Padang Ekspres | Page 2

2 SAMBUNGAN RABU

• 29 MEI 2013

Terinspirasi Kisah Anaknya Berjuang Melawan Leukemia

Sambungan dari hal. 1
Tetapi, pada kasus tertentu, ada juga pasien dari kawasan pinggiran Jakarta yang“ terpaksa” menginap di Rumah Anyo karena pertimbangan penghematan ongkos.
Rumah singgah itu menjadi alternatif bagi penderika kanker dari daerah karena lokasinya dekat dengan Rumah Sakit( RS) Dharmais, serta RS Anak dan Bunda( RSAB) Harapan Kita.“ Tinggal jalan kaki saja sudah sampai di dua rumah sakit tadi,” ujar Pinta Manullang-Panggabean.
Perempuan kelahiran Jakarta 50 tahun silam itu menuturkan, Rumah Anyo sama sekali tidak menjalankan fungsi layanan medis kepada para tamu. Rumah itu hanya menampung sementara para penderita kanker, khususnya anak-anak, yang sedang menjalani terapi di Jakarta.“ Misi kami menampung para pasien kanker adalah ingin membantu meringankan beban keluarga pasien selama berobat di Jakarta,” ujar dia.
Karena itu, dirinya tidak menarik ongkos menginap seperti di hotel atau penginapan lain yang harganya bisa ratusan ribu sampai jutaan rupiah semalam. Rumah Anyo hanya menarik“ iuran kebersihan” Rp 5.000( lima ribu rupiah) per hari. Uang itu memang hanya untuk ongkos menyapu lantai dan mengganti seprai.
“ Kasihan keluarga pasien. Sudah capek fisik karena harus ke Jakarta membawa anak mereka yang sakit, juga capek psikis. Mereka masih harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengobati anaknya,” paparnya.
Pinta sangat tahu kondisi keluarga yang sedang mendapat“ cobaan” merawat pasien kanker. Sebab, anak pertama Pinta yang bernama Andrew Maruli David Manullang mengidap kanker darah atau leukemia. Andrew lahir di Jakarta pada 14 Juni 1989 itu, akhirnya meninggal dengan wajah tersenyum pada 7 Desember 2008.
Semasa hidup, Andrew punya nama panggilan sayang, Anyo. Nah, nama itulah kemudian diabadikan Pinta untuk menamai rumah singgah bagi anakanak penderita kanker tersebut. Setiap melihat bocah-bocah penderita kanker di Rumah Anyo, Pinta mengaku sering teringat Anyo.“ Tetapi, saya tidak boleh menunjukkan rasa sedih kepada mereka,” jelas perempuan bekerja sebagai media representative Euromoney itu.
Pinta lantas menceritakan kisah Anyo sejak terserang leukemia hingga dijemput Sang Pencipta. Saat awal sakit, Anyo sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya menderita kanker darah. Oleh beberapa dokter memeriksa, Anyo divonis sakit tifus.“ Tapi, tidak sembuh-sembuh,” ungkap Pinta.
Diliputi kecemasan luar biasa, Anyo akhirnya menjalani observasi total di salah satu rumah sakit swasta di kawasan Cinere, Kota Depok. Hasilnya cukup mengejutkan, leukositnya tinggi sekali hingga mencapai seratusan ribu keping. Dari kondisi tersebut, diagnosis Anyo terkena leukemia sangat kuat. Tanpa pikir panjang, Pinta lalu membawa Anyo ke RS Cipto Mangunkusumo( RSCM) Jakarta.
Saat itu, Anyo masih berusia 11 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Dia dibawa ke RSCM pada Oktober 2000. Kebetulan, saat itu sedang ada kerja sama antara RSCM dan Academisch Medisch Centrum( ACM) Belanda, semacam RS pendidikan di Indonesia. Kerja sama itu terkait penanganan penderita kanker.
Anyo menjadi bagian dari model kerja sama penanganan penderita kanker tersebut. Karena itu, November 2000, dia diterbangkan ke Belanda menjalani perawatan di Negeri Kincir Angin tersebut. Pengobatan kanker di ACM rata-rata sejenis kemoterapi.
Totalnya, Anyo menjalani pengobatan di ACM sekitar 3,5 bulan. Setelah kondisinya membaik, dia diperbolehkan pulang ke tanah air. Dia lalu melanjutkan sekolah di bangku SMP.
Tapi, saat menyiapkan diri menghadapi ujian kelas 3 SMP, tiba-tiba kondisi kesehatan Anyo turun drastis. Dia lantas diterbangkan ke Belanda lagi untuk menjalani pengobatan. Tidak membutuhkan waktu lama, dia diperbolehkan pulang karena kesehatannya sudah pulih kembali.
Kondisi memburuk terjadi lagi ketika Anyo duduk di kelas 3 SMA dan menghadapi ujian akhir. Bahkan, kali ini agak parah.“ Dugaan saya, pemicunya karena Anyo stres. Sebab, dua kali dia drop ketika akan menghadapi ujian,” ujarnya.“ Tapi, kata dokter bukan itu penyebabnya.”
Saat kondisi Anyo turun drastis menjelang kuliah itu, tim dokter di Belanda menyarankan agar dia menjalani transplantasi stem cell( sel induk atau sel punca). Kala itu sel induk yang akan ditransplantasikan ke Anyo adalah milik Andri Manullang, anak kedua Pinta, yang masih 15 tahun.
“ Si adik tidak keberatan. Dia ikhlas demi membantu kesembuhan kakaknya,” kenang Pinta.
Operasi transplantasi dilakukan pada 9 Mei 2007 dan berlangsung lancar. Awalnya, transplantasi stem cell itu dinilai cukup berhasil. Kondisi Anyo terus membaik. Setiap tes kesehatan, komposisi sel darahnya normal. Anyo pun sempat mengenyam kuliah di Amsterdam, Belanda.
Tetapi, setahun kemudian, April 2008, kesehatan Anyo turun lagi. Kali ini dokter sudah kehabisan cara. Sebab, transplantasi sel induk setahun sebelumnya dianggap sebagai upaya akhir. Anyo pun disarankan untuk menjalani kemoterapi umum.
Saran itu dijalankan Pinta. Dia membawa Anyo untuk menjalani kemoterapi sedianya berlangsung enam kali. Tetapi, saat memasuki kemoterapi ketiga, kondisi Anyo benar-benar lemah.“ Saya harus legawa. Menangis bombay percuma, malah membuat Anyo stres,” katanya.
Melihat kondisi anaknya yang“ tak berpengharapan lagi”, Pinta sempat menawari Anyo untuk tetap dirawat di Belanda atau pulang ke Indonesia. Anyo pun seperti menyadari umurnya tidak lama lagi. Karena itu, dia memilih pulang ke tanah air. Benar saja, tidak lama kemudian, tepatnya 7 Desember 2008, pemuda cerdas itu akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Belajar dari kasus anaknya tersebut, Pinta dapat memetik nilai positif. Dia harus menghargai proses, sedangkan urusan hasil akhir bukan wewenang manusia.(***)