juga mengunjungi dan menyapa para
penghuni Panti Jompo Tresna Werda
di Lampung Selatan.
Saat menjenguk anak-anak pasien
hydrocephalus di RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek ARB melihat pasien bernama
Saskia yang membutuhkan bantuan.
Tim dokter rumah sakit tersebut
merekomendasikan agar Saskia
mendapat perawatan yang lebih baik
dan ARB menyatakan kesiapannya
membantu. “Nanti saya akan ikut
membantu biaya perawatannya,” kata
ARB.
ARB mengatakan, saat ini banyak
keluarga yang tidak mampu karena
kesulitan biaya pengobatan. Karena
itu, ke depan, jelas ARB, harus ada
pengobatan gratis bagi orang-orang
tak mampu di seluruh Indonesia.
HANYA ADA MERAH PUTIH
Dalam safari tersebut, Gubernur
Lampung yang nota bene adalah
Ketua PDIP Lampung, Sjachroedin
Z.P., mendampingi ARB. Salah
satunya saat menghadiri upacara
wisuda perguruan tinggi Teknokrat
dan silaturahami dengan masyarakat
dan kader Golkar di kediaman Alzier
Dianis Thabranie di Bandar Lampung.
Kehadiran Sjahroedin dalam
forum tersebut menarik perhatian
masyarakat. Sjahroedin bahkan
mengapresiasi
ARB
sebagai
putra terbaik Lampung yang telah
berkontribusi besar, tidak hanya untuk
Lampung tetapi untuk Indonesia.
“Tidak salah kalau kita punya
presiden yang orang Lampung,” kata
Sjahroedin, yang seketika disambut
tepuk tangan seluruh hadirin.
Bagi Sjachroedin, kehadirannya
bersama ARB semata-mat sebagai
hubungan saudara, adik dan yunior
ARB. Dia mengaku mengenal ARB
sejak kecil karena abangnya, Sutomo,
adalah teman bermain ARB saat masih
kanak-kanak. Karena itu, dia minta
agar tidak ada yang berpikir macammacam mengingat perbedaan partai
keduanya. “Walau beda partai, kami
tidak ada masalah. Urusan partai,
urusan lain. Ini pertemuan saudara:
pertemuan adik dengan abang,” kata
Sjachroedin.
ARB
juga
membenarkan
pernyataan Sjachroedin. ARB
mengaku mengenal Sjachroedin sejak
kecil. Keluarga Sjahroedin tidak hanya
sebagai teman, tapi sudah seperti
saudara. Pada masa kecil, ARB
terbiasa memanggilnya “Udin”. Namun
saat ini, dia harus dipanggil sebagai
Pak Sjachroedin karena kini menjabat
sebagai gubernur. “Yang saya tahu
tentang Pak Sjahroedin, dulu waktu
kecil, bandelnya bukan main. Saya
tidak tahu bagaimana ceritanya dia
bisa jadi Gubernur, dua periode pula,”
ucap ARB, yang kemudian diikuti tawa
seluruh hadirin. ARB menegaskan
bahwa karena semua bersaudara
maka jangan membiarkan diri disekatsekat oleh perbedaan suku, agama,
apalagi perbedaan partai. “Kalau
untuk Indonesia, tidak ada kuning,
tidak ada merah, biru, hijau, dan
sebagainya. Yang ada hanyalah
Merah Putih,” katanya.(en/VIVA)
61