Suara Golkar edisi Januari 2013 | Page 64

Muda Berkarya Bejo Rudianto, Sekjen MKGR ANAK DESA YANG BERCITA-CITA MENUJU SENAYAN JAKARTA, SUARA GOLKAR— Bejo Rudianto bukanlah anak muda yang populer. Karier politiknya memang belum terlalu panjang. Baru 10 tahun berkiprah. Namun jangan tanya visi dan dedikasinya untuk bangsa. Cita-citanya terhampar luas di tengah kondisi bangsa yang makin menurun: hukum yang dipermainkan, korupsi merajalela, pertumbuhan penduduk tak terkendali, nasib petani makin memprihatinkan.  “Dalam kondisi demikian, pilihannya hanya dua. Diam melihat nasib bangsa hancur berkepingkeping atau aktif bersama komponen bangsa yang lain. Untuk ambil bagian, berbuat, berbenah untuk kebaikan 64 bangsa. Menegakkan kehormatan, kedaulatan dan marwah bangsa di tengah bangsa-bangsa lain,” ungkap Sekjen MKGR Bejo Rudianto kepada Suara Golkar, Selasa (21/01) lalu. Sebagai tokoh muda Partai Golkar, sebuah panggilan suci untuk memperbaiki marwah bangsa yang membuatnya terjun dalam dunia politik. Baginya berpolitik bukan aktivitas yang kotor, culas, curang, menghalalkan segala cara. Berpolitik adalah kegiatan pengabdian yang luhur dan suci. Panggilan yang menurutnya pilihan paling tepat, meski sebelumnya dia tidak pernah meliriknya. “Perjuangan sekarang bukan lagi perjuangan menggunakan senjata. Tetapi harus melalui jalurjalur konstitusional. Pilihan yang tepat tentunya adalah jalur politik. Politik adalah alat perjuangan untuk kebaikan bangsa dan negara,” katanya. Ketertarikannya kepada partai politik diawali dengan riset yang panjang seputar dinamika di internal partai politik. Pertemuan dengan Tuswandi yang kala itu menjabat Sekjen Golkar memberikan pencerahan padanya. Bahwa Golkar  adalah wahana perjuangan yang paling tepat. “Waktu itu saya diberikan buku tentang 30 tahun Golkar. Dalam buku tersebut, dijelaskan mengenai tujuan, latar belakang mengapa Golkar mengambil sikap demikian dalam konteks tertentu.