Suara Golkar edisi Januari 2013 | Page 46

Ekonomi Foto: www.idadwiw.wordpress.com SEJUMLAH SOLUSI GOLKAR UNTUK MASALAH EKONOMI Mengefektifkan BPK Selama ini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) hanya melakukan audit dari sisi laporan keuangan. Padahal yang lebih penting adalah audit terhadap kinerja, audit kinerja yang selama ini dilakukan BPK belum baku. Yang sudah baku itu baru audit keuangan yang saban tahun selalu dilaporkan BPK ke DPR pada pertengahan tahun. “Audit keuangan itu semata-mata berupa pemeriksaan apakah pemerintah pusat dan daerah patuh pada aturan yang ada. Bukan pada manfaatnya, ujar Harry Azhar Azis kepada Suara Golkar di Media Center BKPP Pusat Partai Golkar, Jakarta, Rabu (15/01) lalu. Contoh ketidaaan audit kinerja terjadi pada subsidi BBM yang mencapai Rp300 triliun. Secara normatif aturannya membolehkan rakyat, siapa saja, untuk menerimanya. Tapi apakah hal itu untuk kemakmuran rakyat? Faktanya, seperti disebutkan sebuah hasil survei, 80% penikmat subsidi itu 46 adalah orang kaya dan hanya 20% dinikmati rakyat miskin. Itu artinya, dari total Rp300 triliun itu, hanya Rp60 triliun dinikmati orang miskin. Sisanya, Rp240 triliun dinikmati orang kaya. Hal serupa juga terjadi pada penggunaan dana Bantuan Sosial (Bansos) oleh kepala daerah. Jika berdasarkan audit keuangan, bisa saja pemerintah atau pemda meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian, tapi tidak berarti mencerminkan bahwa APBN atau APBD digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dengan adanya standar baku audit kinerja, maka kinerja setiap lembaga pemerintah atau pemerintah daerah dapat diukur. Misalnya, dengan dana Rp100 miliar, provinisi A berhasil mengurangi 100 penduduk miskin. Sementara provinsi B dengan anggaran yang sama mengurangi 150 penduduk miskin dan provinsi C mengurangi 200 penduduk miskin. Mana yang lebih bagus di antara ke Y