Suara Golkar edisi Januari 2013 | Page 41

membantu pekerjaan administrasi di DPD I DKI Jakarta. “Akhirnya saya malah jarang bekerja, sehingga waktu itu Pak Ahmadi meminta untuk memilih salah satu. Awalnya saya belum mengambil keputusan. Saya bilang akan konsultasi dulu ke senior saya Pak Sarwono yang juga orang Golkar,” aku Kepala Sekretariat Bapilu pada 2000, 2004 dan 2009 tersebut. Setelah berbicara dengan Pak Sarwono, lanjutnya, akhirnya memutuskan memilih bekerja di Fraksi Partai Golkar. “Saya masih ingat sekali, hari Sabtu, 13 Oktober 1982 jam 11 siang. Untuk pertama kalinya saya datang ke DPR,” urai Pak Pardi. Menurutnya, bekerja di DPR, terutama di Fraksi Golkar hingga sekarang membawa kebanggaan tersendiri meskipun DPR sering kali dikritik oleh banyak pengamat, mahasiswa, maupun akademisi.  Ia juga merasa tidak minder bekerja sama dengan seluruh komponen yang ada. Di sini, katanya, semua bisa saling mengisi antara anggota DPR, pimpinan, staf maupun kesekretariatan. “Meski sesibuk apa pun, komunikasi antara elemen di sini tidak putus. Jadi saya senang bekerja dengan model begitu,” ujar pria yang memiliki lima anak ini. Dengan masa kerja yang panjang tersebut, pria yang telah memiliki dua cucu ini mengaku juga dekat dengan anggota fraksi lain. Kedekatan tersebut tentunya terbangun dengan jalinan komunikasi yang intens dan waktu yang lama. Namun demikian, hal yang prinsip bagi dia, apa yang ada di ruangannya tidak boleh bocor ke ruangan lain. “Alhamdulillah, sampai saat ini saya bisa dekat siapa saja di DPR. Dekat dengan Sekretariat Jenderal. Dekat juga dengan pejabat di luar fraksi. Tapi yang pasti saya tahu batasnya,” jelas Pak Pardi. Pengabdian yang panjang di gedung dewan membuatnya bisa melihat perbedaan-perbedaan antar-generasi yang duduk mewakili rakyat di sana. Perbedaan-perbedaan tersebut, katanya memang ada dan banyak sekali. Tapi, ia melihat dari sisi positifnya, perbedaan itu membawa tujuan yang sama. Sementara disinggung soal pendapatan, ia mengatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. “Kalo di sini relatif. Tunjangan juga dapat walaupun kecil. Sering kali juga dapat tambahan jika ada acara. Pada prinsipnya semua untuk keluarga,” tambah Pak Pardi. Pada Rapimnas ke-5 Partai Golkar 2013 di Hotel JS Luwansa bulan lalu, Pak Pardi juga ada di sana. Meski bu- kan sebagai peserta, dia mengikuti rangkaian kegiatan. Dia juga ikut urun pendapat soal Rapimnas kali ini. Menurut dia, Rapimnas tahun ini mau tidak mau dituntut serius guna memenangkan Partai Golkar di Pemilu 2014. Dia pun optimistis, Pemilu tahun depan akan menjadi milik Partai Golkar. “Diharapkan ada pertambahan kursi pada periode 2014-2019. Saya rasa semua mengharapkan kemenangan itu. Dinanti seluruh kader Golkar mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga ke pusat,” jelas Pak Pardi. Dia pun mengingatkan, penentu kemenangan Partai Golkar itu adalah para kader yang tersebar luas di desa, kecamatan dan kabupaten. Dia juga melihat, saat ini seluruh kader sangat solid, seperti terlihat dalam Rapimnas tersebut. Menurut dia, itu menjadi modal memenangkan Pemilu mendatang. (gn/sa) 41