Suara Golkar edisi Januari 2013 | Page 61

juga mengunjungi dan menyapa para penghuni Panti Jompo Tresna Werda di Lampung Selatan. Saat menjenguk anak-anak pasien hydrocephalus di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek ARB melihat pasien bernama Saskia yang membutuhkan bantuan. Tim dokter rumah sakit tersebut merekomendasikan agar Saskia mendapat perawatan yang lebih baik dan ARB menyatakan kesiapannya membantu. “Nanti saya akan ikut membantu biaya perawatannya,” kata ARB. ARB mengatakan, saat ini banyak keluarga yang tidak mampu karena kesulitan biaya pengobatan. Karena itu, ke depan, jelas ARB, harus ada pengobatan gratis bagi orang-orang tak mampu di seluruh Indonesia. HANYA ADA MERAH PUTIH Dalam safari tersebut, Gubernur Lampung yang nota bene adalah Ketua PDIP Lampung, Sjachroedin Z.P., mendampingi ARB. Salah satunya saat menghadiri upacara wisuda perguruan tinggi Teknokrat dan silaturahami dengan masyarakat dan kader Golkar di kediaman Alzier Dianis Thabranie di Bandar Lampung. Kehadiran Sjahroedin dalam forum tersebut menarik perhatian masyarakat. Sjahroedin bahkan mengapresiasi ARB sebagai putra terbaik Lampung yang telah berkontribusi besar, tidak hanya untuk Lampung tetapi untuk Indonesia. “Tidak salah kalau kita punya presiden yang orang Lampung,” kata Sjahroedin, yang seketika disambut tepuk tangan seluruh hadirin. Bagi Sjachroedin, kehadirannya bersama ARB semata-mat sebagai hubungan saudara, adik dan yunior ARB. Dia mengaku mengenal ARB sejak kecil karena abangnya, Sutomo, adalah teman bermain ARB saat masih kanak-kanak. Karena itu, dia minta agar tidak ada yang berpikir macammacam mengingat perbedaan partai keduanya. “Walau beda partai, kami tidak ada masalah. Urusan partai, urusan lain. Ini pertemuan saudara: pertemuan adik dengan abang,” kata Sjachroedin. ARB juga membenarkan pernyataan Sjachroedin. ARB mengaku mengenal Sjachroedin sejak kecil. Keluarga Sjahroedin tidak hanya sebagai teman, tapi sudah seperti saudara. Pada masa kecil, ARB terbiasa memanggilnya “Udin”. Namun saat ini, dia harus dipanggil sebagai Pak Sjachroedin karena kini menjabat sebagai gubernur. “Yang saya tahu tentang Pak Sjahroedin, dulu waktu kecil, bandelnya bukan main. Saya tidak tahu bagaimana ceritanya dia bisa jadi Gubernur, dua periode pula,” ucap ARB, yang kemudian diikuti tawa seluruh hadirin. ARB menegaskan bahwa karena semua bersaudara maka jangan membiarkan diri disekatsekat oleh perbedaan suku, agama, apalagi perbedaan partai. “Kalau untuk Indonesia, tidak ada kuning, tidak ada merah, biru, hijau, dan sebagainya. Yang ada hanyalah Merah Putih,” katanya.(en/VIVA) 61