Padang Ekspres | Page 7

Tak Lagi Mudah Pusing dan Nyeri di Lambung
CMYK

SAMBUNGAN

7

RABU • 29 MEI 2013

Quo Vadis Penuntasan Kasus Korupsi...

Sambungan dari hal. 1
Yang terakhir ini, dalam praktik hukum kolonial disebut“ pasal karet”, elastis. Terserah mau dikenakan pasal yang mana, tergantung pada otoritas“ the man behind the gun”. Maka, seseorang bisa dijerat dengan pasal ini dan itu, bahkan juga bisa dijerat pasal berlapis. Atau sebaliknya bebas sama sekali dari jerat hukum. Itulah“ Gebrakan Baru ala Kajati Sumbar” saat ini seperti yang dipertanyakan Rony Saputra, pegiat antikorupsi( Padek, 23 / 5).
Gebrakan Kajati Sumbar melepas galodo SP3 untuk 22 kasus korupsi di daerah ini, menurut Rony, merupakan langkah mundur yang mengejutkan. Mengejutkan karena galodo SP3 itu, baru pertama kali terjadi di Indonesia. Lagi pula, konon 10 di antara 22 kasus korupsi itu sudah ada tersangka. Jika ini benar, maka masuk akal jika ada opini liar yang mengatakan bahwa gebrakan Kajati itu terkesan ceroboh. Artinya, jerih payah penyidik Polda dan Kejati yang sudah bekerja selama ini, meskipun megap-megap, seperti dianggap bermain-main atau tidak benarbenar serius dalam penuntasan kasus kriminal‘ luar biasa’ ini.
Masuk akal juga jika kebijakan itu seperti memutarbalikkan fakta hukum 180 derajat, dari tersangka menjadi bebas. Gebrakan itu juga jelas-jelas bertolak belakang dengan upaya KPK, yang didukung penuh oleh publik negeri ini dalam perang melawan mafia hukum dan koruptor akhir-akhir ini.
Bagi aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Sumbar, gebrakan Kajati Sumbar itu rupanya ada juga hikmahnya. Ia telah membangunkan kembali kesadaran publik tentang betapa runyamnya praktik penuntasan kasus hukum di daerah ini. Ia juga telah mengusik rasa keadilan dan akal sehat masyarakat Sumbar. Delapan bulan bertugas di Sumbar, mestinya sudah cukup waktu bagi Pak Kajati kita ini untuk mengetahui komitmen masyarakat Sumbar dalam pemberantasan korupsi.
Lahirnya gerakan Forum Peduli Sumatera Barat( FPSB) yang sukses menggalang gerakan antikorupsi pada tahun 2002, bukan kebetulan. Pada umumnya, aktivis masyarakat sipil di daerah ini masih ingat dan tetap mengawal pesan Bung Hatta, bahwa daya rusak korupsi yang terbesar justru terjadi pada saat lengah, dan galau seperti saat ini.
Korupsi, kata Bung Hatta, adalah kanker yang akhirnya memupus harapan dan kepercayaan bersama. Ia meludahi kemungkinan bahwa di sekitar kita masih ada orang bersih.
Pada tingkat paling destruktif itulah opini liar tentang penanganan kasus korupsi mengundang pendapat umum tentang penyamarataan. Esktremnya, pencampuradukan fakta dan opini: semua orang dianggap sama: cuma cari untung sendiri-sendiri.
Di masa lalu, sepanjang gerakan FBSB, keutamaan dalam memandang kejernihan fakta dan opini tidak perlu membuatnya terjebak pada pencampuradukan keduanya. Walaupun dengan susah payah, toh akhirnya mereka berhasil mengirim anggota DPRD Sumbar( 1999-2004) ke meja hijau.
Tidak Tidur
Gerakan masyarakat sipil di Sumbar sebenarnya tidak pernah tidur, meskipun kelihatannya demikian. Setelah FPSB, masih ada Gerakan Lawan Mafia Hukum. Para pegiat antikorupsi ini hanya ingin memberi kesempatan kepada aparat penegak hukum bekerja lebih tenang, profesional dan bersungguhsungguh. Orang Sumbar umumnya lebih suka bermusyawarah dalam menyelesaikan tiap persoalan. Mereka tidak ingin ributribut seperti yang terjadi di kebanyakan daerah di Indonesia. Mana aksi“ demo” yang tak berkesudahan dengan ricuh. Di daerah ini, hal semacam itu, alhamdulillah amat langka. Di daerah ini, akal budi jauh lebih mengemuka ketimbang mamburansang tak terkendali.
Bagi saya, kebijakan Kajati itu mengingatkan kita akan kekecewaan Bung Hatta terhadap permainan Belanda dalam Perundingan Linggarjati( 1947) di zaman perjuangan. Setelah Belanda memaksakan agar Indonesia bernaung di bawah RIS dengan“ bos besar” tetap Belanda, Hatta lalu bertanya:“ Dan mengapa Indonesia harus dipaksa menjadi mitra persemakmuran( RIS), sehingga ekor Belanda akan mengibas anjing Indonesia?”
Hatta lalu menambahkan,“ Belanda dengan baik hati memperbolehkan kita masuk ke ruang bawah tanah, padahal kita sudah mendaki seluruh anak tangga ke lantai paling atas.”( Marvis Ros 1991: 215). Analog dengan kekecewaan Hatta dengan permainan Belanda, masyarakat sipil Sumbar juga kecewa dengan“ gebrakan” galodo SP3 Kajati Sumbar. Ingat, gerakan masyarakat sipil untuk pemberantasan korupsi di Indonesia dimulai dari daerah ini. Baru kemudian menjalar ke daerah lain. Setelah dengan susah payah mereka menaiki anak tangga paling atas dalam mendorong gerakan pemberantasan korupsi yang begitu alot, janganlah hendaknya mereka disuruh kembali masuk ke ruang bawah tanah.(*)

