membantu pekerjaan administrasi di
DPD I DKI Jakarta.
“Akhirnya saya malah jarang
bekerja, sehingga waktu itu Pak Ahmadi meminta untuk memilih salah
satu. Awalnya saya belum mengambil
keputusan. Saya bilang akan konsultasi dulu ke senior saya Pak Sarwono
yang juga orang Golkar,” aku Kepala
Sekretariat Bapilu pada 2000, 2004
dan 2009 tersebut.
Setelah berbicara dengan Pak
Sarwono, lanjutnya, akhirnya memutuskan memilih bekerja di Fraksi Partai
Golkar. “Saya masih ingat sekali, hari
Sabtu, 13 Oktober 1982 jam 11 siang.
Untuk pertama kalinya saya datang ke
DPR,” urai Pak Pardi.
Menurutnya, bekerja di DPR, terutama di Fraksi Golkar hingga sekarang
membawa kebanggaan tersendiri
meskipun DPR sering kali dikritik oleh
banyak pengamat, mahasiswa, maupun akademisi. Ia juga merasa tidak
minder bekerja sama dengan seluruh
komponen yang ada. Di sini, katanya, semua bisa saling mengisi antara
anggota DPR, pimpinan, staf maupun
kesekretariatan.
“Meski sesibuk apa pun, komunikasi antara elemen di sini tidak putus.
Jadi saya senang bekerja dengan
model begitu,” ujar pria yang memiliki
lima anak ini.
Dengan masa kerja yang panjang
tersebut, pria yang telah memiliki dua
cucu ini mengaku juga dekat dengan
anggota fraksi lain. Kedekatan tersebut tentunya terbangun dengan jalinan komunikasi yang intens dan waktu
yang lama. Namun demikian, hal yang
prinsip bagi dia, apa yang ada di ruangannya tidak boleh bocor ke ruangan
lain.
“Alhamdulillah, sampai saat ini
saya bisa dekat siapa saja di DPR.
Dekat dengan Sekretariat Jenderal. Dekat juga dengan pejabat di
luar fraksi. Tapi yang pasti saya tahu
batasnya,” jelas Pak Pardi.
Pengabdian yang panjang di gedung dewan membuatnya bisa melihat perbedaan-perbedaan antar-generasi yang duduk mewakili rakyat di
sana. Perbedaan-perbedaan tersebut,
katanya memang ada dan banyak
sekali. Tapi, ia melihat dari sisi positifnya, perbedaan itu membawa tujuan
yang sama.
Sementara disinggung soal
pendapatan, ia mengatakan cukup
untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. “Kalo di sini relatif. Tunjangan juga dapat walaupun kecil. Sering
kali juga dapat tambahan jika ada acara. Pada prinsipnya semua untuk keluarga,” tambah Pak Pardi.
Pada Rapimnas ke-5 Partai Golkar
2013 di Hotel JS Luwansa bulan lalu,
Pak Pardi juga ada di sana. Meski bu-
kan sebagai peserta, dia mengikuti
rangkaian kegiatan.
Dia juga ikut urun pendapat soal
Rapimnas kali ini. Menurut dia, Rapimnas tahun ini mau tidak mau dituntut
serius guna memenangkan Partai Golkar di Pemilu 2014. Dia pun optimistis,
Pemilu tahun depan akan menjadi milik Partai Golkar.
“Diharapkan ada pertambahan
kursi pada periode 2014-2019. Saya
rasa semua mengharapkan kemenangan itu. Dinanti seluruh kader Golkar
mulai dari tingkat desa, kecamatan
hingga ke pusat,” jelas Pak Pardi.
Dia pun mengingatkan, penentu
kemenangan Partai Golkar itu adalah
para kader yang tersebar luas di desa,
kecamatan dan kabupaten.
Dia juga melihat, saat ini seluruh
kader sangat solid, seperti terlihat
dalam Rapimnas tersebut. Menurut
dia, itu menjadi modal memenangkan
Pemilu mendatang. (gn/sa)
41