Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 60

TEKMIL 60 PEPERANGAN ASIMETRIS (ASYMMETRIC WARFARE) P engaruh teknologi informasi dan komunikasi di zaman sekarang ini telah menjadi sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari, karena teknologi informasi telah menjadi sesuatu yang bernilai sekaligus menjadi senjata perusak. Lini pertempuran akan bergeser ke lini informasi. Konflik antar dua negara tidak lagi berlangsung secara kontak fisik, melainkan berlangsung melalui suatu permainan strategi perang informasi yang bersifat psychological warfare. Seperti contoh ketika Amerika Serikat dan Uni Soviet terlibat perang dingin pada Tahun 1980an. Sungguh naif jika dikatakan Soviet hancur secara ilmiah. Justru disitulah AS memainkan strategi informasi yang lebih bersifat psychological warefare, karena dengan adanya strategi informasi dan komunikasi yang dilancarkan pihak AS terhadap Soviet telah menciptakan keterbukaan di dalam ideologi komunis dan berhasil menyerang perekat kesatuan komunis. Selain itu, adanya pengaruh teknologi informasi dan komunikasi terhadap perang asimetris seperti yang pernah disadur ulang dari Kompas tertanggal 10 Juli 2008 pada presentasi Fayakhun Adriadi tentang “Asymmetric Warefare Strategy”, maka dapat disimpulkan bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang terjadi saat ini di seluruh belahan dunia sangat berpengaruh terhadap perang asimetris yang dilancarkan dunia blok barat terhadap negara lainnya. Karena adanya suatu kepentingan guna memenuhi kebutuhan kelompoknya, salah satunya adalah adanya kepentingan blok dunia barat terhadap negara lain yang dianggap memiliki sumber daya yang pontensial guna menunjang kebutuhan negaranya dengan memainkan strategi perang asimetris. PERANG ASIMETRIS Perang asimetris adalah suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra (perpaduan antara trigatra, yaitu: geografi, demografi, dan sumber daya alam, serta antara pancagatra, yaitu ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya). Perang asimetris selalu melibatkan peperangan antara dua aktor atau lebih, dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang. Adapun, rujukan lain yang menyatakan, Asymmetric Warfare merupakan penggambaran dari suatu konflik atau pertentangan antara kedua belah pihak yang berkepentingan, di mana dua dari sumber daya yang berbeda berperang dalam suatu esensi dan dalam perjuangan, berinteraksi dan berusaha untuk mengeksploitasi kelemahan karakteristik masing-masing. Perjuangan tersebut sering melibatkan strategi dan taktik perang konvensional, yang “lemah” kombatan mencoba menggunakan strategi untuk mengimbangi kekurangan dalam kuantitas atau kualitas. Strategi tersebut belum tentu menggunakan kekuatan militer.