Uang Simulator Mengalir ke Banggar

Sambungan dari hal. 1
Anggota DPR yang dimaksud adalah anggota Banggar DPR yang kala itu diketuai oleh Muhammad Nazaruddin, tersangka kasus Hambalang. Teddy mengaku tidak ingat kapan uang tersebut diserahkan. Namun, dia memastikan sebelum pertengahan 2011. Uang tersebut diserahkan dalam pertemuan di Plaza Senayan, Jakarta.
Saat ditanya jumlah uang yang diserahkan, awalnya Teddy mengaku tidak tahu. Dia hanya mengatakan uang itu dikemas dalam kardus.“ Jumlah kardusnya ada empat kardus untuk kelompok Banggar,” tutur perwira dengan dua melati di pundak itu. Namun saat dicecar pertanyaan oleh JPU, dia tidak bisa mengelak.
JPU memancingnya dengan menanyakan pinjaman ke Primer Koperasi Kepolisian( Primkoppol) Korlantas Mabes Polri sebesar Rp 4 miliar.“ Saudara tahu dari mana kalau itu uang empat miliar? Tadi kan cuma kardus empat buah,” cecar hakim. Setelah hakim menunjukkan BAP, Teddy tidak bisa berkelit.
Teddy pun emosi saat menjawab.“ Yang mengeluarkan uang adalah saya, empat miliar! Saya yang hitung itu adalah empat miliar. Ada kuitansinya empat miliar,” ujarnya dengan nada tinggi. Seisi ruang sidang pun kaget dengan suaranya yang keras di depan mikrofon.
Lalu hakim menanyakan apakah empat miliar itu yang akhirnya diantarkan ke Nazaruddin?“ Siap, Nazaruddin pun nerimanya empat miliar pak,” ujarnya tegas. Hanya saja, Teddy mengaku tidak langsung ber- temu Nazaruddin saat menyerahkan uang. Dia ditemui oleh empat anggota Banggar lainnya, yakni Bambang Soesatyo, Azis Syamsudin, Desmond Junaidi Mahesa, dan Herman Hery.
Mulanya, Teddy dan salah seorang dari empat anggota Banggar saling berkirim pesan melalui BlackBerry Messenger( BBM). Mereka janjian di sebuah restoran dekat dengan bioskop di Plaza Senayan. Belakangan, setelah bertemu Bambang dan Azis, lokasinya berubah karena restoran tersebut penuh. Mereka pindah ke sebuah kafe di dekat parkir mobil. Kemudian, Bambang memerintahkan ajudannya untuk mengambil uang yang telah dijanjikan.
Teddy mengaku tidak tahu apa tujuan Djoko Susilo menyuruh dia mengantar uang untuk anggota Banggar. Dia mengaku hanya menyerahkan saja, dan tidak pernah bertanya uang tersebut untuk apa. Meski begitu, Teddy mengatakan, perintah tersebut datang setelah Nazaruddin menawarkan anggaran pendidikan sebesar Rp 600 miliar.
Teddy tidak menyebut pendidikan apa dimaksud. Yang jelas, setelah penawaran itu, Korlantas mengajukan anggaran pendidikan untuk Pusdiklantas. Nazaruddin juga sempat menagih uang proyek tahun 2010 hampir bersamaan dengan datangnya tawaran tersebut. Tidak jelas proyek apa dimaksud.
Selain aliran dana ke anggota DPR, Teddy menyebut, semasa proyek tersebut ada uang mengalir ke semua staf Korlantas.“ Kalau terkait langsung( dengan simulator) saya tidak tahu, karena semua dapat mulai PNS sampai kombes,” ungkapnya.
