Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 56

INFO 56 ARISAN: KENAPA TIDAK? K etika kita mendengar sebuah kata arisan, pasti sudah tidak asing lagi dengan budaya turun temurun dari dahulu hingga saat ini yang sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia mulai dari si kaya sampai si miskin & bahkan dari anak-anak hingga bapak-bapak juga suka mengadakan arisan di lingkungan mereka masing-masing. Semua seakan menjadi satu kesatuan dalam kegiatan arisan, sebagai salah satu sarana silahturahmi sesama umat manusia dikehidupan nyata yang mampu menyatukan semua golongan tanpa membeda-bedakan suku, agama & warna kulit menjadi satu. Semua rutinitas yang memenuhi isi kepala kita, seolah menjadi tersingkirkan secara perlahan karena suasana arisan yang begitu penuh canda tawa. “Arisan” telah dilaksanakan oleh segala lapisan masyarakat, masing-masing lapisan masyarakat mempunyai kecenderungan sendiri-sendiri dalam mengadakan “arisan”. Standarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing lapisan masyarakat tersebut. Misalnya saja untuk “arisan” barang, lapisan masyarakat tingkat rendah (bawah) cenderung mengadakan “arisan” alat-alat rumah tangga non elektris, untuk lapisan masyarakat tingkat tengah cenderung mengadakan “arisan” peralatan elektris. Kendaraan bermotor. Sedangkan untuk lapisan masyarakat tingkat atas cenderung mengadakan “arisan” rumah, dan lain-lain. Dan untuk “arisan” uang, masing-masing lapisan masyarakat juga mempunyai standar tertentu sesuai dengan kemampuan mereka. Pengertian dari arisan adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya, undian dilaksanakan dulu sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya. Berarisan sama artinya bertemu (berkumpul) secara berkala untuk arisan. Nantinya, pada tiap bulan salah satu peserta akan mendapatkan Rp 2 juta itu dengan cara diundi. Pada bulan berikutnya, undian dilanjutkan untuk peserta yang belum dapat. Tentu saja, peserta yang sudah pernah mendapat undian tetap harus menyetor Rp 200 ribu tiap bulan sampai 10 bulan, atau sampai semua peserta kebagian mendapat undian. Dalam perkembangan arisan tak hanya diartikan sebagai ajang kumpul-kumpul sosialisasi. Sekarang arisan sudah berkembang luas. Ada arisan lewat surat, email, dan lain-lain. Bahkan para peserta tidak saling kenal apalagi ketemu. Untuk jenis yang terakhir saya sebutkan ini, saya tidak menyarankannya Anda mengikuti karena terlalu banyak unsur yang tidak jelas. Jika Anda tidak mendapatkan hasil yang dijanjikan tidak ada pihak yang bisa Anda tuntut. Kalau Anda melihat acara arisan dari sisi yang lain, katakan saja dari sisi uang, maka “berdoa” saja supaya Anda bisa mendapatkan undian arisan tersebut pada saat-saat awal, sehingga ini sama saja dengan mendapatkan pinjaman yang bisa Anda kembalikan dengan cara mengangsur pada bulan-bulan berikutnya dan tanpa bunga. Walaupun, tentu saja, yang namanya undian, tidak bisa Anda pastikan kapan Anda akan mendapatkannya, kan? Dampak positif “arisan”, adalah: 1. Memupuk rasa kegotongroyongan pada diri anggota kelompok “arisan”. 2. Terjalin hubungan kekeluargaan. 3. Bisa terpenuhi suatu kebutuhan keluarga dengan cara menabung. 4. Mengisi waktu luang, sehingga tidak dipergunakan untuk mengadakan kegiatan yang tiada guna. Dampak negatif “arisan”, antara lain: 1. “Arisan” digunakan sebagai tempat menceritakan kejelekan orang (ngrasani/ngumpat), sehingga malah tidak menciptakan hubungan kekeluargaan misalnya terbentuk kelompok-kelompok kecil yang saling bermusuhan dalam kelompok “arisan” tersebut. 2. Karena terlalu sibuk dalam kegiatan “arisan”, mereka tidak