itu informasi yang memadai dan pengetahuan yang baik tentang apa yang dikenal dalam 72 tradisi ilmu sosial dengan “perilaku pemilih” adalah wajib hukumnya bagi setiap kandidat peserta pemilu. Ada dua alasan penting mengapa pengetahuan yang baik tentang perilaku calon pemilih bersifat wajib. Pertama, tindakan memilih selalu disebabkan oleh banyak faktor. Seperti yang akan dijelaskan di bawah ini faktor-faktor penentu tersebut lebih dari satu dan sangat beragam. Jika seorang kandidat mengetahui dengan pasti faktor-faktor yang mempengaruhi para pemilih menjatuhkan pilihannya, kandidat yang bersangkutan bisa mengembangkan strategi “menjual” yang jitu agar tawaran program, kebijakan dan janji-janji perubahannya bukan saja menarik untuk dilirik tapi juga “laku keras”. Sebaliknya jika informasi yang relevan tentang alasanalasan yang mendasari tindakan para pemilih tidak dimiliki, bisa jadi program atau kebijakan yang dijual tidak menarik, salah sasaran atau bahkan menimbulkan kemarahan calon pemilih. Kedua, mengetahui faktor-faktor yang menentukan pilihan seseorang bisa jadi bukan perkara gampang. Sering saat sudah berada dalam kotak suara, hanya si pemilih dan Tuhan yang paling tahu faktor apa yang menentukan sebuah pilihan diambil. Walau demikian perilaku pemilih selalu memiliki pola. Pola tersebut adalah hasil berulangnya pengaruh faktor- faktor tertentu terhadap sekelompok pemilih dalam kurun waktu dan wilayah tertentu. Dengan berusaha mengenali dan mempelajari lebih dalam tentang pola perilaku pemilih, seorang kandidat setidaknya bisa memperkirakan bagaimana dan mengapa para calon pemilih menentukan pilihannya. Sudah tentu pengetahuan tentang pola ini masih bersifat hipotetis dan sebuah prediksi yang belum tentu sepenuhnya benar. Tapi paling tidak prediksi bisa membantu dan memandu para kandidat untuk menyiapkan dan mengemas tawaran program dan kebijakan dengan cara-cara tertentu. Secara garis besar faktor-faktor yang menuntun perilaku pemilih bisa dikenali dan dipahami dengan dua cara. Pertama, secara struktural setiap calon pemilih sudah berada dalam lokasi sosial dan budaya yang spesifik yang berpengaruh besar terhadap preferensi dan cara pandangnya. Lokasi atau kategori sosial ini memilahmilah perilaku pemilih berdasarkan perbedaan-perbedaan gender, usia, klan/etnik/agama, kelas sosial atau wilayah tempat tinggal. Dalam menyiapkan aktivitas kampanye atau dalam merumuskan dan mengemas program politik seorang kandidat harus dengan cermat mengetahui sebagian besar calon pemilih di wilayah operasinya berjenis kelamin apa, berusia berapa atau berapa