Dia sendiri mengaku menerima Rp 25 juta dari Djoko.
Saat ditanya pengacara Djoko, Juniver Girsang, mengapa dia mau menerima, Teddy mengatakan, sebagai bawahan yang diberi uang oleh atasan tentu saja diterima.
Dalam persidangan tersebut juga terungkap bahwa Djoko menerima gratifikasi berupa mobil dan biaya perjalanan haji dari Budi Susanto. Mobil diberikan antara lain Countryman, Mazda, Lexus 3.500 dan Lexus 2.700. Kemudian, rombongan Djoko Susilo sebanyak 11 orang juga diberangkatkan haji atas biaya Budi.
Dikonfirmasi terpisah, anggota Banggar dari Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo membantah keterangan Teddy terkait pertemuan di Plaza Senayan. Menurut dia, apa yang disampaikan Teddy adalah cerita lama sudah dia jelaskan secara resmi.“ Semua kabar sudah saya bantah dalam kesaksian saya di KPK,” ujar Bambang saat dihubungi.
Menurut Bambang, sama sekali tidak ada pertemuan berujung penyerahan uang. Bambang tidak mau menjelaskan lebih lanjut, karena KPK sejatinya sudah mengetahui kronologi itu.
Lelang Sudah Diatur
Sementara itu, Teddy juga mengungkapkan soal permainan di balik kasus simulator SIM tahun 2011. Sejak awal penunjukannya sebagai ketua panitia lelang, sudah terjadi pelanggaran. Dia ditunjuk lewat surat perintah diteken oleh Djoko selaku Kakorlantas, bukan sebagai kuasa pengguna anggaran.
Menurut aturan, seharusnya menunjuk ketua panitia lelang adalah pejabat pembuat komitmen( PPK), bukan KPA apalagi Kakorlantas. Kemudian, Djoko mengarahkan agar lelang dimenangkan PT CMMA kemudian menyerahkan pekerjaan tersebut pada PT ITI.“ Malam-malam Budi Susanto sudah di ruangan Kakorlantas. Dia( Kakorlantas) bilang, Ted, nanti yang ngerjakan ndoro Budi,” ujar Teddy.
Penunjukan dia sebagai ketua panitia dilakukan Desember 2010. Spek Simulator disamakan dengan tahun sebelumnya. Pengumuman lelang dilakukan pada pekan ketiga Januari 2011. Dalam lelang tersebut tidak ada konsultan lelang. Meski begitu, tetap ada aanwijzing( penjelasan) lelang yang dilakukan pada Februari 2011.
Dari tujuh perusahaan yang mendaftar lewat website Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang atau jasa Pemerintah( LKPP), hanya enam yang mengikuti aanwijzing. Teddy juga mengaku tidak tahu perusahaan mendaftar itu fiktif.
Dia hanya tahu semua perusahaan yang mengikuti lelang merupakan kelompok Budi Susanto. Budi yang mengatakan perusahaan-perusahaan itu merupakan kelompoknya. Teddy mengaku baru tahu perusahaan itu fiktif setelah menonton pengakuan saksi dalam sidang sebelumnya di televisi.
Meski sudah tahu mengerjakan adalah Budi, namun Teddy beranggapan itu bukan penunjukan langsung. Sebab, tetap dilakukan lelang pengadaan di website LKPP. Karena pesertanya kelompok Budi, otomatis yang menang adalah PT CMMA. Lalu, PT CMMA menyerahkan ke PT ITI akhirnya tidak melaksanakan pekerjaan itu dengan baik.( byu / bay / jpnn)

