Muda Berkarya
Bejo Rudianto, Sekjen MKGR
ANAK DESA YANG BERCITA-CITA
MENUJU SENAYAN
JAKARTA, SUARA GOLKAR—
Bejo Rudianto bukanlah anak muda
yang populer. Karier politiknya
memang belum terlalu panjang. Baru
10 tahun berkiprah. Namun jangan
tanya visi dan dedikasinya untuk
bangsa. Cita-citanya terhampar luas
di tengah kondisi bangsa yang makin
menurun: hukum yang dipermainkan,
korupsi merajalela, pertumbuhan
penduduk tak terkendali, nasib petani
makin memprihatinkan.
“Dalam
kondisi
demikian,
pilihannya hanya dua. Diam melihat
nasib bangsa hancur berkepingkeping atau aktif bersama komponen
bangsa yang lain. Untuk ambil bagian,
berbuat, berbenah untuk kebaikan
64
bangsa. Menegakkan kehormatan,
kedaulatan dan marwah bangsa di
tengah bangsa-bangsa lain,” ungkap
Sekjen MKGR Bejo Rudianto kepada
Suara Golkar, Selasa (21/01) lalu.
Sebagai tokoh muda Partai
Golkar, sebuah panggilan suci untuk
memperbaiki marwah bangsa yang
membuatnya terjun dalam dunia
politik. Baginya berpolitik bukan
aktivitas yang kotor, culas, curang,
menghalalkan segala cara. Berpolitik
adalah kegiatan pengabdian yang
luhur dan suci. Panggilan yang
menurutnya pilihan paling tepat,
meski sebelumnya dia tidak pernah
meliriknya. “Perjuangan sekarang
bukan lagi perjuangan menggunakan
senjata. Tetapi harus melalui jalurjalur konstitusional. Pilihan yang tepat
tentunya adalah jalur politik. Politik
adalah alat perjuangan untuk kebaikan
bangsa dan negara,” katanya.
Ketertarikannya kepada partai
politik diawali dengan riset yang
panjang seputar dinamika di internal
partai politik. Pertemuan dengan
Tuswandi yang kala itu menjabat Sekjen
Golkar memberikan pencerahan
padanya. Bahwa Golkar adalah
wahana perjuangan yang paling tepat.
“Waktu itu saya diberikan buku tentang
30 tahun Golkar. Dalam buku tersebut,
dijelaskan mengenai tujuan, latar
belakang mengapa Golkar mengambil
sikap demikian dalam konteks tertentu.