Media Informasi Kemaritiman Cakrawala Edisi 412 Tahun 2013 | Page 48
INFO
48
DAERAH LATIHAN DALAM
RANGKA PEMBINAAN
KEMAMPUAN
Berdasarkan pada tujuan
penyesuaian dan penguasaan
medan bagi satuan operasional,
maka
daerah-daerah
latihan
pada hakekatnya sama dengan
area-area
pelibatan
yang
telah dirancang dalam sistem
pertahanan mendalam.
Khusus
untuk
daerah
latihan operasi amfibi dengan
mempertimbangkan
kondisi
geografis dan hidrometeorologi,
maka ditetapkan daerah-daerah
berikut ini sebagai daerah latihan
operasi amfibi :
a.
Pantai Anyer/Banten.
b.
Pantai Tuban/Jatim.
c. Pantai Paiton dan Tanjung
Jangkar/Jatim.
d.
Pantai Singkawang/Kalbar.
e.
Pantai Samalanga/Sabang.
f.
Pantai Amahai/Seram.
g.
Pantai Petukangan/Sulsel.
h.
Pantai Suprau/Sorong.
i.
Pantai Singkep/Pulau Singkep.
Disamping itu, untuk daerah
latihan operasi darat ditetapkan
daerah-daerah sebagai berikut:
a.
Daerah Purbaya.
b.
Daerah Baluran.
c. Daerah Bantilan, Slopeng,
Srengseng.
d.
Daerah Sukorejo.
e.
Daerah Pelabuhan Ratu.
f.
Daerah Sangir Talaud.
g.
Daerah Cilacap.
h.
Daerah Batakan, Takesong.
i.
Daerah Anyer.
j.
Daerah Pulau Laut.
k.
Daerah Anambas.
l.
Daerah Karang Pandan.
KONSEP DASAR PELIBATAN
Sebagai
konsekuensi
dianutnya
sistem
pertahanan
mendalam, maka pukulan terhadap lawan harus telah dapat
diberikan sejauh mungkin di luar
perairan teritorial pada garis
imajiner. Apabila tidak berhasil
maka pukulan dilaksanakan secara
berurutan di pintu-pintu masuk,
wilayah teritorial dan akhirnya di
pantai-pantai pendaratan. Adapun
area-area pelibatan dapat dibagi
sebagai berikut:
a. Di seluruh kawasan laut
ZEEI berdasarkan kemungkinan
arah datangnya ancaman.
b. Pintu-pintu
masuk
laut
teritorial yang meliputi:
1)
Corong Laut
Natuna.
2) Selat Malaka bagian
Utara.
3)
Selat Sunda.
4)
Selat Lombok.
5)
Selat Ombai.
6)
Selat Wetar.
7)
Selat Tores.
8)
Laut Seram.
9)
Laut Halmahera.
10) Laut Sulawesi.
c.
Di wilayah teritorial.
Area-area pelibatan di wilayah
laut teritorial dipilih berdasarkan
pertimbangan
geografis
dan
hidrometeorologi serta perhitungan
taktis dari jenis kesenjataan
yang akan digunakan. Wilayah
yang kedalaman laut dan ruang
manuvranya terbatas, akan lebih
sesuai sebagai area pelibatan
kesenjataan ranjau. Sebaliknya
wilayah laut yang luas dan
dalam akan efektif sebagai area
pelibatan kesenjataan kapal selam
dan
kapal-kapal
permukaan.
Sedangkan wilayah yang terdiri
dari gugusan pulau-pulau sangat
ideal bagi area pelibatan kapalkapal cepat torpedo/rudal.
PANGKALAN PENDUKUNG
SATUAN OPERASIONAL
Pengembangan Armada RI
menjadi tiga Komando Wilayah
Laut (Kowila) berjalan sesuai
dengan tahapan skala prioritas
yang ditetapkan dalam Rencana
Strategis TNI AL hingga 2024 diharapkan dapat berfungsi sebagai
Pangkalan Induk bagi satuansatuan operasional di lapangan.
Sedangkan pangkalan-pangkalan
TNI AL yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia berfungsi sebagai
Pangkalan Operasi.
Terkait pergeseran fokus
kekuatan
kekuatan
Amerika
Serikat ke Asia Pasifik, salah
satunya dengan penempatan
pasukan marinirnya di Darwin
yang berdampak meningkatnya
pelayaran
kapal-kapal
militer
asing, terutama melalui Alur Laut
Kepulauan Indonesia II dan III, dan
hal tersebut secara tidak langsung
akan menjadikan ancaman bagi
Hankamneg khususnya di laut.
Oleh sebab itu kekuatan di dua
komando armada yang telah ada
saat ini dapat dimaksimalkan untuk
dimobilisasi sesuai kebutuhan dan
dengan tercapainya kekuatan
(Minimum
pokok
minimum
Essential Forces atau MEF),
semua
bisa
dikoordinasikan
sesuai dengan kebutuhan dan
tingkat ancaman yang dihadapi,
dan perkembangan lingkungan
strategis yang ada. Meski demikian
pengembangan armada tersebut
diharapkan dapat diwujudkan pada
tahun 2014.
Direncanakan,
Komando
Wilayah Laut Barat (Kowila Barat)
akan berkedudukan di Tanjung
Pinang (Kepulauan Riau), Kowila
Tengah di Makassar (Sulawesi
Selatan) dan Kowila Timur berpusat di Sorong (Papua).
PERKEMBANGAN
LINGKUNGAN STRATEGIS
Bila
dikaitkan
dengan
perkembangan situasi lingkungan
strategis instrument pertahanan
dan potensi konflik di kawasan
yang semakin signifikan juga akan
dapat membawa Indonesia ke
tengah medan sengketa dengan
pihak lain. Khususnya antisipasi
terhadap luapan konflik kepulauan
Spratly di Laut China Selatan.
Tidak akan dapat dihindari bahwa
hal tersebut akan menempatkan
Indonesia tidak hanya sebagai penonton, suka tidak suka Indonesia