Ketua DPRD Solok Hilang di...

Sambungan dari hal. 1
Budhi Erwanto tadi malam( 28 / 5), menyebutkan, koordinat rombongan sudah diketahui.“ Kini, anggota Bataliyon Yudha Sakti telah berangkat ke lokasi koordinat tersebut. Jaraknya sekitar 24 km, atau enam jam perjalanan. Dari 21 rombongan itu, enam orang dilaporkan kondisinya memburuk,” kata Budhi kepada Padang Ekspres di posko pencarian.
Rombongan ketua DPRD Kabupaten Solok itu berangkat dari Jorong Ujungladang, Nagari Kotosani menuju Pasalalang, Padang, Sabtu( 25 / 5), sekitar pukul 09.00. Rombongan 40 orang ini dijadwalkan sampai di Pasalalang pada Minggu( 26 / 5) sore. Namun, di tengah perjalanan, rombongan tersebut terpisah di sekitar kawasan hutan Bukit Barisan, perbatasan Kabupaten Solok dan Padang. Rombongan terpisah akibat terjebak air bah dan tidak bisa menyeberangi sungai, Sabtu( 25 / 5) malam.
Salah seorang rombongan selamat dan sampai di Padang, Mulyadi, 40, warga Ujungladang, Nagari Kotosani, Kecamatan X Singkarak mengatakan, dia berserta 18 orang lainnya terpisah dengan rombongan ketua DPRD. Waktu itu, dia bersama 18 orang lainnya berjalan lebih dulu akibat hujan di perbukitan. Sedangkan rombongan ketua DPRD tertinggal di belakang.“ Minggu sore, kami terpisah saat mengarungi hutan sekitar 5 km perjalanan,” ujar Mulyadi.
Mulyadi mengaku tidak mungkin balik menjemput rombongan tertinggal mengingat medan berat dan hujan lebat. Rencananya, mereka akan menunggu di garis finish di Pasalalang, Kuranji. Namun, Mulyadi cs ternyata juga

Tak Lagi Mudah Pusing dan Nyeri di Lambung

tersesat di perbukitan.“ Kami tidak keluar di Pasalalang, melainkan di kawasan Aiadingin Kototangah Padang,” ujarnya. Saat terpisah itu, tambahnya, bekal rombongan sudah mulai menipis.
Bupati Solok Syamsu Rahim yang ditemui Padang Ekspres di posko bencana, mengaku tidak tahu persis agenda napak tilas yang dilakukan ketua DPRD tersebut. Biarpun begitu, Syamsu mengaku rombongan sudah berkoordinasi dengannya sebelum berangkat.“ Sebelum berangkat kami memang saling koordinasi,” ujar mantan Wali Kota Solok itu.
BPKPB Padang mengerahkan 55 personel untuk melakukan pencarian dan dibantu warga Pasalalang.“ Rombongan diperkirakan berada di Bukit Nurjida,” tambah Budhi.
Warga Pasalalang menduga rombongan masih berada jauh di hutan. Harus melewati Bukit Macang, Bukit Lubang Tigo, Bukit Simpang Kumayan, Bukit Paninjauan, Bukit Kancah dan Bukit Nurjida.
Informasi diperoleh Padang Ekspres, enam dari 21 orang mengalami cedera sehingga tak bisa berjalan. Selain cedera, rombongan juga kehabisan bahan logistik.“ Berdasarkan cerita tukang pikat burung liar di hutan, dibutuhkan waktu sekitar 4-5 jam untuk sampai ke lokasi perkiraan keberadaan rombongan,” tukas Ketua BPBD Kabupaten Solok, Abdul Manan.
Musibah ini mengingatkan masyarakat Sumbar terhadap kasus serupa yang dialami Mendagri, Gamawan Fauzi ketika menjabat Bupati Solok. Gamawan hilang di Bukit Barisan selama lima hari bersama 115 orang lainnya pada Agustus 1999 lalu. Gamawan melakukan napak tilas dari Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, menuju Lubuk Minturun, Padang, atas permintaan ninik mamak Paninggahan.
Saat itu, rombongan Gamawan meninjau tanah ulayat masyarakat Paninggahan yang berperkara dengan Belanda. Dalam kondisi normal, jarak tempuh mencapai 18 jam. Setelah sehari perjalanan, rombongan terpecah menjadi tiga kelompok akibat tawon tanah mengamuk. Tim SAR berhasil menemukan rombongan Gamawan pada hari keempat.(*)

