Media BPP April 2016 Vol 1 No 1 | Page 31

pas di telinga. Supir angkot melaju dengan kecepatan tinggi, tikungan tajam
Salah satu koleksi dia terabas persis
Museum Negeri Kupang seperti pembalap F1 Rio Haryanto. S e l u r u h penumpang dibuat gelenggeleng kepala atas perilakunya. Pantas saja, di dalam angkot ada besi untuk berpegangan semacam pegangan untuk penumpang bus yang berdiri di Trans Jakarta. Mual, pusing sudah barang tentu. Beruntung perjalanan ke museum dengan angkot itu hanya berlangsung cepat. Kami tiba di sebuah gedung bercat biru bertulis“ Museum”
Penampakan depan sepi, seperti gedung tidak berpenghuni namun ada beberapa kendaraan seperti mobil dan motor terparkir, kami mencoba mencari pintu masuk. Di dalam kami disambut dengan gadis manis berkemeja putih dan celana panjang hitam.“ Silakan masuk,” sapanya.
Kami diperkenalkan dengan penjaga museum senior bernama Agus Rukmana, pria asal Bandung yang sudah 27 tahun menetap di Kupang.“ Di museum sini sangat sepi, bahkan saat liburan pun sepi. Minat warga di sini sangat kurang,” kata pria berkacamata itu.
Menelusuri barisan etalase koleksi Museum Negeri Kupang hanya kami bertiga saja pengunjungnya, kami dikenalkan beragam khas NTT. Pertama soal tradisi meminang di Kupang. Pak Agus bilang, gadis NTT di sini mahal. Untuk meminang gadis di sini, keluarga mempelai pria harus membawakan gading gajah dan moko Makassar. Sama seperti adat di Makassar, moko yang terbuat dari perunggu itu sebagai simbol dari kelas sosial masyarakat. Semakin banyak moko atau gading gajah yang dibawa, semakin tinggi derajat kekayaannya.“ Mungkin karena ada semacam istilah barter dan pertukaran budaya, adat Makassar dengan kami,” kata Agus.
Untuk mendapatkan gading gajah dan moko butuh uang yang tidak sedikit, satu gading gajah bisa Rp. 7 juta. Belum lagi moko yang bisa mencapai belasan juta.“ Biasanya pihak mempelai laki-laki membawa 5 moko yang terbuat dari gading,” urainya.
Karena saking mahalnya mahar, kebanyakan pasangan kawin lari dari NTT. Mereka hanya mengadakan pesta nikah adat saja lalu pulang-pulang sudah membawa anak.“ Kalau orang yang tidak mampu, mereka kawin lari dan kembali setelah punya anak,” cerita pria berkumis itu.
Memasuki ruangan lain, kami menemukan tiga buah guci Tionghoa, satu guci tertutup rapat dan berukuran sebesar pot bunga.“ Di dalam guci itu ada tengkoraknya,” ungkap Agus. Sontak bulu kuduk kami sedikit tegang. Apa benar ada tengkoraknya? Ternyata guci tersebut peninggalan adat Tionghoa untuk mengubur mayat menggunakan guci.“ Waktu pembangunan jalan di sini, warga menemukan guci dari bekas kuburan Tionghoa. Kalau ditanya takut atau tidak, kami di sini tentu takut, di dalamnya masih bersemayam tengkorak kepala manusia. Apalagi kalau waktu sudah malam, jangan ditanya,” ceritanya.
Penasaran benar atau tidaknya, saya meminta pak Agus untuk membukanya, namun sayang kami tidak diperbolehkan. Lalu kami dibawa ke ruangan budaya orang Flores. Katanya, setiap 6 bulan dalam setahun( Juni-Desember), orang Flores memunyai kebiasaan berburu ikan Paus. Ada lebih dari 18 jenis ikan paus di Kepulaun NTT menjadi santapan warga.“ Kalau lagi panen, sehari kami bisa berburu 4-5 ikan paus dengan berat 32 ton,” terangnya.
Mulai dari anak kecil, remaja, dan orang tua berbondongbondong mencicipi daging ikan pemangsa itu. Pada pagi dini hari mereka bersiap ke laut membawa dua kapal dengan jumlah kru 20 awak kapal. Hanya berbekal tombak dan jaring mereka berburu ikan yang bisa menelan seluruh awak kapal tersebut.“ Tidak jarang ada yang mati juga, tapi kita punya trik,” selorohnya.
Biasanya, mereka mengincar bagian kepala ikan paus yang diikat ujungnya dengan tali. Bagi nelayan yang tidak kuat memegang ikatan tombak, maka akan tertarik ke bawah berenang bersama paus yang sekarat itu.“ Kedalaman lautnya tidak ada yang tahu, makanya tidak jarang ada juga yang mati,” katanya.
Mereka mengandalkan kerja sama dan kepercayaan, setelah paus telah klenger dengan serangan tombak di kepalanya, paus mati. Mereka menggeret dengan jaring ke permukaan pantai. Para ibu siap menukarkan sayur mayur belanjaan pasar dengan seonggok daging.“ Kami biasa memasak dengan kuah asin, kalau di Jakarta harga semangkuk kecilnya Rp 500ribu,” imbuhnya.
Sayang sekali, saat ini bulan Maret. Kami tidak sempat menyaksikan langsung serunya berburu ikan paus bersama warga lokal.“ Tapi kami punya aturan, kami tidak boleh memangsa ikan betina yang sedang hamil,” jelasnya.
Begitu kaya lautan Nusa Tenggara Timur itu, bahkan sejak dahulu warga sudah menerapkan budaya itu bertahun-tahun lamanya tak mengurangkan jumlah ikan paus di sana. Namun sayang, jarum jam sudah menunjukan pukul 11.00 siang, pesawat yang kami tumpangi akan berangkat ke Jakarta pukul 13.40, kami harus segera bergegas kembali ke hotel dan bandara. Perjalanan negeri 1001 pulau yang singkat ini memberikan banyak pengetahuan kita akan budaya NTT yang unik, indah, dan kekayaannya yang luar biasa. Semoga sepenggal cerita perjalanan ini, mengingatkan kita akan kekayaan Indonesia yang tiada tara dan menjaga kelestarian Indonesia.( IFR)
Kupang, 16 Maret 2016
VOLUME 1 NO. 1 | APRIL 2016 29