Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Seite 50
INFO
50
Filsafat
“Aku”
“SIAPAKAH AKU…?”
Pertanyaan ini begitu sukar
dipahami dan tersembunyi, karena
selalu ada unsur misteri dalam
pertanyaan mengenai siapa kita.
Aku merupakan
konsepsi diri
sebagai ego yang terbungkus
kulit (skin-encapsulated ego). Kita
menganggap “aku, diriku” identik
dengan keseluruhan organisme
fisik kita. Kebanyakan dari kita
merasa “aku” (egoku, diriku,
sumber kesadaranku) sebagai
pusat kesadaran dan sumber
tindakan yang berada di tengah
“kantong kulit”. Bagaimana kita
menggunakan kata “aku” dalam
perbincangan
sehari-hari
kita
tidak terbiasa mengatakan “aku
adalah tubuh”. Kita lebih sering
mengatakan “aku mempunyai
tubuh”. Kita tidak mengatakan
“aku mendenyutkan jantungku”,
sebagaimana kita mengatakan
“aku berjalan, aku berpikir, aku
berbicara”. Kita tidak menganggap
“aku, diriku” identik dengan
keseluruhan organisme fisik kita.
Kita menganggap “aku”
sebagai sesuatu yang berada
di dalam organisme fisik itu dan
sebagian orang barat menempatkan ego mereka dalam pikiran.
Ketika orang China atau Jepang
hendak menjelaskan pusat dirinya,
mereka akan menunjukan pada
apa yang disebut sebagai kokoro
(Jepang) dan shin (China), yaitu
hati sanubari (heart mind). Kita
melihat sebuah dunia yang asing
bagi kita, seperti ungkapan dari
penyair A.E. Housman merasakan
“Aku, orang asing yang ketakutan,
dalam sebuah dunia yang tak
pernah kubuat”. Di luar diri, kita
menghadapi sebuah dunia yang
sangat asing bagi kita, bahwa apa
yang ada di luar “aku” bukanlah
“aku” dan terciptalah perasaan
bermusuhan dan ketersaingan
yang asasi antara diri kita dengan
dunia luar. A.C. Ewing dalam
bukunya
“Persoalan-persoalan
mendasar Filsafat” mengatakan
jika ada kesadaran terhadap suatu
argumen yang berkaitan dengan
“diri” yang mengetahui premispremis argumen tersebut pasti
mengetahui kesimpulannya dan
ini memakan waktu. Lebih lanjut
dikatakan bahwa diri yang eksisi
sebagai “substansi” mengatasi
dan melampaui pengalamanpengalamannya. Di sini kita
dihadapkan
pada
kesulitankesulitan yang sama dengan yang
kita temui saat menanyakan apa itu
substansi fisik yang mengatasi dan
melampaui kualitas-kualitas dan
hubungan-hubungannya. Apakah
substansi di balik pengalamanpengalaman saya (atau seringkali
disebut ego murni) berubah atau
tidak?
Jika berubah, saya bukan
lagi diri saya sendiri, jika tidak
berubah,
substansi
tersebut
bukanlah “saya” karena saya
sudah tentu selalu menganggap
diri saya mampu berubah dan saya
harap menjadi semakin baik.
Kasus ego murni lebih kuat
daripada kasus substansi fisik
dalam pengertian suatu dasar
yang mengatasi dan melampaui
kualitas-kualitasnya. Gagasan mengenai ego murni atau substansi
apa pun yang mengatasi dan
melampaui
kualitas-kualitasnya
tidak dapat didefenisikan dari segi
selain ini, lalu bagaimana saya
bisa tahu seperti apa wujudnya,
dan jika saya tidak punya gagasan
mengenai seperti apa wujudnya,
bagaimana saya bisa melekatkan
makna apapun pada pertanyaan-