2 Napi Asing Kendalikan Sabu...

Sambungan dari hal. 1
Jeni yang mengaku hanya berperan sebagai kurir, siang kemarin sudah diterbangkan ke Jakarta guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Berita acara serah terima pemindahan tersangka dan barang bukti disaksikan kepala BNN Sumbar dan Lantamal Padang. Namun, perwakilan Mapolda Sumbar tak terlihat dalam serah terima tersangka tersebut.
Siapa dua napi asing itu? Reni belum bersedia mengungkapnya ke publik. Dia hanya menyebut kedua napi asing itu berinisial Mr, yang berarti lakilaki.“ Mr( mister) inilah yang mengendalikan,” tambah Reni. Soal di LP mana keduanya menjalani hukuman, lagi-lagi Reni enggan mengomentarinya mengingat BNN masih mengembangkan kasus tersebut.
Lantas bagaimana Jeni bisa bekerja sama dengan kedua napi asing itu? Penyidik muda ini menyebutkan Jeni pernah mendekam di LP yang sama dengan kedua napi asing itu dalam kasus pembunuhan.“ Jelang Jeni bebas, kedua napi itu menawarkan pada Jeni menjemput dan membawa sabu ke Indonesia,” ujar
SY RIDWAN / PADEK
LOKASI KORBAN: Kepala BPKPB padang, Budhi Erwanto menunjukkkan kemungkinan posisi korban, kemarin( 28 / 5)
Reni.
Jeni pun menyanggupinya. Dengan alasan, untuk membayar utang selama di penjara dan iming-iming upah puluhan juta rupiah.“ Tergiur dengan upahnya, Jeni menerima tawaran tersebut,” ujarnya.
Untuk memudahkan transaksi dengan para bandar narkoba internasional tersebut, Jeni selalu melakukan kontak dengan kedua napi itu via handphone. Namun, tindak tanduk Jeni tercium BNN karena kerap keluar masuk bandara-bandara besar beberapa negara di Asia. Mendapat informasi itu, BNN menurunkan tim guna memantau aktivitas Jeni.
“ Kita mendapatkan informasi dari intelijen di Malaysia bahwa pelaku akan membawa sabu ke Indonesia, kita pun standby di 26 bandara yang diduga jalur masuknya barang tersebut. Namun, pelaku malah menuju Sumbar yang rutenya sangat tidak mungkin dilalui pelaku. Pintu utama masuknya diduga di Medan,” ujarnya.
Reni mengungkapkan, jaringan Jeni sudah dipantau BNN sejak tiga bulan terakhir.“ Awalnya kami memperkirakan sabu bernilai miliaran rupiah itu masuk ke Indonesia pada tanggal 18 Mei. Ternyata masuk ke Indonesia pada 25 Mei,” ujarnya.
BNN meyakini Jeni tidak beroperasi sendirian, melainkan dengan sindikat internasional yang salah satunya dikendalikan kedua napi asing dari dalam LP di Pulau Jawa.“ Sebelumnya, Jeni dikabarkan telah memasukkan sabu ke Indonesia dengan rute Malaysia-Filipina mengambil barang, lalu kembali terbang ke Malaysia dan masuk ke salah satu bandara di Indonesia,” ujar Reni.
Dalam jumpa pers, Jeni sempat dibawa petugas Bea Cukai dan BNN. Dia memakai topeng dengan tangan diborgol dan dikawal ketat petugas. Kepada wartawan, wanita bongsor itu mengaku hanya menjadi kurir sabu dari salah seorang bandar narkoba jaringan internasional di Indonesia.“ Dari kurir ini, saya dapat upah Rp 20 sampai Rp 25 juta,” ujar Jeni.
