Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 | Page 45

yang mandiri dan jangan paksakan untuk menjadi seperti kita, karena kehidupan mereka di hari esok akan berbeda dengan kehidupan kita saat ini. Setiap zaman akan memiliki tantangannya sendiri. Bukankah kelak kita akan meninggalkan gelanggang? Sedangkan anak-anak kita masih harus berjuang menundukkan segala rintangan. Bukankah kita akan berangkat menuju ke akhir perbatasan sementara anak-anak kita masih jatuh bangun untuk menapaki jalan kehidupan yang berbeda dengan jalan kita. Cetak anak-anak kita menjadi seorang yang tumbuh kuat dan berani menghadapi dunia, karena deru debu dunia, hanya akan menerima mereka yang kuat dan berani. Sedangkan para pengecut akan tersingkir oleh roda zaman yang tak kenal belas kasihan. Ajari anak-anak kita dengan kalimat tanya “why and what if” untuk mengasah otak mereka. Betapapun remehnya butir nasi yang jatuh, ajarkan kepada mereka betapa besarnya harga nasi yang jatuh itu. Betapa panjangnya perjalanan nasi dari sawah hingga sampai di meja hidangan. Allah sendiri menantang dan karenanya memberi peluang dengan firman-Nya, dalam AlQur’an Surah Ar Rahman ayat 33: “Yaa ma’syarol jinni wal insi inistatho’tum an tanfudzuu min aqthooris samaawaati wal ardli fanfudzuu laa tanfudzuuna illa bi sulthon”. Artinya: (Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan menembusnya kecuali dengan sulthon (kekuatan). Allah telah menebarkan berbagai aset alam yang harus di olah dengan sulthon (kekuatan). Maka latih anak-anak kita untuk menjadi sesosok manusia yang gemar dengan ilmu pengetahuan (scientific power). Tiada hari tanpa dahaga untuk membaca dan menggelorakan rasa ingin tahu, karena segala pintu perbendaharaan langit dan bumi diawali dengan satu kata “Iqra” (bacalah). Hantarkan mereka dengan kata-kata sugesti positif agar ia menjadi manusia yang percaya diri. Latih anak-anak kita dengan permainan sepakbola, agar di dalam hatinya tumbuh perasaan akan pentingnya kehadiran dan kerja sama dengan orang lain. Biarkan anak-anak kita berenangrenang dalam pergaulan sosialnya, agar mereka mengetahui bahwa dunia ini penuh warna. Ia akan belajar bahwa hanya bersamasama dengan orang lainlah dirinya menjadi bermakna. Ia akan mampu menjadi manusia yang toleran dan tahu caranya menghargai pendapat orang lain yang pada akhirnya akan tertanam dalam batinnya “Agree in disagreement” (setuju dalam perbedaan ). Jagalah diri kita dan keluarga kita dari siksa api neraka dengan cara membangun akhlak dan ruhaniah keluarga di rumah. Pilih lingkungan spiritual yang baik karena pengalaman kecil sungguh sangat indah dan paling lama bergayut dalam kenangannya. Pengalaman kecil itulah pelabuhan hatinya ketika ia diterpa badai topan kehidupan. Tunjukkan keteladanan dengan penuh cinta dan sikap yang mulia, perlihatkan kemesraan ayah dan ibu dihadapannya karena mereka adalah perekam yang paling sempurna, peka dan jujur. Jangan pernah sekalipun lupa untuk menyisipkan senandung do’a penuh harapan, untuk mengantarkan anak-anak kita kemasa depan. Ajari mereka do’a ketabahan dan kekuatan dalan Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 80: “Robbi adkhilnii mudkhola shidqin wa akhrijnii mukhroja shidqin waj’allii min ladunka sulthoonan nashiiron” ( Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan pula aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepada ku dari sisi Mu kekuasaan yang dapat menolongku). Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa baik dan buruknya suatu negara tergantung pada kondisi masingmasing keluarga yang ada di negara tersebut. Dan jika kita menghendaki agar masyarakat Indonesia merasakan hidup yang penuh dengan kebahagiaan dan penuh kemakmuran, maka unitunit terkecil dari masyarakat yaitu keluarga harus membangun keluarganya, agar sehat jasmani dan rahani dengan cara menata, menyadarkan dan meningkatkan etos kerja serta kita bangun dengan hati nurani yang jernih dan dengan cinta sejati agar hasilnya dapat bertahan lama serta “assa’adatul hakikiyah” (kebahagiaan hakiki) dapat diraih dan dirasakan bersama. Barometer kebahagiaan bagi seseorang itu meliputi tiga hal yaitu perasaan aman, sehat fisik dan memiliki makanan. Perasaan aman itu dapat kita rasakan jika kebutuhan sandang, pangan, perumahan, pendidikan, spiritual keagamaan dan kesehatan terpenuhi. Maka untuk memenuhi kebutuhan itu semua, masing-masing keluarga harus memberdayakan semua anggota keluarganya secara optimal terhadap potensi yang dimilikinya serta mengaktifkan pencerahan agar memiliki kesadaran akan pentingnya kesehatan dan memiliki daya tahan terhadap problematika kehidupan selanjutnya adalah konstribusi positif kepada lingkungan dapat dipancarkan melalui keluarga ini. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan bimbingan, perlindungan, rahmat dan nikmat Nya kepada kita, menjadikannya keluarga yang kuat dan bermartabat, menjadikan istri kita sebagai calon bidadari surga serta menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang berkualitas, sukses hidupnya dunia dan akhirat. Amin.© Mayor Laut (KH) H. Zainul S.Ag.,M.A. Cakrawala Edisi 413 Tahun 2013 45