Jeni ditangkap di BIM oleh petugas Bea dan Cukai Minggu( 26 / 5), pukul 09.30, membawa sabu seberat 2,8 kg atau senilai Rp 3 miliar. Saat ditangkap, Jeni menyimpan barang haram tersebut di dinding koper miliknya dan dilapisi oleh pakaian.( w)
CMYK
Sejak dua tahun yang lalu Nyonya Imbarmi Surono sering mengalami pusing dan nyeri di lambung.“ Kebetulan, saya menderita hipertensi dan maag,” kata ibu empat anak ini. Dan biasanya, menurut nenek seorang cucu ini, kedua keluhannya itu kambuh secara seiringsejalan. Untuk itu, sejak saat itu pula wanita 50 tahun ini tak pernah lepas dari obat hipertensi dan obat maag. Tentu hal itu membuat penduduk Dukuh banyon, Kelurahan Gayamprit, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, ini gamang juga. Maka, ketika ada yang mengenalkan MDL-525 kepadanya, ia pun tertarik. Sejak saat itu, ia pun rutin mengonsumsi kedelai bubuk instan yang telah berganti merek dengan New Mandala 525 tersebut.“ Dulu dua kali sehari saya minum, tapi akhir-akhir ini hanya sekali,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya 23 Juli 2010 lalu. Dan hasilnya?“ Setelah enam bulan meminumnya, pusing dan sakit di lambung itu sudah jarang muncul. Selain itu, buang air besar lancar, berat badan turun, dan lutut yang dulunya sakit setiap saya menlakukan salat sekarang tidak lagi,” ungkap wanita yang berjualan minuman di Pasar Gayamprit ini.
Memang, berkurangnya aktivitas tubuh, apalagi ditambah dengan kian merambatnya usia, dapat memancing sejumlah penyakit untuk bercokol, tak terkecuali pada mereka yang dulunya rajin berolahraga. Dr. Ir. Hery
Winarsi, dosen Biokimia yang mengarang buku Isoflavon menulis, isoflavon yang banyak terdapat pada kedelai memegang peranan penting dalam meningkatkan proses metabolisme dan menjaga kebugaran tubuh seseorang. Menurutnya, isoflavon itu merupakan penyusun fitoestrogen, yaitu hormon tubuh yang sangat berpengaruh pada vitalitas dan daya pikir seseorang. Dan bagi wanita, hormon ini merupakan hormon utama sehingga kekurangan estrogen bisa menyebabkan“ kewanitaan” wanita akan berkurang. Orang yang mengonsumsi isoflavon secara rutin atau terus-menerus akan segera mengalami pergantian sel-sel yang rusak sehingga tubuhnya lebih bugar dan tuanya lebih lama ketimbang yang tak melakukannya. Menurut badan kesehatan PBB, bangsa Jepang dan Cina relatif lebih sehat ketimbang bangsa lain akibat kebiasaan mengonsumsi kedelai sejak kecil. Banyak kedelai bubuk beredar, namun New Mandala 525 laku karena manfaatnya nyata. Produk ini bukan obat melainkan minuman kesehatan untuk keluarga, yang tersedia di apotek dan toko obat terkemuka di wilayah Anda. Untuk konsultasi, hubungi dokter
kami pada jam kerja di telepon bebas pulsa 08001401430 atau di e-mail purwati-s @ centrin. net. id. Produk ini bisa didapatkan di apotek dan toko obat terkemuka di kota Anda. Dan untuk informasi penjualan, hubungi distributor kami untuk Provinsi Sumatera Barat di 0751-7854443.( Advertorial)
P-IRT No. 815320503590